Bab 2: Waktu Tidak Banyak
Begitu mendengar ucapan itu, segenap dendam yang membara dalam hati seketika sirna. Tanpa ragu sedikit pun, Shen Mu segera bergegas keluar dari pabrik tua itu dan menghentikan sebuah mobil di pinggir jalan untuk menuju rumah sakit.
“Pak, tolong cepat ke Rumah Sakit Utama Selatan, saya sedang terburu-buru.”
Saat itu, mata Shen Mu memerah, bahkan napasnya pun terasa memburu. Mendengar desakannya, sang sopir segera menginjak gas dan melaju menuju Rumah Sakit Utama Selatan.
Di perjalanan menuju rumah sakit, barulah Shen Mu menyadari tubuhnya telah mengalami perubahan luar biasa. Selama bertahun-tahun, penyakit tersembunyi akibat mengantar makanan tanpa henti kini lenyap sama sekali. Lebih mengejutkan lagi, dalam benaknya muncul sebuah ilmu misterius.
Ilmu itu mencakup pengobatan, bela diri kuno, feng shui, dan masih banyak lagi, seolah segala yang dibutuhkan telah tersedia. Namun, yang paling luar biasa adalah sebuah ajaran berjudul “Tiga Kesucian Kaisar Giok”. Konon, jika berhasil dikuasai hingga puncak, seseorang bisa mencapai kesempurnaan dan menembus batas dunia. Namun Shen Mu kini baru di tahap awal, entah masih berapa jauh menuju puncak.
Semua pengetahuan dalam ilmu itu tampak tersegel, hanya bisa terbuka bila emosinya benar-benar terguncang hebat. Saat ia masih mencerna memori di pikirannya, taksi pun berhenti tepat di depan Rumah Sakit Utama Selatan.
Setibanya di rumah sakit, Shen Mu menyerahkan seluruh uang receh yang ia miliki kepada sopir, lalu tanpa membuang waktu, ia berlari menuju kamar rawat ibunya.
“Ibu, ini aku, Xiao Mu. Bukalah matamu dan lihat aku, Bu!”
Shen Mu menggenggam erat tangan ibunya, air matanya mengalir deras tak terbendung. Seorang lelaki jarang menitikkan air mata, kecuali saat hati benar-benar remuk. Melihat ibunya kini tersiksa penyakit hingga tinggal kulit pembungkus tulang, sebagai anak, bagaimana mungkin hatinya tak hancur?
“Xiao Mu, umur Ibu sudah tak lama lagi. Setelah ini, kamu harus menjaga dirimu baik-baik,” lirih ibunya.
Wang Fong Qing ingin mengangkat tangan untuk membelai pipi Shen Mu, namun tubuhnya yang lemah sudah tak mampu melakukan gerakan sekecil itu.
Shen Mu yang merasakan niat ibunya, segera menempelkan tangan sang ibu ke wajahnya.
“Bu, uang sudah aku kumpulkan. Sebentar lagi Ibu bisa operasi. Aku pasti akan menyelamatkanmu!” seru Shen Mu penuh harap.
Namun Wang Fong Qing hanya tersenyum lembut dan menggeleng pelan, “Ibu tahu kondisiku. Meski operasi, keajaiban tak akan datang. Lebih baik uang itu kamu simpan untuk dirimu.”
“Bu, jangan bicara begitu. Aku akan bayar biaya operasi sekarang juga!” Shen Mu hendak berdiri, tapi Wang Fong Qing menahannya, “Xiao Mu, dengarkan Ibu sampai selesai.”
Terpaksa Shen Mu duduk kembali. Wang Fong Qing pun mulai berbicara pelan, “Sepanjang hidup Ibu, hanya tiga hal yang Ibu sesali.”
“Pertama, Ibu tak sempat melihatmu menikah dengan Chu Hua.
Kedua, tak mampu melihat keluarga kita kembali berjaya seperti dulu.
Ketiga, sampai mati Ibu tak sempat bertemu ayahmu sekali lagi.”
Mendengar itu, hati Shen Mu bergetar hebat. Tiga hal itu, satu pun belum bisa ia penuhi.
Namun tiba-tiba Wang Fong Qing menatap Shen Mu dengan serius, “Shen Mu, janjilah pada Ibu: nikahi Tang Chu Hua, pulihkan kejayaan keluarga, dan temukan ayahmu!”
Melihat tatapan ibu yang begitu tegas, Shen Mu hanya bisa menunduk.
“Bu, aku dan Chu Hua…”
Belum sempat ia lanjutkan, Wang Fong Qing membentak, “Jika kamu tidak janji, Ibu tak akan tenang meski sudah mati!”
Petir seolah menyambar benak Shen Mu. Kini, dengan “Tiga Kesucian Kaisar Giok” di pundaknya, membangkitkan keluarga Shen bukan hal mustahil, mencari ayah pun mungkin bisa dilakukan. Namun untuk menikahi Tang Chu Hua, ia sungguh tak tahu harus bagaimana.
