Bab 51: Begitu Ingin Kah Kau Bertemu Dengannya
Biçi (1/3) Halaman
Bibi Zhang yang telah mendapat izin mendorong pintu hingga terbuka. Ia mengamati ekspresi wajah kedua orang itu secara diam-diam sebelum menyampaikan maksud kedatangannya.
"Tuan muda, ada seseorang yang ingin menemui nyonya muda. Orang itu sedang menunggu di gerbang utama sekarang."
Mendengar kata-kata itu, Pei Chuyi langsung bangkit dari ranjang, berniat pergi ke dekat jendela untuk melihat siapa yang datang mencarinya.
Karena ia sama sekali belum makan apa pun sepanjang hari ditambah gerakan bangkit yang terlalu cepat, sebelum sempat melangkah ke dekat jendela, seluruh tubuh Pei Chuyi kehilangan tenaga dan ia pun jatuh berlutut di lantai.
Qi Chenyi, yang jaraknya hanya selangkah darinya, melihat dengan mata kepalanya sendiri saat wanita itu terjatuh, namun sama sekali tidak berniat untuk mengulurkan tangan membantunya.
Bahkan saat wanita itu jatuh berlutut, ia hanya duduk di kursi sambil memandangnya dengan tatapan dingin.
"Begitu mendengar ada orang yang datang mencarimu, kamu langsung begitu bersemangat. Apakah karena kamu mengira orang itu adalah Ji Motong?"
Berusaha menopang tubuhnya untuk berdiri, Pei Chuyi tidak menyangkal tebakan Qi Chenyi. Ketika mendengar ucapan Bibi Zhang tadi, ia memang sempat memikirkan Ji Motong dalam sekejap.
Meskipun hanya sesaat, itu adalah sebuah fakta.
Saat Pei Chuyi hendak berjalan ke dekat jendela untuk melihat dengan jelas siapa sebenarnya orang yang datang itu, Qi Chenyi tiba-tiba bangkit, menyambar pergelangan tangannya, dan menyeretnya kembali ke atas ranjang.
Tanpa mendengarkan penjelasan apa pun, ia menyuruh Bibi Zhang untuk mengusir orang yang menunggu di gerbang, siapapun itu, tidak boleh menemui siapa pun.
"Tidak bisa."
Pei Chuyi secara spontan melontarkan sanggahan, dan dua patah kata sederhana inilah yang semakin memicu kemarahan Qi Chenyi.
"Begitu ingin kah kamu menemuinya?" Qi Chenyi mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat, begitu kuat hingga hampir meremukkan tulang pergelangan tangannya.
Bibi Zhang yang berdiri di samping saja merasa ngilu melihatnya, namun Pei Chuyi menggertakkan giginya menahan sakit tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
"Tuan muda, nyonya muda, kalian salah paham. Orang yang ingin menemui nyonya muda adalah seorang gadis. Menurut pengakuannya, ia adalah rekan kerja nyonya muda, datang atas perintah pimpinan untuk menyampaikan perhatian rutin."
Mendengar perkataan Bibi Zhang, nama Su Xue langsung melintas di benak Pei Chuyi.
Ia mengibaskan tangan Qi Chenyi dengan kuat, lalu menatap lurus ke dalam sepasang mata yang dingin itu: "Hanya rekan kerja, rekan kerja wanita, apakah bahkan untuk bertemu sebentar saja tidak boleh?"
Bibi Zhang dengan tepat menambahkan di sela-sela suasana itu: "Benar, itu rekan kerja wanita. Kalau begitu, sebaiknya biarkan nyonya muda menemuinya saja, Tuan. Bagaimanapun, pekerjaan nyonya muda ini khusus. Jika langsung diusir begitu saja, siapa yang bisa menjamin gadis itu tidak akan menulis sesuatu yang merugikan Keluarga Qi?"
"Kalau begitu, biarkan dia menulisnya. Aku juga ingin melihat apakah tulisan-tulisan semacam itu benar-benar bisa menggoyahkan Keluarga Qi."
