Bab Seratus Dua Puluh Delapan: Keracunan di Kuil Leluhur Keluarga Song
Panggung di lokasi cukup tinggi. Karena Song Ci memiliki koreografi menyanyi dan menari, beberapa penari latar harus berdiri di belakangnya.
Song Ci mengenakan sweter kasual dan celana ketat, dengan topi hitam di kepalanya, membuatnya terlihat sangat keren.
Lagu yang dibawakan Song Ci adalah lagu yang santai namun penuh dengan perasaan. Lagu itu ia tulis dan ciptakan sendiri. Begitu dirilis saat itu, lagu tersebut langsung meledak di internet; sekarang, baik tua maupun muda bisa menyenandungkan bait dari lagu itu.
Selain itu, niat awal lagu ini adalah untuk Gu Yan. Salah satu liriknya, "Aku mengangkat gelas merayakan salju dan rembulan, tersenyum bersyukur seumur hidup ini ada kau yang menemani," bahkan menjadi sangat populer di luar lingkaran penggemarnya.
Alasan terbesar Song Ci memilih lagu ini adalah karena para penggemarnya. Banyak penggemar yang mengatakan ingin mengenang kembali lagu tersebut, itulah sebabnya ia menyetujuinya.
Song Ci berdiri di tengah panggung dengan *ear-monitor* terpasang, lalu memberikan isyarat kepada teknisi suara di samping.
Suara seruling yang merdu pun terdengar. Song Ci berdiri di antara para penari latar saat lampu menyorot dari atas ke bawah. Ia mengangkat tangannya dengan lembut, dan para penari di sekelilingnya mulai bergerak. Tarian itu klasik, sarat dengan nuansa kuno.
Song Ci tidak ikut menari, ia hanya menatap ke arah penonton dengan sorot mata yang dalam, bibir merahnya terbuka perlahan...
Semua orang tahu kemampuan Song Ci, tetapi mendengar versi langsungnya terasa berbeda. Begitu lirik pertama dinyanyikan, seolah-olah semua orang kembali ke beberapa tahun yang lalu.
Seorang gadis memeluk gitar, menyanyikan lagu ini di atas panggung.
Tiba-tiba, suara kecapi dan piano terdengar, dentuman suara kuno dan modern berpadu, bagian klimaks lagu pun tiba.
Song Ci mulai menari mengikuti gerakan para penari latar.
"Tak ada hubungannya dengan orang lain, kau menungguku kembali."
"Aku mengikat rambutku, kau bilang terlalu berantakan."
"Kau mengecup ujung rambutku, tertawa menyuruhku menghangatkan arak menunggu kepulanganmu."
"Aku mengangkat gelas meminum salju dan rembulan, tersenyum bersyukur seumur hidup ini ada kau yang menemani."
"..."
Song Ci melakukan gerakan seperti sedang meminum arak sambil menatap Gu Yan, menyunggingkan senyum dingin di bibirnya. Wajahnya setengah tertutup, matanya tampak sayu...
Gu Yan memandangi gadis di atas panggung itu, jakunnya bergerak naik-turun, tangannya mengepal erat.
"Kau tanya kenapa aku tidak melepaskannya selama bertahun-tahun ini? Inilah alasannya..." ucap Gu Yan.
Zou Yan menatap gadis yang bersinar di atas panggung itu, dan tiba-tiba ia memahami obsesi Gu Yan selama bertahun-tahun ini.
"Benar juga, dia menulis lagu untukmu. Saat itu matanya hanya tertuju padamu. Siapa pun yang pernah dipandang dengan tatapan seperti itu olehnya, pasti tidak akan sanggup melepaskannya..." ujar Zou Yan.
Gu Yan menatap Song Ci, kilatan kejam dan nekat melintas di matanya. "Jadi... tidak apa-apa jika dia ingin bermain-main, tapi nantinya dia harus kembali dengan patuh. Rong Jin tidak cocok untuknya. Orang yang aku pelihara, harus menjadi milikku..."
Sifat posesif yang jarang terlihat melintas di mata Gu Yan.
Setelah lagu selesai, Song Ci menerima air yang diberikan Xiao Yun dan berjalan menghampiri mereka.
"Bagaimana?" tanyanya.
Gu Yan dan Zou Yan saling berpandangan, lalu bertepuk tangan bersamaan. "Luar biasa, perasaan dalam lagu itu digambarkan dengan sangat mendalam," kata Zou Yan.
Song Ci tertawa kecil dan menepuk bahunya pelan. "Persahabatan yang tulus patut untuk dikenang. Lagu ini tidak hanya kutulis untuk Gu Yan, tapi juga untuk persahabatan dalam hatiku."
Song Ci menjelaskan makna liriknya dengan sungguh-sungguh.
Tatapan Gu Yan meredup. "Begitukah? Apa kau lapar?" Suaranya terdengar sedikit lebih dingin.
Siapa yang sudi berteman dengannya!
"Tidak terlalu, aku sudah makan tadi," jawab Song Ci. Ia kemudian meminum airnya. Begitu menelan seteguk, ia merasa ada yang tidak beres dan langsung memuntahkannya.
"Ada apa?" Zou Yan mengerutkan kening.
Song Ci menatap air itu, kemarahan terpancar dari matanya. "Ada sesuatu di dalamnya..."
