Bab Delapan Belas: Sepupu
Namun semua itu sudah tidak ada hubungannya dengan Song Ci. Beberapa hari ini ia hanya berdiam diri di rumah, fokus berkarya, sama sekali tidak peduli pada apa pun yang terjadi di luar.
Pertengahan Desember, salju pertama musim dingin turun di Ibu Kota. Seluruh kota tertutup salju tebal, seolah-olah semalam telah kembali ke masa dua ribu tahun silam.
Song Ci pun kembali pada rutinitas pekerjaannya. Ia tak lagi mengganggu Rong Jin, nama di daftar panggilan telepon pun tak pernah berdering lagi.
“Song Ci, malam ini ada acara penganugerahan. Persiapkan dirimu, nanti aku dan Xiao Yun bersama penata busana akan langsung ke sana.”
Duduk di sofa apartemen, Song Ci memutus sambungan telepon dan melemparkan ponsel ke samping.
Sudah setengah bulan ia tak bertemu Rong Jin...
Song Ci sendiri tidak tahu apa yang ia rasakan, hanya saja hatinya terasa kosong. Setelah hari itu, mungkinkah Rong Jin menganggap dirinya terlalu sembrono...
Ada sedikit penyesalan di matanya, menyesali kenapa ia minum pada malam itu...
Ponsel yang tergeletak di sampingnya mendadak berdering. Song Ci buru-buru meraihnya dan mengernyitkan alis saat melihat nama yang tertera.
“Ada apa?”
Suaranya terdengar agak terkejut.
“Ya, hari ini aku pulang ke negara.”
Sebuah suara laki-laki muda terdengar dari seberang, jernih dan sejuk, sangat mirip suara seseorang dalam ingatannya.
Alis Song Ci berkedut. Ia menjauhkan ponsel dan melirik kalender—benar saja, hari yang ditandai itu telah tiba.
“Jam berapa pesawatmu?”
“Pukul lima sore.”
Percakapan mereka sangat singkat, seperti dua orang asing.
“Baik, aku mengerti.”
Lalu sambungan telepon diputus begitu saja dari seberang.
Song Ci, “...”
Sifatnya, entah meniru siapa.
Tak lama kemudian, telepon kembali berdering. Kali ini Ye Yu Xing mengabarkan bahwa malam ini ia diminta menyanyikan lagu pembuka.
“Baik, aku mengerti.”
Lalu ia langsung memutuskan telepon itu juga...
...
Bandara Internasional Ibu Kota
Song Ci mengenakan masker dan kacamata hitam, penampilannya amat mencolok.
Bandara sangat ramai, dan ia bisa saja dikenali kapan saja.
Song Ci iseng memainkan ponselnya. Tiba-tiba, seolah merasa sesuatu, ia mengangkat kepala dan menatap dari balik kacamata hitam. Di antara kerumunan, seorang pemuda mengenakan mantel hitam, lehernya dililit syal, kakinya bersepatu bot Martin, sekilas tampak seperti tokoh utama drama Korea.
Sudut bibir Song Ci terangkat membentuk senyum, matanya pun ikut hangat. Ia melangkah mendekat, menatap pemuda itu lekat-lekat, “Hm, kamu tambah tinggi lagi.”
Pemuda itu tampak keren, setengah wajahnya tersembunyi di balik syal, hanya sepasang mata indah yang terlihat. “Aku sudah delapan belas, kalau masih nggak tambah tinggi, itu namanya sakit.”
Song Ci, “...”
Baiklah.
Ia mengambil koper pemuda itu, mendorong naik kacamata hitamnya, lalu berkata, “Kita nggak langsung pulang. Aku harus menghadiri acara penghargaan, aku jadi penyanyi tamu.”
Tatapan pemuda itu jatuh padanya. Sebenarnya itu tatapan biasa, tetapi Song Ci merasa ada hawa dingin di dalamnya.
“Aku ikut juga?”
Song Ci mengangguk, menatapnya dengan sungguh-sungguh, “Temani aku, boleh?”
Tatapan mereka bertemu lagi. Setelah lama, barulah pemuda itu mengangguk pelan.
Song Ci seolah menghela napas lega, menggandengnya menuju tempat parkir.
Pemuda itu adalah sepupunya, putra paman kandungnya. Paman dan bibi Song Ci sudah lama tiada, selama ini pemuda itu belajar di luar negeri, dan Song Ci-lah yang membiayainya.
Sepanjang perjalanan pulang, Song Ci menyetir sambil mengajak ngobrol. Mereka sudah lama tak bertemu, obrolan pun terasa hambar.
“Kamu sudah bertahun-tahun nggak pulang, negara ini sudah banyak berubah. Ada tempat yang ingin kamu kunjungi? Beberapa hari ini aku tak ada pekerjaan, bisa menemanimi jalan-jalan.”
