Bab delapan: Pikiran Gadis Muda
Ketika Song Ci tiba di kantor, seluruh staf Departemen Humas Shengshi Entertainment masih lembur. Melihat Song Ci kembali dengan penampilan lelah, mereka semua tampak terkejut.
Konser baru saja usai malam ini, seharusnya ia baru pulang besok...
Song Ci menatap para karyawan yang sibuk bekerja untuknya, sebagian besar dengan lingkaran hitam di bawah mata. Ia melepas masker, lalu membungkuk dengan sungguh-sungguh di hadapan mereka.
“Ini tanggung jawabku. Maaf, dan terima kasih atas kerja keras kalian.”
Para staf saling berpandangan, tak ada yang berkata apa-apa. Song Ci selama ini memang bukan tipe yang banyak menuntut, bersikap ramah pada siapa saja. Kesan mereka terhadapnya juga sangat baik. Melihatnya mengakui kesalahan dengan tulus, simpati mereka pun bertambah. Mereka hanya tersenyum dan berkata tidak apa-apa.
“Song Ci, ke ruang rapat.”
Saat itu, Gu Yan entah muncul dari mana, suaranya dingin dan santai.
Song Ci mengatupkan bibir, jemarinya yang tergenggam di samping tubuh tampak tegang.
Di ruang rapat, Ye Yuxing menegur Song Ci karena meninggalkan para sutradara dan guru musik sendirian, meski juga menyayangkan Song Ci harus repot setelah konser baru saja usai.
Beberapa pemegang saham Shengshi Entertainment yang lain tentu saja menyalahkan Song Ci atas skandal yang terjadi, karena hal itu sangat memengaruhi nama baiknya...
Gu Yan sejak awal hingga akhir tak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menyipitkan mata memandang Song Ci dengan pandangan yang sulit ditebak.
“Luo Heng bukan masalah besar. Yang utama adalah Shen Jiayi. Sekarang dia artisnya Xingguang Entertainment, dan Xingguang tidak akan melewatkan kesempatan ini!”
Ye Yuxing memegang berkas di tangannya, menganalisis situasi dengan tenang.
“Kita dan Xingguang sudah lama bermusuhan, Song Ci, kali ini kau benar-benar ceroboh!”
Seorang pemegang saham yang sudah berusia lanjut membuka suara, nadanya penuh amarah.
Mendengar itu, Gu Yan menoleh sekilas dengan tatapan dingin, lalu mencemooh, “Uang yang dihasilkan Song Ci dari konser kali ini bahkan cukup untuk membuat Tuan Qian bermewah-mewahan cukup lama. Kau punya hak apa untuk menegurnya?”
“Aku...”
Tuan Qian wajahnya langsung merah padam mendengar sindiran itu.
“Cukup...” Gu Yan duduk tegak, melirik Song Ci di sampingnya, “Manajer Ye, besok siapkan solusi untukku. Departemen Humas juga tidak boleh berleha-leha, cari semua aib Luo Heng selama bertahun-tahun ini. Aku tidak ingin lagi melihat orang semacam itu di lingkaran kita...”
Saat bos besar sudah bicara, tentu tak ada yang berani membantah. Satu per satu menutup mulut dengan enggan.
Rapat baru berakhir pukul lima pagi. Ruang rapat yang luas hanya tersisa Song Ci dan Gu Yan.
Song Ci menjepit sebatang rokok di antara jari, wajahnya tampak lelah dan putus asa, mata indahnya dipenuhi keletihan.
Gu Yan juga menyalakan rokok, menggantungkannya di bibir. Suaranya yang dingin terdengar di telinga Song Ci, “Apa yang sebenarnya terjadi?”
Song Ci menatapnya, kening berkerut. “Ini memang salahku...”
“Kau tahu aku tidak menanyakan itu!”
Gu Yan memotong ucapan Song Ci, nadanya mulai menunjukkan kemarahan. Ia mematikan rokok, lalu mencengkeram lengan Song Ci erat-erat, “Bukankah sudah kuperingatkan untuk menjauh dari Rong Jin? Hah?”
Lengan Song Ci terasa sakit dicengkeram, ia mengernyit, menepis tangan Gu Yan, “Ini bukan urusanmu. Aku akan mengurusnya sendiri.”
“Kau mau urus bagaimana? Menemui Rong Jin? Kalian bahkan baru bertemu beberapa kali, kenapa kau sebegitu percayanya padanya?”
Dada Gu Yan naik turun, jelas sekali ia marah.
Namun Song Ci tidak mengerti bagian mana yang membuat Gu Yan marah. Dulu saat ia mengumumkan hubungan dengan Luo Heng, Gu Yan tak pernah bereaksi seperti ini.
Song Ci menahan semua perasaannya, hanya mematikan rokok dan meletakkannya di asbak. “Maaf, lain kali tidak akan terulang.”