Qi Chenyi membentak dengan suara tajam.
Ucapan itu sama sekali bukan ditujukan untuk Bibi Zhang, melainkan terang-terangan diperuntukkan bagi Pei Chuyi.
Biçi (1/3) Halaman
Biçi (2/3) Halaman
"Qi Chenyi, apa ada artinya kamu bersikap tidak masuk akal seperti ini?"
"Kamu merasa aku dan Ji Motong memiliki hubungan yang tidak jelas, melarangku menemuinya itu silakan saja. Tapi sekarang, bahkan seorang rekan kerja yang datang untuk menanyakanku saja tidak boleh? Di dalam duniaku tidak hanya ada kamu seorang."
"Bagaimana jika aku memaksa agar di dalam duniamu hanya ada aku seorang?"
Suara Qi Chenyi tiba-tiba merendah. Sifatnya yang tadi diliputi amarah yang membara mendadak menjadi sangat tenang.
Melihat ekspresi Qi Chenyi yang seperti itu, Pei Chuyi mau tidak mau menciut mundur.
Ia tahu Qi Chenyi tidak sedang sekadar gertak sambal; semakin tenang permukaannya, semakin berbahaya situasi yang dihadapinya.
Derai dering telepon yang berbunyi tiba-tiba bagaikan sebuah penawar racun, seketika memecah atmosfer kaku di dalam ruangan tersebut.
Bibi Zhang buru-buru berlari kecil mengambil gagang telepon di ruang kerja sebelah dan menyerahkannya kepada Qi Chenyi. Sambil menunggu Qi Chenyi mengangkat telepon, ia berbisik pelan menanyakan apakah Pei Chuyi boleh turun ke bawah untuk menemui rekan kerjanya.
Qi Chenyi tidak memberikan tanggapan. Sambil mendengarkan suara di ujung telepon, ia berjalan ke arah jendela, pandangannya terkunci pada mobil sport merah yang mencolok di luar gerbang utama Keluarga Qi.
Melihat hal itu, Bibi Zhang buru-buru memapndu Pei Chuyi meninggalkan kamar dan turun ke lantai bawah.
Sebagai seseorang yang bisa dikatakan menyaksikan Qi Chenyi tumbuh besar, Bibi Zhang sangat paham bahwa kebisuan Qi Chenyi adalah bentuk persetujuan diam-diam. Jika tidak, pria itu memiliki seratus cara untuk mengurung Pei Chuyi di dalam kamar dan mengusir orang yang disebut rekan kerja di depan gerbang itu.
Pei Chuyi mengenakan mantel luarnya secara sembarang lalu berjalan menuju gerbang utama.
Tanpa instruksi dari Qi Chenyi, para pengawal tidak akan sembarangan membuka gerbang untuk membiarkan orang masuk; bisa bertemu sebentar dari balik gerbang saja sudah merupakan sebuah kemewahan.
"Kamu benar-benar dikurung?" Su Xue berbisik pelan sambil melirik beberapa pengawal yang tidak jauh dari posisi Pei Chuyi. Pengawal-pengawal itu tampak sebatas berjaga di dekat gerbang, namun sebenarnya gerak-gerik Pei Chuyi selalu diawasi secara ketat.
Pei Chuyi turut melirik ke arah pengawal yang hanya berjarak beberapa langkah itu, namun ia langsung menarik kembali pandangannya dalam sekejap.
Ia tahu betul bahwa yang mengawasinya saat ini bukan hanya para pengawal, tetapi juga Qi Chenyi yang berada di dalam rumah.
"Ada yang kubantu?"
Pei Chuyi menggelengkan kepalanya pelan.
Ia tidak ingin menyeret lebih banyak orang ke dalam pusaran antara dirinya dan Qi Chenyi. Lagi pula, saat ini tidak ada seorang pun yang bisa menolongnya.
Su Xue berdehem pelan, lalu berbicara dengan volume suara normal kepada Pei Chuyi bahwa Su Jing telah menyetujui surat izin cutinya. Jika tubuhnya merasa tidak enak badan, istirahatlah yang baik di rumah dan jangan mengkhawatirkan urusan pekerjaan, anggap saja ini sebagai cuti tahunan yang diambil lebih awal.