Pemuda itu menatap ke luar jendela, menggeleng, “Setelah Tahun Baru aku akan pindah dan lanjut sekolah di sini.”
Tatapan Song Ci terhenti. Ia menoleh, “Kapan kamu putuskan?”
Pemuda itu menoleh padanya, “Belum lama. Pengajuan pertukaran pelajar sudah turun, aku lebih cocok di sini.”
Song Ci mengetatkan bibir, genggaman di setir makin kuat, “Kamu harusnya diskusi dulu denganku. Ayahmu...”
“Itu keinginan beliau, bukan keinginanku...”
Pemuda itu memotong ucapannya.
Song Ci tak berkata apa-apa lagi, hanya fokus menyetir.
Setelah beberapa saat hening, Song Ci menepikan mobil, menoleh padanya dengan tatapan serius, “Xie Ran, aku tahu kamu sudah dewasa, tapi soal pindah sekolah seperti ini, sebaiknya dibicarakan dengan keluarga...”
“Keluarga? Aku mana punya keluarga...”
Nada pemuda itu terdengar sedikit sinis.
Begitu kata-kata itu keluar, Xie Ran sendiri menyesalinya, tapi nasi sudah jadi bubur. Ia menggigit bibir, menoleh ke luar.
Ada hawa dingin mengendap di hati Song Ci. Ia berkedip, lalu berusaha menyalakan mobil lagi.
Entah kenapa, mobil itu seperti sengaja melawan, tak mau menyala.
Song Ci menghela napas panjang, membuka pintu lalu turun.
Xie Ran menunduk, kepalan tangannya mengencang.
Senja sudah turun, suhu semakin dingin. Song Ci yang mengenakan mantel berdiri di depan mobil, menelpon Xiao Yun, tapi sebelum sambungan terhubung, sebuah Bentley hitam sudah berhenti di depannya.
Orang yang sudah beberapa bulan tak ditemuinya, kini tiba-tiba muncul di hadapannya.
“Nona Song...”
Suaranya lembut dan ramah, benar-benar seorang lelaki santun—siapa lagi kalau bukan Rong Jin.
Mata Song Ci membelalak. Ia tak menyangka akan bertemu Rong Jin dalam situasi seperti ini. Dengan kikuk, ia menganggukkan kepala, “Tuan Rong...”
“Wah, kau Song Ci, ya! Benar-benar Song Ci!”
Sebelum Rong Jin sempat bicara, seorang gadis dari kursi belakang sudah lebih dulu berseru, ekspresi wajahnya benar-benar penuh kegembiraan.
“Kamu Song Ci, Kak! Aku lihat Song Ci asli! Aaahhh—”
Song Ci, “...”
“Ranran, tenanglah.”
Rong Jin menatap gadis itu memperingatkan. Biasanya gadis itu pasti sudah tak berani bersuara, tapi kali ini ia bertemu idolanya sendiri, jadi benar-benar tak bisa tenang.
“Tidak mau, aku harus kasih tahu teman-temanku, mereka pasti iri setengah mati, hahaha.”
Rong Jin mengusap pelipis, menoleh pada Song Ci, “Maaf, anak ini terlalu dimanjakan di rumah.”
Song Ci tersenyum tipis, “Sangat imut.”
Rong Ranran, “Aaaah, suamiku memujiku imut!”
Rong Jin menghela napas, lalu menengok ke arah mobil di belakang Song Ci, “Mobilnya rusak?”
Song Ci menoleh ke belakang dan mengangguk kikuk, “Entah kenapa tidak mau menyala.”
Tanpa pikir panjang, Rong Jin langsung hendak melepas sabuk pengaman dan turun memeriksa, tapi detik berikutnya, Rong Ranran menahannya.
“Suamiku, kau kan harus menghadiri acara penghargaan juga, waktunya sudah mepet. Kakakku juga nggak bisa. Kalau kau tak keberatan, biar kakakku saja yang mengantarmu, ya?”
Tatapan gadis itu berbinar penuh semangat.
Jelas demi mengejar idola, ia tega ‘menjual’ kakaknya sendiri.
Rong Jin pun mengangkat alis, menatap Song Ci dan bertanya pelan, “Waktumu mepet, ya?”
Song Ci mengangguk, tapi ia tak ingin merepotkan Rong Jin.
“Masuklah, nanti aku panggil orang untuk menarik mobil.”
Rong Jin tersenyum, senyumnya yang lembut sedikit mengurangi rasa canggung di hati Song Ci.
Waktu sudah larut, jika ia masih menunggu mobil diperbaiki, ia benar-benar bisa terlambat. Song Ci pun menggigit bibir, lalu kembali ke mobil, “Xie Ran, kita pindah mobil.”
Xie Ran, “...”
...