Melihatnya kembali bersikap seperti itu, bara api di hati Gu Yan makin membara. Pada siapa pun, ia selalu bersikap begini, dan Gu Yan tak pernah jadi pengecualian...
“Pulanglah, kau pasti lelah. Istirahatlah beberapa hari.”
Gu Yan tidak bicara lagi padanya, perlahan berbalik membelakangi Song Ci.
Song Ci menatapnya beberapa saat tanpa mengerti, lalu mengambil ponsel dan pergi.
Sesaat kemudian, Gu Yan tiba-tiba berbalik, menyapu semua dokumen di atas meja hingga berserakan ke lantai.
Ia menggertakkan gigi, menyebut satu nama di sela-sela napas, “Rong Jin!”
Song Ci tiba di rumah saat fajar mulai menyingsing. Ia benar-benar kelelahan, begitu sampai langsung membaringkan diri di ranjang, berniat tidur sampai puas.
Namun baru saja ia memejamkan mata, ponsel yang tergeletak di samping berbunyi. Song Ci kesal, menutupi kepala dengan selimut, enggan menjawab.
Melodi lembut pun mengalun di kamar—musik yang ia mainkan sendiri, sebuah lagu kecil yang menenangkan. Bahkan jika dijadikan alarm, tidak akan membuat siapa pun merasa terganggu.
Ponsel itu berhenti beberapa saat, namun belum lama hening, suara itu kembali terdengar.
Song Ci, jengkel, menarik kepala dari balik selimut, meraih ponsel, dan tanpa melihat siapa peneleponnya langsung menjawab, “Semoga saja ini urusan penting!”
Yang menjawabnya hanya keheningan. Kesabaran Song Ci terbatas. Ia mengacak-acak rambut, suaranya serak, “Cepat bicara!”
“Nona Song, ini Rong Jin.”
Suara lembut dan hangat terdengar dari ponsel. Nadanya tenang, membawa nuansa halus layaknya lelaki sastrawan dari Jiangnan.
Song Ci sontak membuka mata, rasa lelah mendadak sirna. Pandangannya sedikit panik, bahkan posisi tidurnya pun ia rapikan. “Tuan Rong?”
Di kantornya, Rong Jin mendengar perubahan nada suara gadis itu, tersenyum tipis sambil memutar-mutar pulpen mahal di tangannya.
Ia tertawa kecil, “Ya, ini aku.”
Sudah sebulan Song Ci tidak bertemu Rong Jin. Dibilang rindu mungkin berlebihan, tapi memang sesekali ia teringat pada pria ramah dan santun itu...
“Kau... ada perlu apa?”
Song Ci bertanya pelan, diam-diam menyesali nada ketusnya tadi. Apakah Rong Jin akan mengira ia berwatak buruk di luar panggung?
“Perihal rumor di internet, aku ingin membicarakannya denganmu. Kau sedang istirahat? Kalau begitu, besok saja...”
“Tidak! Aku baru bangun!”
Song Ci sendiri tak tahu kenapa ia berbohong. Ia hanya tahu, ia sangat ingin bertemu Rong Jin...
Mengapa ia bisa begitu merindukan seseorang yang baru ditemui tiga kali, ia pun tak mengerti jawabannya.
Di seberang sana, pria itu tampak tertegun sejenak, lalu tertawa pelan, “Baik, akan kukirim sopir menjemputmu.”
Song Ci mengiyakan tanpa sadar, lalu menatap layar ponselnya yang padam, bibir merahnya perlahan terkatup rapat.
Kantor Presiden W&L.
Rong Jin meletakkan ponsel di samping, teringat ekspresi Song Ci yang sedikit kesal saat mengangkat telepon tadi. Ia merasa geli.
Padahal hanya gadis muda, namun berusaha tampil dewasa. Rong Jin tersenyum tipis, jelas suasana hatinya sedang baik.
Teman bisnis yang datang menemuinya terkejut melihat Rong Jin, sang bos besar, tersenyum seperti itu.
Itu benar-benar Rong Jin? Benarkah?
Ia meneliti Rong Jin ke atas dan ke bawah, ekspresinya seperti melihat hantu. “Bos besar, bos besar, bosan menjadi pria berhati dingin, kini berubah citra? Kenapa senyum-senyum begitu? Seram!”
Mendengar itu, Rong Jin meliriknya sekilas, senyumnya lenyap, namun nada bicara tetap tenang, “Tuan Shen, ada keperluan apa?”
Tuan Shen, “.....”
Sialan, Tuan Shen.
Shen Bai jadi heran. Padahal hubungan mereka sudah sangat dekat, bahkan melewati maut bersama, tapi pria ini masih saja bersikap sopan, seolah mereka orang asing!
Memang benar, Rong Jin sejak lahir adalah orang yang berhati dingin!
Shen Bai hanya bisa menggelengkan kepala, menatapnya dengan rasa kecewa.