Bab 49 Berpura-pura Menjadi Pengikut
"Jangan banyak bicara, Tuan Muda Song ingin menemuimu. Cepat kemari, atau tanggung sendiri akibatnya."
Pihak di seberang jelas sudah kehabisan kesabaran dan langsung menutup sambungan telepon.
Barulah Chen Hao dengan santai mengemudikan mobilnya ke sana. Begitu melangkah masuk, ia langsung melihat dua orang dengan wajah muram menatapnya.
Song Yunfei, yang awalnya sempat merasa sedikit tertarik pada Chen Hao, kini seketika kehilangan minat setelah melihatnya secara langsung. Video yang diunggah orang ini pasti menggunakan fitur *beauty filter* secara maksimal.
Pria gemuk berkulit gelap di hadapannya ini terlihat mirip seperti teripang. Selain tidak memiliki cacat, dia benar-benar hanya tampak hitam dan kekar, yang langsung melunturkan segala bayangan Song Yunfei.
Melihat pria seperti itu sekilas saja sudah membuatnya merasa mual.
Melihat Song Yunfei hanya meliriknya sekilas lalu mengalihkan pandangan, Chen Hao akhirnya bisa bernapas lega.
Sebelum datang, Chen Hao sudah mencari tahu. Semenjak mengalami impotensi, Song Yunfei menjadi seorang yang menyimpang. Dia bahkan memelihara pemuda-pemuda berwajah lembut, mendandani mereka seperti wanita, dan membiarkan mereka menjadi mainannya untuk bersenang-senang.
Bahkan ada seseorang yang, demi melepaskan diri dari penindasan tersebut, lebih memilih tertular penyakit agar terbebas dari siksaannya.
Chen Hao sama sekali tidak berniat untuk mengalami nasib buruk pada bagian belakang tubuhnya.
"Bocah, kau berani menyamar sebagai anak buahku, apa kau sudah bosan hidup?"
"Tidak, Tuan. Ini karena reputasi Tuan Muda Song begitu hebat, makanya saya lancang meminjam nama Anda sebentar."
"Heh, aku tidak peduli. Karena kau sudah mengaku sebagai anak buahku, pilihannya hanya ada dua: mati di sini untuk meredam gosip di luar, atau benar-benar menjadi orangku." Song Yunfei memancarkan niat membunuh di matanya.
Chen Hao segera tersenyum tegang. "Tuan Muda Song, jangan berkata begitu. Jika ada perintah, katakan saja. Saya pasti akan mengabdikan diri untuk Anda dengan segenap jiwa raga."
Melihat ekspresi takut mati Chen Hao, Song Yunfei baru merasa puas. Bangsawan generasi kedua seperti ini memang sangat licik. Benar dugaannya, anak haram memang tidak berkelas dan tidak tahan gertakan.
"Bagus. Mengenai toko yang kauakuisisi sebelumnya, karena jalur Fang Heng tidak bisa ditempuh, kenapa kau tidak mencari jalan lain?"
Chen Hao berpura-pura bingung. "Eh, saya kurang paham. Bisakah Tuan Muda Song memperjelasnya?"
"Aku yang akan menyediakan dana, kau tinggal pergi dan beli saham dari para mitra kerja sama mereka."
Chen Hao mendadak tampak paham. "Ini ide yang bagus! Tapi mereka pasti akan menaikkan harga. Sepertinya saya tidak punya uang sebanyak itu untuk membelinya."
Song Yunfei melemparkan sebuah kartu ke hadapan Chen Hao. "Di dalam ini ada tiga ratus juta. Kau harus mengakuisisi saham lebih dari lima puluh persen."
"Eh, Tuan Muda Song sebenarnya bisa membelinya sendiri. Kalau saya yang memegang uangnya untuk Anda belikan, bukankah itu malah merepotkan?"
"Tidak perlu menggunakan namaku, pakai namamu saja tidak masalah. Aku ingin saat mereka *go public*, kau sudah bisa memegang kendali sebagai pemegang saham mayoritas."
