Bab 39 Menyelidiki Sun Wukong
Sun Wukong tidak memperdulikan berbagai tatapan, lalu menengadah ke arah atas balairung dan menjawab pertanyaan Kaisar Giok tadi, "Paduka, mohon kali ini bermurah hati, berikan saja jabatan tinggi yang benar-benar memiliki kekuasaan."
Kaisar Giok berkata, "Kukira kau masih ingin memelihara kuda."
Sun Wukong terkekeh, "Memelihara kuda juga tak apa, hanya saja aku khawatir kandang kuda istana terlalu sempit, tak cukup menampung dewa sebesar aku."
Kaisar Giok tiba-tiba tertawa, "Meski kau sudah menjadi Buddha, tetap saja kau monyet nakal, namun karena kau ingin mengabdi di istana langit, tak ada alasan bagiku untuk menolak. Hanya saja, saat ini semua jabatan penting sudah terisi, mengangkatmu menjadi pejabat tinggi tidak memungkinkan. Untuk sementara, kau akan mengawasi Divisi Sembilan Cahaya Bintang atas nama Buddha Penakluk Peperangan."
Mendengar ini, wajah para dewa kembali berubah. Terutama para Dewa Unsur Air, Kayu, Api, dan lain-lain yang termasuk dalam Sembilan Cahaya Bintang, beberapa bahkan menunjukkan kerutan jelas di dahi mereka. Dewa Bintang Emas pun terperanjat, sebab posisinya di langit sebenarnya adalah Dewa Unsur Emas, termasuk jajaran Sembilan Cahaya Bintang.
Sembilan Cahaya Bintang terdiri dari lima Dewa Unsur yang menguasai emas, kayu, air, api, dan tanah, ditambah Dewa Bulan, Dewa Matahari, serta Dewa Ketu dan Rahu. Semuanya menempati posisi tinggi dan memiliki kekuasaan nyata. Maka mengawasi Divisi Sembilan Cahaya Bintang berarti memegang kekuasaan besar.
Sun Wukong juga menyadari hal ini, mendengar ucapan Kaisar Giok, ia pun girang bukan main, menggaruk-garuk kepala, "Terima kasih, Paduka! Terima kasih! Namun karena ini adalah jabatan resmi di istana langit, mohon Paduka mengubah sedikit titah tadi, menjadi atas nama Raja Agung Setara Langit untuk mengawasi Divisi Sembilan Cahaya Bintang."
Kaisar Giok kembali tak senang, "Sidang selesai!"
Selesai berkata, ia langsung beranjak pergi. Sun Wukong menggaruk wajahnya, "Masih marah rupanya?"
Dewa Bintang Emas maju ke depan, menghela nafas, "Yang Mulia, Paduka adalah penguasa tertinggi tiga dunia, setiap titahnya adalah hukum, mana bisa diubah seenaknya?"
Sun Wukong baru sadar, ia memang lupa akan hal itu. Ia segera membungkuk, "Terima kasih atas pengingatnya. Hanya saja, aku baru saja kembali berdinas di istana langit, belum punya tempat tinggal yang tetap, kau..."
Belum selesai bicara, suara Kaisar Giok terdengar dari belakang, "Kembalikan saja kediaman Raja Agung Setara Langit milikmu!"
Wajah Sun Wukong makin sumringah, itu berarti diam-diam permintaannya untuk tinggal di istana langit dengan nama Raja Agung Setara Langit disetujui. Para pejabat dan jenderal dewa di balairung pun bisa memahami makna ini, masing-masing menampakkan ekspresi rumit.
Siapa sangka, kejadian hari ini akhirnya berujung seperti ini? Meski semuanya merasa tercengang, pada akhirnya banyak juga yang mengucapkan selamat kepada Sun Wukong. Sisa dewa-dewa yang sudah terang-terangan bermusuhan, hanya menyimpan dendam dalam hati dan pergi tanpa sepatah kata pun.
Di tengah hiruk-pikuk itu, hanya Buddha Matahari Agung yang tetap tenang meninggalkan balairung. Namun, ia tidak segera kembali ke Gunung Suci, melainkan menuju Alam Baka, menemui Bodhisatwa Raja Penjaga Alam Kematian.
Di tepi neraka, di Istana Awan Zamrud, keduanya duduk berhadapan. Buddha Matahari Agung bertanya, "Bodhisatwa, bagaimana Buddha Penakluk Peperangan bisa menelusuri Raja Qin Guang?"
Raja Penjaga berkata, "Dia telah lebih dulu meminta izin kepada Kaisar Agung Alam Baka, jadi aku hanya bisa mempersilahkannya memeriksa Buku Kehidupan dan Kematian manusia."
Buddha Matahari Agung mengerutkan kening, "Kalau begitu, dia pasti sudah tahu tentang perubahan kekuasaan di Alam Baka."
Raja Penjaga menjawab, "Itu bukan rahasia besar, siapa pun yang cukup jeli akan mengetahuinya, jadi tidak mempengaruhi situasi secara keseluruhan."
Buddha Matahari Agung mengangguk, lalu berkata lagi, "Selain itu, selama kunjunganku ke istana langit kali ini, aku melihat sikap Buddha Penakluk Peperangan terhadap ayah dan anak Ao Shun agak aneh."
