Bab 24 Mengumumkan Hubungan Mereka
Jika malam itu tidak pernah terjadi, mungkin posisi Nyonya Muda Qi saat ini sudah diisi oleh Fang Yuchi. Bahkan jika bukan dia, setidaknya posisi itu akan ditempati oleh orang lain yang benar-benar ia pedulikan. Itulah sebabnya ia membenci Pei Chuyi yang telah menduduki posisi tersebut, apalagi dengan cara yang begitu hina.
Sebuah kenyataan sederhana yang butuh waktu tiga tahun penuh untuk ia sadari.
"Aku tidak menginginkan sepeser pun harta keluarga Qi. Jika kau masih mendendam karena terpaksa menikahiku dulu, aku minta maaf. Maafkan aku, Qi Chenyi. Seharusnya aku tidak memaksamu untuk bertanggung jawab padaku. Aku salah, aku sangat salah. Segala kasih sayang dan ketulusan yang kuberikan selama tiga tahun ini diabaikan, dan itu adalah balasan yang pantas kuterima."
"Sekarang, bisakah kau menandatangani surat perjanjian perceraian ini?"
Garis rahang yang mengeras menunjukkan suasana hati Qi Chenyi saat ini. Jika di masa lalu, melihatnya seperti ini pasti akan membuat Pei Chuyi segera terdiam dan menuruti apa pun keinginannya. Namun sekarang, Pei Chuyi hanya ingin segera pergi darinya.
Panggilan dari agen properti masuk kembali. Kali ini, Pei Chuyi mengangkatnya tepat di depan wajah Qi Chenyi. Setelah meminta maaf dua kali kepada agen tersebut, ia bersiap untuk melangkah melewati Qi Chenyi. Saat itulah, sebuah kalimat meluncur dari atas kepalanya, "Aku akan mengumumkan hubungan kita kepada publik."
Pei Chuyi terpaku. Ia menatap Qi Chenyi tanpa memedulikan telepon yang masih tersambung.
"Apa katamu?"
"Aku akan mengumumkan hubungan kita kepada publik."
Di seberang telepon, suara agen yang menanyakan keberadaan Pei Chuyi masih terdengar. Dalam keterkejutannya, Pei Chuyi tersadar, kembali mengangkat telepon, dan berjanji akan menjadwalkan waktu lain. Sebagai bentuk permohonan maaf, ia akan memberikan kompensasi tambahan saat membayar biaya agen nanti.
Setelah menutup telepon, barulah ia memiliki energi untuk mencerna alasan di balik keputusan mendadak Qi Chenyi. Saat baru menikah dulu, ia memang pernah berharap Qi Chenyi mengungkapkan hubungan mereka, karena ia menganggap itu sebagai bentuk pengakuan. Meski setelah tiga tahun berlalu ia tidak lagi membutuhkan pengakuan itu, hatinya tetap tidak bisa menahan gejolak.
Apakah Qi Chenyi mulai peduli padanya?
Ia mundur selangkah dengan canggung, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Jika dugaannya benar, bukankah itu berarti Qi Chenyi bisa menerima bayi ini? Dengan begitu, anak itu akan memiliki keluarga yang utuh dan mendapatkan kasih sayang dari lebih banyak orang.
"Kau sudah memikirkannya dengan matang?"
Pei Chuyi menatap pria di depannya dengan ragu. Meski telah dikecewakan berulang kali, secercah harapan tetap tak terelakkan muncul di dalam hatinya.
"Tentu saja."
Hanya dua kata yang singkat dan padat.
Tangan Pei Chuyi yang memegang tas mengusap perutnya. Ia ragu apakah harus segera memberitahu Qi Chenyi tentang bayinya. Cukup lama ia terdiam. Ia menggigit bibir, memutuskan untuk menguji sikap Qi Chenyi terhadap sang bayi terlebih dahulu sebelum mengungkapkan kehamilannya.
"Kau benar-benar bersedia mengumumkan bahwa kau sudah menikah? Jika begitu, nantinya setiap kali kau berhubungan dengan Fang Yuchi, kau akan dicap sebagai pengkhianat pernikahan. Lagipula, jika kita memiliki..."
"Media tidak akan lagi bisa memotret foto apa pun antara aku dan Yuchi."
Perkataan Qi Chenyi membuat Pei Chuyi bingung. Apa maksudnya tidak akan bisa memotret lagi? Apakah itu berarti dia tidak akan lagi berhubungan dengan Fang Yuchi, atau dia akan memperingatkan media agar tidak lagi menggunakan mereka sebagai bahan sensasi demi keuntungan?
Pei Chuyi tidak ingin lagi berputar-putar dengan Qi Chenyi. Ia langsung bertanya mengapa pria itu tiba-tiba ingin mengumumkan hubungan mereka. Padahal, selama tiga tahun ini ada banyak kesempatan yang lebih tepat, mengapa harus sekarang?
