Jilid Pertama Bab 37 Tidak Layak Menjadi Orang Tua
Halaman (1/3)
“Masih berani bilang kau tidak punya siapa-siapa di luar sana?” Suara Liu Xiaohong bergetar karena marah. “Kalau memang tidak ada siapa-siapa, coba jelaskan dari mana asal makanan yang kita makan hari itu!”
Tak lama kemudian, dari rumah Qiu Jianming terdengar suara benda-benda dibanting dan dihancurkan. Sepertinya Liu Xiaohong sedang melampiaskan amarah dengan melempar barang.
Su Qing mengernyitkan dahi, lalu mendorong lengan Jiang Xingzhou. “Xingzhou, pergi bujuk mereka. Kalau terus bertengkar seperti ini, tidak akan ada yang bisa hidup tenang.”
Lorong apartemen bertingkat itu sama sekali tidak kedap suara. Jika mereka dibiarkan terus bertengkar, semua orang tidak akan bisa beristirahat dengan tenang.
Jiang Xingzhou mengangguk, lalu berbalik dan mengetuk pintu rumah Qiu Jianming.
Su Qing masuk ke rumah dan menunggu.
Semula ia mengira setelah menjelaskan semuanya kepada Liu Xiaohong, masalah itu akan selesai.
Namun suara dari rumah sebelah justru semakin keras, seolah-olah hendak merobohkan atap.
Meskipun terhalang dua pintu, Su Qing masih dapat mendengarnya dengan sangat jelas.
Liu Xiaohong berkata, “Baiklah, Qiu Jianming! Bukankah kau hanya pergi makan di rumah Komandan Batalion Jiang? Kenapa harus menyembunyikannya dariku? Atau menurutmu aku ini perempuan yang berpikiran lebih sempit daripada ujung jarum?”
Qiu Jianming menjawab, “Terserah apa yang ingin kau pikirkan. Aku malas menjelaskannya kepadamu!”
Setelah itu, terdengar suara mangkuk dan sumpit dibanting bertubi-tubi.
Saat Su Qing sedang mempertimbangkan apakah ia perlu membantu melerai mereka, Jiang Xingzhou kembali. Di belakangnya ada Qiu An’an kecil.
Qiu An’an menangis tersedu-sedu. Begitu melihat Su Qing, ia berlari dengan kaki kecilnya dan langsung memeluknya.
“Kak Su Qing, Ayah dan Ibu bertengkar. An’an takut!”
Melihat anak itu menangis begitu menyedihkan, Su Qing menenangkannya cukup lama hingga tangisnya mereda.
Jiang Xingzhou berkata, “Kak Liu sedang sangat marah dan tidak mau mendengarkan penjelasan siapa pun. Komandan Qiu takut An’an terkena imbasnya, jadi ia menyuruhku membawanya kemari lebih dulu.”
Dahi Su Qing kembali berkerut.
Liu Xiaohong dan Qiu Jianming memang bertengkar sepuas hati, tetapi Qiu An’an-lah yang paling malang. Kedua matanya bahkan sudah bengkak karena menangis.
Su Qing menengadah melihat jam dinding. Ternyata sudah pukul dua belas siang, waktu makan.
Ia masuk ke dapur untuk memasak sambil tetap memperhatikan suara dari rumah seberang.
Brak!
Dari luar terdengar suara pintu dibanting. Jelas sekali pasangan suami istri itu sudah kehilangan kendali karena emosi.
Sesaat kemudian, suara Liu Xiaohong yang melengking dan menusuk telinga menggema di sepanjang lorong.
“Qiu Jianming, aku mau bercerai darimu!”
Qiu Jianming membalas dengan marah, “Kalau begitu, cerai saja! Aku sudah muak denganmu! Siapa pun yang hari ini tidak jadi bercerai, dialah kura-kura pengecut!”
Suara mereka semakin lama semakin menjauh, lalu perlahan menghilang dari lorong.
Su Qing menghela napas dan melanjutkan memasak.
Qiu An’an masih libur musim dingin, jadi harus ada seseorang yang terus mengawasinya.
Halaman (1/3)
Di luar sedang dingin, sehingga Su Qing tidak mungkin membawanya keluar. Sore itu, ia hanya bisa membiarkan Jiang Xingzhou pergi seorang diri membeli perlengkapan pernikahan.
Untungnya, Qiu An’an anak yang penurut dan mengerti keadaan. Ia sama sekali tidak merepotkan.
Su Qing hanya menceritakan dua kisah pendek sebelum berhasil menidurkannya.
Setelah anak itu terlelap, Su Qing mengambil kertas naskah, lalu duduk di tepi ranjang dan mulai menulis.
Satu jam kemudian.
Su Qing meregangkan tubuh dan menggerakkan persendiannya. Ia bermaksud membangunkan Qiu An’an.
Tidur siang terlalu lama tidak baik bagi anak-anak karena dapat mengganggu tidur mereka pada malam hari.
Su Qing berjalan ke sisi ranjang dan dengan lembut menepuk pipi kecil Qiu An’an.
Dengan suara lembut, ia memanggil, “An’an, waktunya bangun. Kau sudah tidur selama satu jam.”
“Hmm...” Wajah kecil Qiu An’an berkerut. Ia perlahan membuka mata dan berkata dengan lesu, “Kak, An’an merasa tidak enak badan.”
Melihat wajah Qiu An’an yang memerah, Su Qing mendapat firasat buruk.
Ia mengulurkan tangan untuk menyentuh dahi Qiu An’an. Kulit di bawah telapak tangannya terasa sangat panas.
“An’an, katakan kepada Kakak, bagian mana lagi yang terasa tidak nyaman?” tanya Su Qing.
