058 Kecelakaan Mobil
Tepat seperti dugaan, lima atau enam menit kemudian, suara keributan terdengar dari luar pintu.
Entah siapa yang sedang menjaga pintu, rombongan pengantin pria dibiarkan tertahan cukup lama dan tidak diperbolehkan masuk.
Setelah sekitar lima atau enam menit tarik-ulur, pintu kamar akhirnya berderit terbuka.
Nan Xu berdiri siaga di dekat pintu, memancarkan aura seorang bos besar, diikuti oleh beberapa anak kecil di belakangnya.
Akhirnya, pintu kamar terdorong terbuka, dan Nan Xu menatap rombongan pengantin di luar dengan ekspresi serius.
"Tidak disangka pertanyaan yang kubuat ternyata tidak mampu menjatuhkan sang pengantin pria, pantas saja lulusan Universitas Yan..."
Sang Yu memiringkan kepalanya, menembus kerumunan untuk melihat rombongan pengantin di luar. Eh, bagaimana ya mengatakannya?
Sheng Xilou? Apa? Kenapa dia? Apakah ini tidak salah?!
Perdebatan di ambang pintu mencapai tahap paling sengit, dengan Nan Xu berdebat melawan banyak orang.
"Karena kalian sudah sampai di sini, masuklah," kata Nan Xu sambil memberi jalan, lalu mengubah topik, "Tapi, sepatu pengantin wanita sudah kusembunyikan. Kalau kalian bisa menemukannya dalam waktu lima menit, itu bagus. Kalau lebih dari itu, pengantin wanita harus tinggal lebih lama beberapa menit."
"Pft~"
Sang Yu diam-diam memuji Nan Xu dalam hatinya, pantas saja dia adalah sahabatnya, triknya berlapis-lapis.
Penghitungan waktu resmi dimulai, dan beberapa pria termasuk Sheng Xilou mulai menggeledah ruangan.
Melihat waktu detik demi detik berlalu, batas lima menit semakin dekat.
"Kakak Kedua, aku menemukannya... Aku dapat satu."
Tak lama kemudian, kabar baik datang dari sisi lain, "Kakak Kedua, aku juga menemukannya, sepertinya belum ada lima menit."
Nan Xu melirik ponselnya, memang masih kurang beberapa detik dari lima menit. "Kalian dianggap berhasil, cepat pakaikan sepatu untuk pengantin wanita."
"Woooo... Cepat pakaikan!"
Seketika, suasana menjadi semakin hidup dan meriah.
Tiba-tiba, Sang Yu merasakan pergelangan kakinya dicengkeram erat oleh sebuah tangan. Rasanya dingin, membuat bulu kuduknya meremang.
Ia menunduk sedikit, dan saat itulah ia melihat Sheng Xilou berlutut dengan satu kaki.
Di tangan kanannya ada sebuah sepatu hak tinggi tipis berwarna perak putih, sementara satu tangan lagi menggenggam pergelangan kakinya, bersiap memakaikannya.
Hal yang sama dilakukan pada kaki satunya, dan dalam sekejap sepatu itu sudah terpasang rapi. Pria itu berdiri, sementara ia masih terpaku dalam kebingungan.
Nan Xu berbicara pada saat yang tepat, "Baiklah, pengantin pria sekarang boleh menggendong pengantin wanita."
Sebelum ia sempat bersiap, Sang Yu sudah jatuh ke dalam pelukan yang hangat, aroma maskulin yang kuat langsung menyeruak menyapa indra penciumannya.
"Xiao Yu, aku akhirnya berhasil menikahimu. Hari ini adalah hari yang paling patut dikenang dan paling bahagia dalam hidupku."
Di bawah kawalan para tamu, rombongan pengantin bergerak menuju tempat resepsi.
Sang Yu dan Sheng Xilou duduk di mobil pengantin terdepan, suasana di kursi belakang terasa sedikit canggung.
Eh, haruskah aku mengatakan sesuatu?
"Sheng..."
Kata-kata selanjutnya masih tertahan di tenggorokan ketika situasi berubah secara drastis. "Brak—!"
Disertai suara dentuman keras, mobil pengantin yang sedang melaju normal di persimpangan jalan bertabrakan dengan sebuah truk besar bermuatan penuh yang menerobos lampu merah dan hilang kendali. Tempat kejadian kecelakaan itu tampak sangat berantakan, badan mobil berserakan dengan noda darah di mana-mana.
Para pejalan kaki di tepi jalan ketakutan setengah mati oleh kecelakaan yang datang tiba-tiba itu, mereka menghentikan langkah dan tidak berani mendekati lokasi kejadian.
Sang Yu merasakan kesadarannya memudar dengan cepat, sementara Sheng Xilou yang berada di sampingnya berdiri di hadapannya untuk menahan sebagian besar benturan.
Bahkan dalam kondisi dirinya yang sudah babak belur dan punggungnya terluka parah hingga dagingnya hancur, ia tetap mendekap erat untuk melindunginya.
