Bab 42 Mengapa Harus Fang Yuchi
Melihat keraguan di wajah Pei Chuyi, Qi Chenyi menahan rasa kesal di hatinya, lalu kembali ke meja kerja dan duduk.
"Kuberi waktu kau untuk berpikir." Ia mengangkat pergelangan tangannya dan melirik jam tangan.
"Besok jam sekian, langsung hubungi aku kalau sudah membuat keputusan. Ingat, kau hanya punya satu kesempatan ini, tidak ada kesempatan kedua setelah waktunya habis."
Setelah mengatakan itu, Qi Chenyi tidak lagi melirik Pei Chuyi. Ia tidak mau dan tidak ingin melihat Pei Chuyi bimbang serta kesulitan karena ingin mempertahankan anak tersebut, melihat ekspresi itu hanya akan semakin membuatnya murka.
Baru setelah Pei Chuyi pergi, ia kembali mengangkat pandangannya dengan tatapan dingin menatap pintu kantor yang sudah tertutup rapat.
Hanya ada satu kesempatan ini, Pei Chuyi. Selama kau menuruti apa kataku, aku bisa memaafkanmu kali ini, tetapi ini adalah satu-satunya kesempatan.
Pei Chuyi keluar dari lift Grup Qi, merasa langkah kakinya terasa semakin berat, sementara tubuhnya justru terasa semakin ringan, seolah-olah hendak melayang ke udara bersama kesadarannya yang tersisa.
Ia berniat mencari tempat duduk di lobi untuk beristirahat sejenak. Baru saja ia duduk, suara seorang wanita yang terdengar santai terdengar dari belakangnya.
Ia menoleh ke samping, dan benar saja, dugaannya tepat, Fang Yuchi datang.
Berbeda dengan dirinya yang harus menunggu di lantai bawah sampai resepsionis menelepon untuk melapor, Fang Yuchi masuk dengan begitu akrab, hanya melambaikan tangan kepada resepsionis, lalu langsung menuju lift khusus yang hanya boleh dinaiki oleh para eksekutif Grup Qi.
Sikapnya yang begitu terbiasa seolah-olah ia sudah datang ke tempat itu entah berapa banyak, tak terhitung.
Meskipun tidak melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Qi Chenyi membiarkan Fang Yuchi bebas keluar masuk, atau bagaimana pria itu memperkenalkan identitas Fang Yuchi kepada para karyawan perusahaan, hanya dengan melihat sikap santai Fang Yuchi saja sudah cukup membuatnya membayangkan pemandangan tersebut.
Bahkan ia, yang berstatus sebagai istrinya, tidak pernah mendapatkan keistimewaan itu, sementara Fang Yuchi sudah sangat terbiasa dengannya.
Pei Chuyi tidak kuasa menahan diri untuk membayangkan, seandainya orang yang membutuhkan uang hari ini adalah Fang Yuchi, apakah Qi Chenyi akan bersikap sama seperti tadi kepadanya—mengabaikannya terlebih dahulu, lalu mengajukan syarat yang membuatnya berada dalam dilema agar ia memilih.
Sepertinya tidak.
Jika benar Fang Yuchi yang membutuhkan dua puluh juta itu, Qi Chenyi pasti akan segera menyiapkan uangnya dalam kesempatan pertama. Bagaimanapun, jumlah dua puluh juta itu memang terdengar mengejutkan, tetapi bagi seorang penanggung jawab Grup Qi seperti Qi Chenyi, itu sama sekali bukan apa-apa.
Bahkan mungkin tanpa perlu Fang Yuchi memintanya, Qi Chenyi akan berinisiatif menangani segala masalah pelik tersebut.
Emosi yang sulit dijelaskan perlahan-lahan merambat dari lubuk hatinya. Dadanya terasa sesak seolah tertindih batu seberat ribuan pon hingga ia kesulitan bernapas. Ia berusaha mengusap dadanya untuk meredakan napasnya, tetapi keadaannya tetap tidak membaik.
Ia tidak habis pikir bagaimana Fang Yuchi bisa menjadi begitu penting di dalam hati Qi Chenyi hanya dalam waktu satu tahun, bahkan melebihi dirinya sebagai seorang istri.
Ia semakin tidak mengerti mengapa harus Fang Yuchi. Bukannya Qi Chenyi tidak tahu apa saja yang telah Fang Yuchi lakukan kepadanya di masa lalu, lalu mengapa ia masih bisa menerima orang seperti itu berada di sisinya?
Apakah Qi Chenyi tidak pernah berpikir bahwa hal ini tidak ada bedanya dengan melukai dirinya untuk kedua kalinya?
Apa bedanya ini dengan luka yang selama ini ia coba sembuhkan dengan susah payah, tiba-tiba disobek kembali secara bersama-sama oleh Qi Chenyi dan Fang Yuchi?
Tidak ada bedanya, bahkan jauh lebih kejam daripada itu.
Ia mengira bercerai saja sudah cukup. Perpisahan memang akan terasa menyakitkan untuk sesaat, tetapi lagipula masih ada buah hatinya yang menemani. Ia percaya kehidupan di masa depan bersama bayinya perlahan-lahan akan menyembuhkan segala luka di hatinya.
Bagaimanapun juga, itu jauh lebih baik daripada harus tetap berada di sisi Qi Chenyi dan menyaksikan pria itu mencintai wanita lain seumur hidupnya.
Namun sekarang, bahkan gagasan itu pun akan segera berubah menjadi angan-angan kosong.
