Bab Empat Puluh Tujuh: Tunduklah Kepadaku
“Semua serang bersama-sama!”
Setelah dibantu berdiri oleh Su Yan, pria bertopeng merah itu memasang ekspresi muram di wajahnya dan melambaikan tangan ke arah yang lain.
Seketika, pria bertopeng merah itu mendahului melepaskan gelombang api, sebuah kobaran api panjang menyerupai ular api yang melesat lurus ke arah Wang Fan.
Melihat pria bertopeng merah telah memulai serangan, orang-orang di sekitar langsung tidak ragu lagi.
“Bunuh dia!”
“Gunakan kekuatan kemampuan kalian, jika kita menyerang bersama, kita pasti bisa membunuhnya!”
Seruan bergema dari orang-orang, lalu dengan bersatu padu mereka melancarkan serangan ke arah Wang Fan.
Si Rambut Kuning yang sudah bangkit meluncurkan sambaran petir, sementara Su Yan di sampingnya memancarkan cahaya ungu dari matanya untuk mengerahkan kemampuan pesona. Sisanya meluncurkan berbagai serangan unik seperti paku es dan duri tulang ke arah Wang Fan.
“Oh, ternyata semuanya adalah pengguna kekuatan supranatural!”
Wang Fan memusatkan perhatiannya, dan serangan di hadapannya mendadak melambat seperti kura-kura. Hanya wanita dengan mata berpendar ungu itu yang mampu memberikan sedikit pengaruh padanya, itu pun tidak terlalu berarti karena kesenjangan kekuatan yang terlampau jauh.
“Untuk sekarang, jangan dibunuh dulu!”
Melihat begitu banyak pengguna kemampuan, hati Wang Fan tergerak. Ia memang sudah berniat untuk membangun sebuah kekuatan, dan para manusia super ini adalah kandidat yang tepat.
Serangan dari orang-orang itu bahkan tidak mampu menyentuh sehelai pun rambut Wang Fan. Dengan langkah kaki ringan bak bayangan hantu, ia tiba di hadapan pria bertopeng merah dalam sekejap. Sebelum pria itu sempat bereaksi, Wang Fan sudah mencengkeram lehernya dan bergerak cepat untuk menepis seluruh serangan yang datang dari yang lain.
Si Rambut Kuning baru saja melihat Wang Fan mencengkeram leher pria bertopeng merah dan berlari ke hadapannya. Ia ingin menghindar, namun sama sekali tidak bisa melepaskan diri dari Wang Fan. Dengan sebuah tendangan ringan, si Rambut Kuning langsung terpelanting jauh.
“Sial, kenapa kau selalu mengincar Diriku!”
Si Rambut Kuning memegangi perutnya sambil menopăng tanah dengan satu tangan, lalu tiba-tiba ia menyadari bahwa semua orang mengalami nasib yang sama sepertinya, terlempar akibat tendangan. Entah mereka tidak sempat bereaksi atau tidak bisa menghindar, yang jelas tanpa terkecuali, semuanya bernasib sama seperti si Rambut Kuning—darah mengalir dari sudut bibir mereka saat terbaring di tanah.
“Su Yan, kau tidak apa-apa?!”
Baru saja melihat sang dewi ikut tertendang, si Rambut Kuning merasa sangat iba di dalam hatinya. Mengabaikan rasa sakit di tubuhnya, ia buru-buru menghampiri. Namun, Su Yan justru menatap Wang Fan dengan penuh kebencian. Bahkan sebelum ia membangkitkan kekuatannya, ia sudah menjadi seorang wanita jelita yang dipuja, di mana para pria akan mendekatinya bagaikan anjing. Tak disangkanya, Wang Fan justru menendangnya hingga muntah darah tanpa perasaan.
“Bum!”
Pria bertopeng merah yang tadi digunakan oleh Wang Fan sebagai perisai untuk menahan serangan kini telah babak belur dan muntah darah secara serampangan. Wang Fan melemparkannya begitu saja ke hadapan yang lain. Pria bertopeng merah itu bahkan tidak mampu menegakkan pinggangnya, terbaring di tanah sambil terus memuntahkan darah dari mulutnya.