Qiu An’an menunjuk tenggorokannya. “Bagian sini juga sakit sekali. Menelan ludah saja sakit.”
Setelah berkata demikian, ia menggaruk lengannya dengan tangan kecil.
Su Qing mendekat untuk melihat. Di lengan anak itu tampak beberapa lepuhan merah yang sudah pecah karena digaruk.
Wajah Su Qing berubah. Ia membantu Qiu An’an duduk.
“An’an, cepat bangun. Kakak akan membawamu ke rumah sakit militer!”
Anak ini terkena cacar air!
Melihat Qiu An’an tidak bertenaga, Su Qing menggendongnya menuruni tangga.
Agar pengobatan tidak terlambat, Su Qing hampir berlari sepanjang jalan menuju gerbang kompleks perumahan keluarga militer.
Prajurit penjaga yang masih muda itu mengenali Su Qing. Melihatnya menggendong seorang anak dengan keringat membasahi dahi, ia segera menghampiri dan bertanya, “Kak, apa yang terjadi?”
Su Qing terengah-engah menjawab, “Anak ini terkena cacar air dan demamnya sangat tinggi. Ia harus segera dibawa ke rumah sakit militer.”
Mendengar itu, prajurit penjaga langsung mengernyitkan dahi dan buru-buru menghentikan sebuah jip untuknya.
Prajurit yang berada di dalam jip itu baru saja kembali dari tugas. Setelah mendengar bahwa seorang anak sedang sakit, ia segera menginjak pedal gas dan membawa mereka ke rumah sakit militer secepat mungkin.
Dokter yang menangani Qiu An’an adalah seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun. Wajahnya serius, dan sorot matanya kepada Su Qing mengandung teguran.
Dengan cepat ia memastikan bahwa anak itu terkena cacar air, yang kemudian memicu pneumonia ringan.
Kalau mereka datang sedikit lebih lambat, nyawa anak itu akan berada dalam bahaya.
Halaman (2/3)
“Sebagai ibunya, bagaimana kau mengawasi anak ini?” sembur dokter perempuan itu sambil menulis resep. Ia menatap Su Qing dengan tidak senang. “Demamnya sudah mencapai tiga puluh sembilan derajat, dan tubuhnya dipenuhi begitu banyak cacar air. Apa kau sama sekali tidak melihatnya?”
Su Qing menundukkan kepala menerima teguran itu tanpa membantah.
Saat ini, yang paling penting adalah menurunkan demam anak tersebut. Ia menganggap teguran dokter itu tidak perlu ditanggapi.
Pada saat itulah Jiang Xingzhou tiba dengan tergesa-gesa di rumah sakit.
Ia kebetulan melihat istrinya sedang ditegur oleh dokter perempuan itu.
Jiang Xingzhou mengernyitkan dahi dan melangkah maju hendak menjelaskan untuk Su Qing, tetapi Su Qing menarik lengan bajunya, memberi isyarat agar ia tidak berbicara.
Melihat Jiang Xingzhou datang, dokter perempuan itu semakin membelalakkan mata.
“Kau ayah anak ini? Anakmu sakit dan kau bahkan tidak tahu? Bagaimana kalian berdua menjalankan peran sebagai orang tua?”
“Dokter, ini memang kesalahan kami. Setelah ini saya pasti akan lebih memperhatikannya!” kata Su Qing. “Tolong segera berikan obat untuk anak ini.”
Melihat sikap Su Qing yang tulus mengakui kesalahan, dokter itu mengangguk puas. Suaranya pun terdengar sedikit lebih lembut.
“Anak ini sedang demam tinggi dan sudah mengalami pneumonia. Ia perlu menjalani infus. Kalian urus pendaftaran rawat inap terlebih dahulu.”
Mendengar bahwa Qiu An’an harus dirawat di rumah sakit, Su Qing merasa serba salah.
Ia dan Jiang Xingzhou bukanlah orang tua Qiu An’an. Mereka tidak membawa kartu keluarga, sehingga tidak dapat mengurus pendaftaran rawat inap.
Kalau mereka pulang sekarang, sudah pasti tidak akan sempat. Terlebih lagi, belum tentu Liu Xiaohong dan Qiu Jianming berada di rumah.
“Jiang Xingzhou, bagaimana ini?” Su Qing begitu cemas hingga air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “An’an sedang kesakitan. Ia harus segera dipasangi infus!”
Jiang Xingzhou berpikir sejenak, lalu berkata dengan suara berat, “Aku mengenal seorang dokter di sini. Dia bisa membantu.”
Jiang Xingzhou segera berlari pergi. Lima menit kemudian, ia kembali dengan membawa selembar surat keterangan.
Tak lama kemudian, proses rawat inap Qiu An’an pun selesai.
Seorang perawat datang membawa alat suntik untuk memasang infus.
Melihat Qiu An’an terbaring di ranjang dengan wajah merah padam, hati Su Qing terasa sangat sakit.
Biasanya, anak yang terkena cacar air tidak perlu dirawat inap atau diberi infus. Mereka cukup meminum obat.
Namun, menurut dokter perempuan tadi, cacar air Qiu An’an sudah terlalu lama dibiarkan hingga akhirnya memicu pneumonia.
Dalam hati, Su Qing memaki Liu Xiaohong dan Qiu Jianming yang hanya sibuk bertengkar sampai tidak memedulikan anak mereka.
Sekarang, satu pun dari mereka tidak terlihat.
Mereka benar-benar tidak pantas menjadi orang tua!
Su Qing kembali menghela napas dan berdoa agar Qiu An’an segera sembuh.
Halaman (3/3)