Jiang Huiyu dan anak yang ada di dalam kandungannya, ia hanya bisa menyelamatkan salah satu.
Ia ingin menyelamatkan anaknya sendiri, tetapi memilih sang anak berarti ia harus membiarkan Jiang Huiyu kehilangan kehidupan yang diinginkannya dan berjalan menuju jurang kehancuran. Ia harus memikul beban kutukan seumur hidup karena membiarkan ibu kandungnya menemui ajalnya tanpa memberikan pertolongan.
Tidak lama setelah Pei Chuyi kembali ke rumah sewanya, bahkan sebelum sempat memanaskan mangkuk mi yang sudah mendingin atau membersihkan noda darah merah mencolok di lantai dapur, Jiang Huiyu sudah meneleponnya.
Wanita itu mendesak untuk mengetahui perkembangan perbintaannya meminta bantuan kepada Qi Chenyi.
Ia berjongkok di lantai, menutupi noda darah di lantai dengan selembar tisu bersih.
"Dia bilang bisa membantumu, tapi syaratnya... aku harus menggugurkan anakku."
"Lalu apa lagi yang masih kaupikirkan? Cepat sana gugurkan!" teriak Jiang Huiyu di ujung telepon tanpa ada keraguanku sedikit pun. Diiringi suara gemerisik yang samar, Jiang Huiyu kembali bersuara, "Aku akan memesankan jadwal operasi untukmu sekarang juga. Usahakan malam ini... kalau malam ini tidak bisa, ya besok. Besok pagi kau harus datang untuk menjalani operasi."
"Operasi itu tidak butuh waktu lama, siang hari pasti sudah selesai. Ngomong-ngomong, apa Qi Chenyi bilang kapan tepatnya uang itu bisa cair, dan berapa banyak? Kalau kita minta tolong Qi Chenyi untuk mencari orang yang telah menipu uang kita, apakah itu juga bisa? Dengan begitu kita tidak perlu mengeluarkan banyak uang."
Jiang Huiyu di ujung telepon tampak benar-benar telanjur dikuasai oleh kabar tersebut, sehingga ia terus berbicara panjang lebar tanpa memperdulikan apakah Pei Chuyi menanggapinya atau tidak.
"Sudahlah, abaikan saja dulu hal itu. Malam ini aku akan memesankannya untukmu, sekarang juga. Besok pagi-pagi kau datanglah untuk operasi. Kalau operasinya berhasil, Qi Chenyi akan mentransfer uangnya, kan?"
Pei Chuyi memegang ponselnya dengan pandangan kosong menatap tumpukan tisu di lantai.
Ia tadinya mengira bahwa setelah mengetahui anak ini mungkin adalah satu-satunya anak dalam hidupnya, Jiang Huiyu tidak akan memintanya menggugurkan kandungan dengan begitu tegas.
Sekalipun hanya ada sedikit keraguan, sedetik saja sudah cukup.
Namun, hasilnya justru ketidaksabaran Jiang Huiyu yang begitu rupa. Jika para dokter dan perawat di rumah sakit belum pulang jam segini, mungkin Jiang Huiyu sudah akan mencari orang untuk menyeretnya secara paksa ke rumah sakit.
Pei Chuyi tiba-tiba merasa anaknya di dalam kandungan begitu tidak berharga. Kesempatan untuk melihat dunia ini dirampas darinya hanya karena orang seperti itu, yang tak lain adalah nenek kandung sang anak sendiri.
Jiang Huiyu yang tak kunjung mendapat tanggapan tampak menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Pei Chuyi.
"Kau jangan bilang kalau kau tidak mau menggugurkan anak ini?"
"Demi seorang anak yang bahkan belum pernah kau lihat, kau tega melepaskan ibu yang melahirkan dan membesarkanmu sebesar ini, begitu? Aku ibumu, Pei Chuyi, bagaimana bisa kau..."
Pei Chuyi tidak memberi kesempatan kepada Jiang Huiyu untuk melanjutkan kata-katanya, ia langsung menutup panggilan telepon itu.
Ia memang sepertinya tidak seharusnya ragu.
Bagaimanapun juga, Jiang Huiyu adalah ibu kandungnya.
Sekalipun ia harus kehilangan bayi yang sudah mulai terbentuk ini, sekalipun ia mungkin tidak akan pernah bisa memiliki anak lagi seumur hidupnya, ia tetap harus memprioritaskan ibunya sendiri.
Namun, ia benar-benar merasa tidak rela.
Jiang Huiyu terus-menerus menelepon kembali, mencoba meyakinkannya untuk segera menggugurkan anak tersebut demi menukar uang dari Qi Chenyi yang bisa digunakan untuk menebus rumah keluarga Fang dan melunasi seluruh hutang.
Ketika Pei Chuyi tidak mengangkat teleponnya, Jiang Huiyu mengirimkan rentetan pesan teks bertubi-tubi.
Wanita itu mengancam bahwa jika Pei Chuyi tidak menyetujui syarat Qi Chenyi, Jiang Huiyu akan pergi ke atap gedung sekarang juga dan melompat untuk mengakhiri semuanya.
Jika Fang Zhongmin tidak bisa diselamatkan dan harus menanggung akibat atas rumah yang telah digadaikan itu, pada akhirnya Pei Chuyi juga yang harus bertanggung jawab. Entah ia menggugurkan anak itu atau tidak, ia tidak akan bisa menghindari keharusan membayar hutang tersebut.
Siapa suruh Pei Chuyi adalah anak kandung Jiang Huiyu? Ia tidak bisa lari dan tidak akan bisa bersembunyi.