Para pengawal yang hanya berjarak beberapa langkah itu pasti mendengar ucapan Su Xue, sehingga ketegangan di wajah mereka yang tadinya terus mengawasi gerak-gerik Pei Chuyi kini sedikit mengendur.
Pei Chuyi pun menyadari hal ini. Memanfaatkan celah di mana para pengawal tidak lagi menatap tajam ke arahnya, ia buru-buru merendahkan suara dan menanyakan situasi di pihak Ji Motong.
Biçi (2/3) Halaman
Biçi (3/3) Halaman
"Situasi Kak Motong saat ini kurang lebih sama denganmu. Entah dari mana Paman Ji mendapatkan suatu informasi, begitu pulang ke negeri ini untuk pertama kalinya ia langsung berinisiatif menghubungi Kak Motong, dan tanpa banyak bicara langsung memerintahkan orang untuk membatasi kebebasan Kak Motong."
Mendengar perkataan itu, Pei Chuyi langsung tahu bahwa masalah ini tidak bisa dilepaskan dari keterlibatan Qi Chenyi.
Belum sempat ia mengatakan lebih banyak hal, Bibi Zhang sudah mulai mendesaknya dari tidak jauh dari sana.
Katanya, Qi Chenyi masih menunggunya untuk makan malam, jadi tidak baik menundanya terlalu lama.
Ucapan Bibi Zhang terdengar samar, namun Pei Chuyi sangat mengerti makna tersirat di baliknya.
"Aku kembali dulu ya. Terima kasih sudah repot-repot datang jauh-jauh kesini, tapi aku bahkan tidak sempat mengajakmu masuk untuk duduk sejenak, maaf ya."
Su Xue tidak memedulikannya, ia menyerahkan makanan yang dibawanya seraya melambaikan tangan agar Pei Chuyi tidak perlu terlalu banyak berpikir.
Begitu Pei Chuyi kembali ke dalam rumah, Qi Chenyi ternyata sudah menutup teleponnya dan sedang menunggunya di ruang tamu.
"Temuannya sudah selesai, apa masih mau melanjutkan aksi mogok makan sebagai bentuk perlawanan?"
Belum sempat Pei Chuyi menjawab, Qi Chenyi yang duduk di atas sofa sudah mendongak dan menatapnya tajam dari kejauhan.
"Kenapa tidak bicara? Bukannya kamu sudah mendapat kabar tentang Ji Motong dari mulut Nona Su? Dia baik-baik saja, apa masih belum puas juga?"
Pei Chuyi menatap Qi Chenyi dengan kelu.
Karena rahasianya telah terbongkar sepenuhnya, ia tidak tahu bagaimana harus menjawab Qi Chenyi. Ia tadinya mengira dengan mengatakan Su Xue hanyalah rekan kerja biasa, ia bisa mengecoh Qi Chenyi, tetapi pria itu ternyata bukan hanya tahu bahwa orang tersebut adalah Su Xue, melainkan juga tahu bahwa Su Xue membawakan kabar tentang Ji Motong.
"Aku tidak merasa tidak puas."
Ia berusaha keras untuk menenangkan dirinya sendiri, menghindari tatapan mata Qi Chenyi yang seolah mampu menembus segalanya itu.
"Dia datang karena aku akhir-akhir ini sering meminta izin cuti, tidak ada alasan lain."
Qi Chenyi tidak membantah, ia hanya mendengus dingin begitu kalimat itu selesai meluncur, seolah-olah sedang menertawakan kebohongan yang terlalu murahan itu.
Mendengar dengusan tawa tersebut, Pei Chuyi tahu bahwa berkata apa pun sekarang akan sia-sia belaka. Ia berbalik dan berniat melangkah naik ke lantai atas, berencana untuk berdiam diri di kamar sampai Qi Chenyi bersedia membiarkannya pergi.
Biçi (3/3) Halaman