Raja Penjaga tampak terkejut, "Ayah dan anak Ao Shun? Apa dia sudah tahu urusan yang kau perintahkan pada Ao Shun?"
Buddha Matahari Agung menjawab, "Aku tidak tahu. Meski Ao Shun juga menyerahkan diri kali ini, dia hanya mengaku bersekongkol dengan Raja Iblis Pengacau Dunia, menindas Gunung Buah Bunga, tidak menyebut bahwa itu atas perintahku. Aku tadinya ingin menguji Buddha Penakluk Peperangan, berharap ia berbelas kasih dan memaafkan Ao Shun. Aku sudah menduga ia takkan mengampuni Ao Shun, tapi tak kusangka ia malah merekomendasikan Ao Moang menjadi Raja Naga Laut Utara, memberi harapan baru pada naga laut utara. Ao Shun pun sangat berterima kasih padanya. Ini membuatku sama sekali tak bisa memastikan apakah ia tahu hubunganku dengan Ao Shun."
Raja Penjaga mengerutkan alis, "Aku perlu tahu, apa yang sebenarnya terjadi di Balairung Lingxiao kali ini."
Barulah Buddha Matahari Agung menceritakan seluruh pengalamannya selama berada di istana langit. Setelah mendengarkan, Raja Penjaga merenung, "Memperjuangkan harta keluarga naga Sungai Jing untuk Raja Naga Janggut Merah, merekomendasikan Ao Moang sebagai Raja Naga Laut Utara, Ao Lie sebagai Raja Naga Laut Barat. Semuanya naga, terlalu kebetulan... Harus diselidiki, apa yang berubah dalam hubungan dia dengan para naga."
Buddha Matahari Agung mengangguk, "Memang harus diselidiki."
Sementara itu, Dewa Bintang Emas belum juga meninggalkan Balairung Lingxiao ketika menerima panggilan dari Kaisar Giok. Ia buru-buru menuju Balairung Terang yang masih berada di Istana Miluo, tempat peristirahatan Kaisar Giok. Sepanjang perjalanan, ia pun berpikir, mengapa paduka memanggilnya saat ini?
Ia sadar, pasti ada hubungannya dengan Raja Agung Setara Langit. Tiba-tiba mengangkat jabatan begitu tinggi, jelas bukan keputusan mendadak. Namun, apa sebenarnya yang terjadi, ia harus merenung dengan saksama, setidaknya perlu gambaran dalam hati. Tak boleh datang menghadap tanpa persiapan, itu bukan sikap seorang abdi setia.
Sepanjang jalan hingga di depan Balairung Terang, barulah Dewa Bintang Emas menghentikan pikirannya. Ia merapikan pakaian, memasang senyum hormat namun tetap menenangkan, lalu membungkuk dan melangkah kecil ke dalam balairung.
Ia melihat Kaisar Giok telah berganti pakaian panjang putih kebiruan, bersandar santai di dipan lembut, menikmati tarian dan musik para bidadari. Melihat itu, Dewa Bintang Emas diam-diam menghela napas lega, lalu bersujud di depan dipan, "Hamba, menghadap Paduka."
Kaisar Giok bahkan tak menoleh, langsung berkata, "Selidiki apa yang terjadi antara Sun Wukong dan bangsa naga."
Dewa Bintang Emas cepat-cepat menjawab, "Paduka, hamba memang hendak melaporkan hal itu."
Kaisar Giok tidak terkejut, hanya melambaikan tangan. Para bidadari penari dan pemusik pun segera mundur.
Barulah Dewa Bintang Emas melanjutkan, "Ketika hamba turun ke dunia untuk memanggil Raja Agung Setara Langit, kebetulan bertemu dengan Bodhisatwa Guangli Ao Lie, Raja Naga Laut Selatan Ao Qin, dan Raja Naga Janggut Merah Sungai Kuning. Hamba mencermati, sikap mereka kepada Sun Wukong terlalu hormat... lebih tepatnya, kagum, berbeda dengan rasa hormat biasa. Padahal, selama perjalanan ke Barat dahulu, Raja Agung memang punya banyak urusan dengan para naga, tapi tidak pernah terjadi seperti ini."
Kaisar Giok duduk tegak, jari-jarinya mengetuk pelan meja di depannya, termenung sejenak, lalu berkata, "Selidiki dengan seksama."
Dewa Bintang Emas tak berkata apa-apa lagi, langsung menerima perintah dan pergi. Ia paham, perintah menyelidiki dan menyelidiki dengan seksama punya arti yang berbeda.
Sementara itu, Sun Wukong dengan mudah kembali ke kediaman Raja Agung Setara Langit di sebelah kanan Kebun Persik Abadi. Ini adalah kali pertama ia kembali ke sana sejak membuat kekacauan di istana langit. Ia pun tak menyangka, kediaman itu masih bertahan hingga sekarang.
Namun, itu bukan hal terpenting saat ini. Setelah berhasil kembali menjadi pejabat di istana langit, satu hal pertama yang ia pikirkan adalah: dengan nama apa ia harus memeriksa Buku Kematian Bintang Selatan di Departemen Enam Selatan, agar bisa menemukan lebih banyak petunjuk tentang kasus Raja Naga Sungai Jing.
Yang cukup membuatnya pusing, sepertinya bagaimana pun ia memeriksa, orang pasti akan curiga pada motifnya.