Kedua mata Chen Hao langsung berbinar-binar. "Wah, hal sebaik ini bisa jatuh ke kepala saya? Kak Song, Anda tidak sedang mempermainkan saya, kan?"
"Tentu saja tidak. Sekali terucap, perkataan seorang kesatria tidak bisa ditarik kembali. Lagi pula, jika kau berani bermain-main, melenyapkanmu dan keluarga Chen adalah hal yang sangat mudah bagiku." Song Yunfei merasa mengendalikan keluarga Chen adalah hal yang sangat sepele baginya.
Bagaimanapun juga, banyak mitra bisnis keluarga Chen yang juga bekerja sama dengan mereka. Begitu keluarga Song mengeluarkan titah, para mitra itu pasti tidak akan berani memasok barang ke keluarga Chen, dan pada saat itulah keluarga Chen akan hancur lebur.
Chen Hao membungkuk sambil tersenyum menjilat. "Tentu saja! Saya ini hanyalah seekor semut kecil, tentu saja bisa Anda remas kapan pun Anda senang!"
"Baguslah kalau begitu. Ingat, aku tidak peduli cara apa yang kaugunakan untuk mengakuisisi saham itu, aku hanya ingin melihat hasilnya. Paham?"
Chen Hao langsung mengangguk. "Saya jamin instruksi Tuan Muda Song akan terlaksana."
Song Yunfei sangat menyukai sanjungan itu. Tanpa mempersulitnya lagi, dia membiarkannya pergi.
"Kau ikut bersamanya. Selama beberapa hari ke depan, tidak usah datang melapor kepadaku. Awasi dia agar tidak berani berulah dan menghambur-hamburkan uangku sembarangan."
"Baik, Tuan Muda."
Anak buah itu segera menyusul dan naik ke dalam mobil Chen Hao.
"Hei, Kak, sebenarnya apa maksudmu?"
"Tentu saja untuk mengawasimu. Meskipun jumlah uang ini tidak berarti apa-apa bagi Tuan Muda Song, aku tidak boleh membiarkanmu menipunya."
"Baiklah. Omong-omong, siapa nama Kakak? Nanti Anda tinggal duduk manis dan saksikan saja semuanya beres." Ucap Chen Hao sambil menyodorkan sebatang rokok.
Anak buah itu sangat menikmati sanjungan tersebut. "Panggil saja aku Kak Zhi. Kau urus saja urusanmu dengan benar, aku pasti tidak akan mempersulitmu. Nanti aku juga akan membantumu melaporkan jasamu kepada Tuan Muda Song."
"Baiklah, Kak Zhi. Saya sudah membuat janji dengan beberapa teman untuk membantu saya menyelidiki situasi, supaya nanti lebih mudah menentukan siapa saja yang harus diajak bertemu. Nanti saya akan kabari Kak Zhi, jadi Kakak tidak perlu ikut lelah bepergian bersama saya."
Namun, Kak Zhi malah meliriknya sinis. "Jangan banyak bicara, cepat selesaikan urusan ini dengan sigap. Melihat sifatmu yang begitu ceroboh, apakah orang-orang yang kaukenal itu bisa diandalkan?"
Melihat dirinya tidak bisa melepaskan diri dari pengawalan pria itu, Chen Hao terpaksa tersenyum paksa sambil menelepon anak buahnya untuk mengajak ketemuan di sebuah kelab malam.
Tentu saja, ia juga memanggil beberapa wanita pendamping minum. Setelah pura-pura mabuk, ia pergi ke toilet untuk mengirimkan pesan pemberitahuan kepada Fang Heng.
Pihak Fang Heng lantas mulai memberitahu seluruh mitra kerja sama, meminta mereka untuk bekerja sama mementaskan sebuah sandiwara. Tentu saja, mereka tidak akan dibiarkan bekerja secara cuma-cuma, bahkan bisa meraup keuntungan lebih banyak.