"Jika kau ingin bercerai, aku bisa menyetujuinya."
"Setelah bercerai, kau memang bisa memulai lembaran baru dengan Ji Motong. Tapi, kuharap kau memikirkan baik-baik, jika kau membuat keputusan itu, ke dalam badai opini publik seperti apa kau akan menjerumuskan Ji Motong? Dan apakah situasi saat itu akan bisa kau kendalikan?"
Sebuah tawa sinis lolos dari tenggorokan Pei Chuyi.
"Jadi, kau mengumumkan hubungan kita hanya untuk mengancamku agar tidak bersama Ji Motong?"
Melihat Qi Chenyi tidak menyangkal, Pei Chuyi mundur dua langkah dan memejamkan mata karena malu. Ia merasa dirinya begitu konyol. Demi satu kalimat Qi Chenyi, ia mengabaikan rencananya selama ini, melupakan segala perlakuan dingin yang ia terima selama tiga tahun, bahkan mulai merencanakan keluarga kecil dengan sang bayi.
Ternyata, Qi Chenyi hanya kesal karena ia berhubungan dengan Ji Motong tepat setelah mengajukan perceraian. Ia justru mengira Qi Chenyi mulai melihat kebaikannya dan memiliki perasaan padanya sehingga ingin mempertahankan pernikahan ini.
Rasa pahit menjalar di tenggorokannya, dan dadanya terasa berat seperti tertindih batu besar hingga membuatnya sesak napas.
"Ternyata kau melakukan semua ini hanya agar aku tidak bersama Ji Motong. Sungguh... usaha yang sangat keras."
Pei Chuyi mencengkeram tasnya erat-erat dan bergegas melewati Qi Chenyi. Pria itu sempat mengulurkan tangan untuk menahannya, namun terhenti oleh suara dering ponsel.
Sepertinya itu panggilan dari seseorang yang sangat penting. Qi Chenyi hanya melirik sekilas dan membiarkannya masuk ke dalam lift tanpa mengejar. Saat pintu lift tertutup, Pei Chuyi bersandar pada pintu lift dengan tubuh lemas.
Layar yang menampilkan nomor lantai terus berkedip dengan angka merah terang. Entah mengapa, hatinya pun terasa ikut jatuh bersama lift itu. Ia tidak ingat bagaimana ia keluar dari lift; kepalanya terasa berat dan pening, ia merasa seperti mayat hidup yang kehilangan akal sehat. Bahkan suara klakson mobil yang memekakkan telinga tidak mampu mengembalikan kesadarannya sepenuhnya.
Hingga lengannya ditarik dengan kasar dan diseret ke dalam mobil.
"Nenek tiba-tiba pingsan dan sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan darurat."
Qi Chenyi, yang dengan terburu-buru menyeretnya ke dalam mobil, menatap lampu merah di persimpangan jalan di depannya dengan ekspresi tegang. Melihat tidak ada suara dari kursi belakang, ia melirik Pei Chuyi melalui kaca spion.
"Urusan kita bicarakan nanti. Kau tahu kondisi kesehatan Nenek. Setelah sampai di rumah sakit, jangan bahas soal perceraian."
Pei Chuyi, yang akal sehatnya perlahan kembali, dengan sigap mengirim pesan kepada Direktur Wang untuk meminta izin. Saat mendengar ucapan Qi Chenyi, jari-jarinya terhenti sejenak, lalu perlahan meremas ponselnya.
"Aku tahu mana yang penting, tidak perlu diingatkan oleh Tuan Qi."
Qi Chenyi tampak ingin mengatakan sesuatu lagi, namun lampu hijau di persimpangan sudah menyala, sehingga ia terpaksa mengalihkan pandangannya dari Pei Chuyi dan menginjak pedal gas.
Telepon dari Direktur Wang segera masuk. Setelah mendengar alasan izinnya adalah keadaan darurat, sang direktur langsung menanyakan kondisinya.
"Jangan lupa wawancara eksklusif dengan Tuan Ji sore ini. Banyak atasan yang menunggu hasilnya, jangan sampai urusan penting ini terbengkalai. Jika kau menyelesaikannya dengan baik, aku akan membantumu membicarakan soal mutasi jabatan."
Pei Chuyi melirik jam. Wawancara dengan Ji Motong dijadwalkan pukul dua siang, kemungkinan besar ia bisa kembali tepat waktu. Namun, karena tidak tahu bagaimana kondisi neneknya, ia tidak bisa memberikan janji yang pasti. Ia hanya mengatakan kepada Direktur Wang bahwa ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk kembali agar tidak mengganggu jadwal wawancara.
"Untuk berjaga-jaga, bagaimana kalau cari orang lain yang juga memahami draf wawancaranya? Aku di sini..."