Ibu mana yang tidak mengenal hati anaknya? Wang Fong Qing menatap Shen Mu dan berkata, “Chu Hua gadis yang baik, sedang anak Ibu lelaki sejati. Siapa lagi yang pantas mendampingi Chu Hua selain kamu? Atau kamu rela melihat orang lain merawatnya?”
Kata-kata itu membangunkan Shen Mu dari lamunan. Benar, setelah keluarga hancur, ia sudah lupa harga dirinya, bahkan merasa tak pantas untuk Chu Hua. Tapi benarkah demikian? Apakah ia rela Chu Hua menikah dengan Song Yun Fei, bajingan itu?
Tidak! Tak akan pernah!
Di dunia ini, hanya Shen Mu yang pantas untuk Tang Chu Hua!
“Bu, tenanglah. Aku, Shen Mu, pasti akan menikahi Tang Chu Hua!”
Melihat semangat anaknya kembali, Wang Fong Qing tersenyum tipis, lalu seolah mengenang masa lalu, ia berkata pelan, “Saat pertama kali memelukmu setelah lahir, entah beratmu empat atau lima kati, kini kamu sudah sebesar ini…”
Tangan ibunya perlahan terlepas dari wajah Shen Mu, dan detak jantungnya berhenti selamanya.
“Ibu!”
Shen Mu memeluk erat jasad ibunya, hatinya terasa dicabik-cabik.
Selama orang tua masih ada, rumah pun tetap ada. Kini, ibunya tiada, ayahnya menghilang, perjalanan Shen Mu setelah ini hanya menuju ke depan, tanpa tempat kembali.
Ia mengurus kepulangan ibunya sesuai permintaan terakhir: setelah dikremasi, abu jenazah ibunya disebar ke laut.
Di atas Jembatan Tianmen, Shen Mu memeluk erat kotak abu ibunya, menatap jauh ke cakrawala, air mata mengalir deras.
Ibunda pernah memelukku, entah beratku empat atau lima kati.
Kini aku memeluk ibu, entah beratnya empat atau lima kati…
“Bu, selamat jalan. Segala yang Ibu minta, pasti aku penuhi.”
Dengan kata-kata itu, Shen Mu menaburkan abu ibunya ke sungai yang mengalir menuju lautan, menuntaskan keinginan terakhir sang ibu.
Saat itu juga, gelombang informasi luar biasa menerjang masuk ke dalam benaknya. Ilmu pengobatan dalam “Tiga Kesucian Kaisar Giok” mendadak terbuka!
Meresapi keajaiban ilmu kedokteran di pikirannya, Shen Mu berlutut dan menangis sejadi-jadinya.
Ilmu ini datang terlalu terlambat.
Seandainya sedikit lebih awal, sedikit saja lebih awal, ia pasti bisa menyelamatkan ibunya!
Tiba-tiba, sebuah baju hangat beraroma lavender disampirkan ke pundaknya.
Shen Mu menoleh ke belakang, tampak seorang gadis bermuka bulat imut, begitu menawan.
Gadis itu diam saja, lalu memeluk Shen Mu dengan lembut.
Merasakan hangatnya pelukan itu, air mata Shen Mu kembali tak tertahan.
“Xun Yi, ibuku sudah tiada,” suaranya parau.
“Mari ke rumahku. Saat seperti ini, kamu butuh seseorang untuk menemani,” bisik Mu Xun Yi sambil tetap memeluknya.
Shen Mu ragu sejenak, namun akhirnya mengangguk, karena ia sungguh butuh penghiburan.
Setibanya di rumah Mu Xun Yi, Shen Mu menangis sejadi-jadinya, sedangkan gadis itu hanya menjadi pendengar setia. Dahulu pun begitu, kini pun masih sama.
Ia telah mencintai Shen Mu selama enam tahun, tapi setelah tahu hati Shen Mu hanya untuk Tang Chu Hua, yang bisa ia lakukan hanyalah menemani.
“Terima kasih, Xun Yi. Kalau bukan karena kamu, aku benar-benar tak tahu bagaimana harus melewati ini,” ucapan Shen Mu penuh rasa syukur.
“Tak apa, aku sudah bilang, kapan pun kamu butuh, datanglah padaku. Tapi kamu tak pernah mencariku sekalipun,” sahut Mu Xun Yi lirih.
Shen Mu hanya diam, dan Mu Xun Yi pun tak memaksanya. Namun saat itu, pintu rumah tiba-tiba terbuka, seorang lelaki tua diusung masuk oleh beberapa orang.
“Cepat, hubungi Tabib Zhang! Kakek sudah kritis!”
Saat itu, wajah Kakek Mu membiru keunguan, mulutnya berbusa putih, jika tak segera ditangani, nyawanya benar-benar terancam.
Pada saat yang sama, muncul info di benak Shen Mu.
“Racun Manjusawa, untuk menyelamatkan, harus dipaksa muntah dengan lumpur, baru nyawa bisa terselamatkan!”