Para mitra bisnis itu pun menyambutnya dengan senang hati.
"Bisa jelaskan secara lebih rinci kerja sama seperti apa ini?"
"Ada seseorang bermarga Chen yang beberapa waktu lalu menghancurkan toko kita. Tapi dia masih belum puas dan berniat membuat kekacauan lagi. Aku khawatir mereka pasti akan mendatangi kalian untuk membeli saham."
"Tentu saja, aku tidak berniat menghalangi kalian mencari kekayaan. Uang yang mereka berikan pasti tidak sedikit. Jika kalian tertarik, silakan jual saja saham kalian."
"Mana boleh begitu? Kita semua ini adalah orang-orang yang menjunjung tinggi reputasi. Kerja sama yang sudah disepakati dengan baik, bagaimana mungkin dijual kepada pihak lain?"
Fang Heng tersenym. "Tidak apa-apa. Silakan tandatangani dokumen yang seharusnya, silakan jual bagian yang ingin dijual. Kelebihan keuntungan itu akan menjadi bagian kalian, dan saat pembagian kuota distribusi nanti, kami juga akan memberikan jatah untuk kalian semua."
"Benarkah ada keberuntungan semacam ini? Bukankah ini sama artinya dengan tidak mengeluarkan modal tapi tetap mendapat untung, lalu masih bisa mendapatkan hak distribusi secara cuma-cuma?"
Fang Heng mengangguk. "Namun, saham serta dana yang sudah kalianinvestasikan di sini tidak akan ditarik kembali, karena transaksi kami di sini semuanya berjalan normal. Tentu saja, kalian juga boleh tidak menjualnya, tapi aku menduga pihak sana pasti akan mempersulit kalian."
Setelah mendengarkan penjelasan itu, sebagian dari mereka bersikeras untuk tidak menjualnya, sementara yang lain merasa bimbang. Namun, Fang Heng tidak ingin campur tangan dalam keputusan mereka dan langsung pamit pergi.
Semua ini sudah dipikirkan matang-matang oleh Shen Mu. Para pebisnis ini bukanlah berasal dari Kota Jiangnan.
Sekuat apa pun pengaruh para keluarga bangsawan Kota Jiangnan, mereka tidak akan bisa melangkahi batas wilayah untuk mengurusi urusan di luar daerah, jadi mereka tidak perlu takut menyinggung keluarga Song.
Selain itu, mereka hanya bekerja sama dengan keluarga Chen dan menipu Chen Hao, serta berpura-pura tidak tahu apa-apa tentang keterlibatan keluarga Song.
Mereka sangat memahami betapa besar potensi yang dimiliki oleh Pil Yueyong dan Salep Fuyan.
Begitu kerja sama terjalin dan produk mulai dipasarkan, komisi dari distribusi saja sudah cukup membuat mereka meraup kekayaan. Naik ke kapal ini saat harganya masih murah adalah satu-satunya cara untuk mendulang untung besar.
Terlebih lagi, para pedagang dari luar daerah yang datang untuk bekerja sama di Kota Jiangnan ini sudah sering diintervensi oleh keluarga Song, diperas, dan keuntungan mereka dirampas. Mereka sebenarnya menyimpan amarah namun tidak berani bersuara.
Kini, jika ada kesempatan untuk membuat pihak keluarga Song merasa kesal, mereka tentu akan sangat senang melakukannya, bahkan jika pihak keluarga Song mengetahuinya di kemudian hari.
Selain itu, para pedagang kecil ini telah mempertaruhkan seluruh harta benda mereka untuk investasi ini.
Reputasi keluarga Song begitu busuk. Alih-alih berharap mendapatkan kekayaan dari tangan keluarga Song, lebih baik melakukan investasi yang membumi untuk meraup sedikit keuntungan.
Menjadi anjing suruhan keluarga Song atau menjadi pengusaha kaya raya mandiri, orang normal pasti tahu mana yang harus dipilih.