"Apa kau sempat menelannya? Cepat, gunakan airku untuk berkumur!" Gu Yan terkejut dan segera memberikan air minumnya yang baru diminum setengah kepada Song Ci.
Song Ci tidak sempat berpikir panjang dan langsung meminumnya dari mulut botol.
"Xiao Yun!" teriak Zou Yan.
"Ada apa? Ada apa?" Xiao Yun yang sedang berdiskusi dengan sutradara segera berlari menghampiri.
"Di mana kau menaruh botol air ini?" tanya Zou Yan dengan nada dingin.
Xiao Yun sedikit bingung, namun ia menjawab dengan jujur, "Diberikan oleh seorang staf."
"Apa kau bodoh? Kau langsung memberikannya kepada A-Ci hanya karena orang lain yang memberi? Apa kau tidak memeriksanya dulu?" emosi Zou Yan meledak.
Xiao Yun yang tiba-tiba dibentak langsung berkaca-kaca. "Zou Yan..."
Zou Yan bahkan tidak meliriknya, ia menepuk punggung Song Ci dengan cemas. "A-Ci, apa kau baik-baik saja..."
"Uhuk-uhuk, huek—"
Song Ci mulai terbatuk hebat, ia sempat menelan sedikit...
"Itu lem..."
Suara Song Ci menjadi parau. Hati Gu Yan terasa dingin. "Zou Yan, tetaplah di sini dan cari pelakunya. Aku akan membawa Song Ci ke rumah sakit..."
"Baik..." Zou Yan menatap dengan serius, lalu menoleh ke arah orang-orang yang masih berlatih di kejauhan dengan tatapan tajam.
Xiao Yun melihat sikap Zou Yan, hatinya terasa sesak...
"Maafkan aku... Kak Ci..."
"Apa gunanya minta maaf? Apa kau tidak punya otak?"
Zou Yan memelototinya, giginya gemeretak karena marah. Xiao Yun hampir menangis.
Gu Yan tidak peduli dengan hal lain, ia menggandeng tangan Song Ci dan berlari keluar.
Di kejauhan, Zhao Kejia melihat kondisi Song Ci yang kesakitan dengan senyum sinis yang terdistorsi. *Bukan kah kau suka menyanyi? Akan kubuat kau tidak bisa menyanyi seumur hidupmu...*
"Segel tempat ini! Cari rekaman CCTV-nya! Hari ini tidak ada satu pun dari kalian yang boleh pergi!" teriak Zou Yan murka.
Sutradara tidak tahu apa yang terjadi dan datang dengan hati-hati untuk bertanya, namun ia langsung dibentak balik oleh Zou Yan.
"Sialan, kalau terjadi sesuatu pada Song Ci, kariermu sebagai sutradara tamat sampai di sini!" Zou Yan benar-benar marah.
Semua orang di lokasi menahan napas, ketakutan hingga tidak berani mengeluarkan suara. Meskipun sutradara kesal karena proses syuting terganggu, ia hanya bisa menelan amarahnya.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, Song Ci terus-menerus mual, air mata fisiologis mengalir dari matanya.
"Kita akan segera sampai di rumah sakit, bertahanlah," ujar Gu Yan sambil memacu mobil dengan kecepatan maksimal.
"Uhuk... Zhao Kejia dan Qin Qingqing... mereka mencurigakan, jangan biarkan Zou Yan membiarkan mereka pergi..." suara Song Ci kini terdengar sangat parau.
"Aku tahu, jangan bicara lagi!"
Karena pelaku berniat mencelakai Song Ci, lem yang disiapkan pasti beracun dan sangat berbahaya bagi pita suara. Song Ci hanya menelan sedikit saja sudah seperti ini, jika ia benar-benar meminum seteguk besar...
Maka ia kemungkinan besar harus mengucapkan selamat tinggal pada panggung selamanya.
Di Rumah Sakit Ren'an, Song Ci segera menjalani prosedur cuci lambung. Dokter berdiri di depan pintu dengan ekspresi serius. "Ini bukan lem biasa, ini adalah etilen glikol, atau disebut glikol! Cairan ini tidak berwarna dan tidak berbau, bisa larut dalam cairan apa pun. Zat ini sangat beracun, dosis mematikannya hanya 1,5 gram. Gejala kematiannya adalah kejang-kejang di seluruh tubuh dan gagal jantung..."
"Apa ada cara untuk mengatasinya!" Gu Yan merasa ngeri mendengar penjelasan itu.
Dokter yang merupakan seorang pakar senior itu menghela napas sambil membetulkan kacamatanya. "Kami harus menyuntikkan etanol untuk menggantikan etilen glikol. Untungnya jumlah yang tertelan sedikit..."
Keringat dingin membasahi punggung Gu Yan. Jika saja Song Ci benar-benar meminum seteguk besar air itu, yang ia lihat sekarang mungkin hanyalah mayat Song Ci...
"Binatang!" Gu Yan meninju dinding dengan keras. Tepat pada saat itu, ponsel di saku baju Song Ci berdering. Gu Yan mengambil ponselnya, tertera nama kontak 'Sayang'...
Ia terdiam sejenak sebelum mengangkatnya.
"Halo." Suaranya juga terdengar serak.
Rong Jin di seberang sana jelas tidak menyangka Gu Yan yang akan mengangkat teleponnya, suaranya seketika menjadi dingin. "Di mana Song Ci?"