“Sekumpulan pecundang, masih mau melawan?”
Wang Fan menyapu pandangannya ke arah kerumunan, lalu berkata dengan ekspresi dingin.
Semua orang menundukkan kepala, tidak berani membalas tatapan Wang Fan. Satu-satunya yang masih mendongakkan kepala adalah Su Yan.
“Neng, kau tidak terima?”
Wang Fan terkekeh dingin. Sosoknya melesat bagai hantu ke hadapan Su Yan dan langsung mengangkat tubuh wanita itu.
“Kau bukan seorang pria, bahkan wanita pun kau pukul!”
Su Yan memiliki wajah yang putih bersih bak pahatan, menatap Wang Fan dengan sejumput kebencian di sepasang matanya.
“Plak!”
Dengan satu tangan memegang Su Yan, tangan Wang Fan yang satu lagi langsung mendarat telak di wajah rupawan wanita itu. Suara tamparan berdengung nyaring, meninggalkan bekas telapak tangan berwarna kemerahan di pipi Su Yan yang mulus dan lembut.
“Apa yang kau lakukan?! Berani sekali kau memukul dewiku, aku akan bertarung denganmu—”
Si Rambut Kuning yang tadinya bernali ciut dan menunduk, mendadak bangkit berdiri dengan geram saat melihat sang dewi dipukul.
“Hm?”
Sebuah tatapan dingin nan menusuk dari Wang Fan membuat si Rambut Kuning langsung ciut seketika.
“Kau...!”
Mata indah Su Yan memerah, kelopak matanya dipenuhi butiran air mata yang berkaca-kaca.
“Hmph!”
Wang Fan tidak memedulikannya lagi dan langsung melemparkannya begitu saja ke lantai.
Pinggul Su Yan yang sintal membentur lantai dengan keras, membuatnya mengerang kesakitan. Sambil mengusap bokongnya, ia mendongak menatap Wang Fan dengan sisa-sisa rasa takut di dalam hatinya. Ia tahu pria ini sama sekali tidak mengenal kata belas kasihan. Jika ia berani melawan lagi, pria itu tidak akan ragu untuk menghabisinya.
“Kalian masih ingin melawan?”
Wang Fan tiba-tiba bertanya dengan nada tegas, membuat sekujur tubuh mereka bergidik ngeri, kecuali pria bertopeng merah yang masih terbaring sambil memuntahkan darah.
“Aku beri kalian dua pilihan. Pertama, aku bunuh kalian semua; kedua, enyah dari sini sekarang juga dan jangan pernah biarkan aku melihat kalian lagi; ketiga, takluk kepadaku dan bantu aku mengelola Pangkalan Keluarga Li. Perlakuan dan status kalian sebelumnya tidak akan berkurang sedikit pun,” ucap Wang Fan dingin.
Orang-orang yang terbaring di tanah tidak langsung menjawab, wajah mereka dipenuhi keraguan. Mereka tidak memiliki hubungan emosional yang mendalam dengan Li Biesheng—selain pria bertopeng merah itu. Mengganti tuan bukanlah hal yang terlalu sulit bagi mereka, hanya saja tidak ada yang berani maju duluan, sehingga yang lain pun ragu-ragu untuk bergerak.
“Siapa pun yang ingin tunduk padaku, berdirilah di belakangku. Yang tidak bersedia, cepat enyah dari sini! Aku hanya memberi kalian waktu tiga menit. Begitu waktu habis, mereka yang tidak pergi dan tidak berdiri di belakangku akan kuanggap sebagai musuhku. Kalau begitu, aku akan mengabulkan keinginan kalian dan mengirim kalian ke alam baka!”
Wang Fan menyapu pandangannya ke sekeliling sebelum berbicara dengan tenang.
Tidak lama kemudian, orang pertama melangkah maju. Dia adalah si Rambut Kuning.
“Aku! Kak Fan, aku bersedia mengikutimu!”
Sebenarnya si Rambut Kuning tadinya ingin kabur, namun ia takut Wang Fan mengingkari janji dan membunuhnya di tempat. Selain itu, ia berpikir bahwa bahkan jika ia kabur, ia pun tidak punya tempat tujuan, sementara Wang Fan menjanjikan fasilitas dan perlakuan yang sama seperti sebelumnya. Maka, dengan tekad bulat, ia berlari ke belakang Wang Fan dan bersiap untuk mengabdikan diri.
“Bagus, luar biasa. Siapa namamu?”
Melihat si Rambut Kuning menjadi orang pertama yang menyerah, Wang Fan mengangguk puas. Orang ini tahu bagaimana membaca situasi.
“Namaku Huang Renxuan, Kak Fan!”
Melihat tatapan Wang Fan, si Rambut Kuning langsung membungkuk hormat sambil tersenyum penuh sanjungan.
“Baiklah, mulai sekarang urusan keamanan pangkalan, para pengguna kekuatan, dan para pengawal, semuanya berada di bawah komando,mu! Kau ditunjuk sebagai Kapten Pengawal!” ucap Wang Fan perlahan.
Memberikan cambuk harus diimbangi dengan memberikan umpan manis. Karena bajingan ini adalah orang pertama yang menyerah, wajar jika ia diberi sedikit keuntungan.
“Terima kasih, Kak Fan! Aku pasti akan membantumu mengelola pangkalan ini dengan baik!”
Mendengar dirinya dijadikan kapten pengawal oleh Wang Fan, si Rambut Kuning merasa sangat gembira luar biasa. Di era kiamat seperti ini, kekuatan pertahanan adalah hal yang paling krusial. Penunjukan dirinya sebagai kapten pengawal secara tidak langsung menjadikannya orang nomor dua di pangkalan, berada di bawah satu orang namun di atas ribuan orang. Ia belum pernah merasakan kedudukan setinggi itu sebelumnya.
“Huang Renxuan saja sudah menjadi kapten pengawal, mengikuti pria ini sepertinya tidak akan merugikan!”
“Betul, lagipula kita sudah tidak punya tempat tujuan, lebih baik ikuti saja dia!”
“Benar!”
Orang-orang mulai berbisik-bisik dan berbondong-bondong berjalan ke belakang punggung Wang Fan. Pada akhirnya, hanya menyisakan pria bertopeng merah yang masih terbaring muntah darah dan Su Yan yang memiliki kemampuan pesona.
“Apakah kau ingin menjadi musuhku? Tidak takut kupukul sampai mati dengan satu tamparan?” ejek Wang Fan.
“Dewi Su, cepatlah kemari! Lagipula hubungan kita dengan Li Biesheng hanya sebatas kerja sama, kita tidak perlu sampai mempertaruhkan nyawa untuknya!”
Orang-orang yang sudah berdiri di belakang Wang Fan mulai memanggil Su Yan.
Si Rambut Kuning bahkan dengan hati-hati berlari keluar dari belakang Wang Fan untuk menghampiri Su Yan, bermaksud menariknya pergi.
Su Yan melepaskan genggaman tangan si Rambut Kuning, lalu menggigit bibirnya pelan seraya berkata, “Aku mau tunduk kepadamu, asal kau berjanji tidak akan memaksaku untuk... itu denganmu!”
“Dan juga, kau harus membereskannya!” Su Yan menunjuk ke arah pria bertopeng merah yang terbaring di tanah dengan ekspresi bercampur aduk. Sebelumnya, Chen Wenbin selalu mendambakannya, dan untung saja ada pria bertopeng merah yang melindunginya sehingga Chen Wenbin tidak pernah berhasil menyentuhnya.
“Selama dia sendiri yang mau, aku sangat menyambutnya! Mengenai dirimu, asalkan kau tidak datang merayuku saja sudah cukup,” jawab Wang Fan sambil tersenyum.
Mendengar itu, rona kemerahan muncul di wajah Su Yan. Ia melirik Wang Fan sekilas, namun akhirnya bisa bernapas lega, lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke belakang Wang Fan.