"Xiao Yu..."
"Kring—Kring kring—Kring!"
Sang Yu tersentak bangun, terengah-engah sambil meraba wajahnya sendiri, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Semuanya masih utuh.
Ia juga mendapati dirinya baik-baik saja tanpa ada luka sedikit pun.
"Fiuh, mimpi ini benar-benar hampir membuatku mengira aku sudah tewas..."
Sang Yu meraih ponselnya, waktu baru menunjukkan lewat pukul tujuh lewat empat puluh, sudah waktunya bangun.
Ia mengusap rambutnya yang berantakan lalu berjalan menuju kamar mandi. Melihat wajahnya sendiri yang pucat pasi di cermin, ia buru-buru menepuk pipinya.
"Jangan takut, itu cuma mimpi, apa yang harus ditakuti..."
Meski mencoba menghibur diri, tangan-tangannya masih gemetar saat menggosok gigi dan mencuci muka.
Begitu selesai merapikan diri dan menyandang tasnya untuk turun ke lantai bawah guna sarapan, Zou Ruiqin merasa khawatir melihat wajah putrinya yang sepucat kertas.
"Xiao Yu, ada apa denganmu? Wajahmu pucat sekali seperti selembar kertas."
Sang Yu menggelengkan kepalanya, mencoba menarik sudut bibirnya membentuk senyuman tipis yang terasa dipaksakan.
"Tidak apa-apa, semalam aku hanya bermimpi buruk, jadi belum sepenuhnya pulih..."
Mendengar itu, Sang Honghua buru-buru mengupas telur dan memberikannya kepada sang putri. "Nah, makanlah telur ini untuk meredakan keterkejutanmu. Itu cuma mimpi, jangan terlalu dipikirkan..."
Pukul delapan lewat lima puluh, Sang Yu tiba di departemennya tepat waktu, lalu pergi ke pantry untuk mengambil segelas kopi guna menyegarkan diri.
Ia kembali ke meja kerjanya. Memanfaatkan waktu sebelum jam kerja dimulai, ia kembali teringat pada mimpi itu yang terasa begitu nyata, seolah-olah tempat ia berada sekarang hanyalah sebuah ilusi.
Ia menggelengkan kepalanya, menyalakan komputer, dan mulai bekerja. Buku catatan di sampingnya terbuka, berisi catatan rapat yang padat mengenai konten pekerjaannya akhir-akhir ini.
Hari yang sibuk berlalu begitu saja, dan hari libur yang dinanti-nantikan pun tiba kembali.
Menjelang tidur malam harinya, ia kembali menerima pesan dari Sheng Xilou seperti biasa, yaitu ajakan berkumpul hari Minggu di tempat lama.
Keesokan harinya, Sang Yu menghabiskan hari Sabtu dengan tenang, menemani pasangan Sang Honghua sepanjang hari.
Hari Minggu pun tiba. Sang Yu berdandan seperti biasa lalu keluar rumah.
"Ada apa? Kelihatannya warna wajahmu kurang baik."
Saat Sang Yu duduk, Sheng Xilou sudah memesan makanan. Melihat raut wajah gadis itu, ia sedikit mengerutkan kening.
"Tidak apa-apa, hanya kurang tidur..."
Alasan itu akhirnya berhasil menutup-nutupi keadaannya, dan kebetulan pelayan datang membawakan hidangan.
Waktu makan yang menyenangkan berlalu dengan cepat. Keduanya berpisah di pintu masuk Gedung Emerald, masing-masing pulang ke rumah.
Begitu Sang Yu melangkah masuk ke dalam rumah, ponsel di dalam tasnya bergetar hebat.
Ia mengambilnya dan melihat panggilan suara masuk dari Sheng Xilou.
Begitu ia menekan tombol terima, suara bising terdengar dari ujung sana.
"Halo... Halo... Direktur Sheng, apakah Anda bisa mendengarkan saya?"
"..."
Sang Yu melirik layar ponselnya, memastikan bahwa itu memang benar WeChat milik Sheng Xilou.
Belasan detik kemudian, suara lain terdengar dari seberang.
"Halo, apakah Anda Nona Sang Yu? Saya dari ruang gawat darurat Rumah Sakit Rakyat Kota..."
Setengah jam kemudian, Sang Yu kembali melihat Sheng Xilou di ruang gawat darurat, meskipun dalam kondisi yang sedikit berantakan.
Kepalanya dibalut kain kasa, dan ada beberapa luka kecil di wajahnya yang sudah diobati.
Melihat ekspresinya, pria itu tampak muram dan sulit ditebak.
Duh, jangan-jangan benturan tadi membuatnya menjadi sedikit bodoh.
Dalam perjalanan tadi, ia sudah mendengar penjelasan dokter bahwa mobilnya berserukan dengan kendaraan lain, membuatnya membanting setir dan menabrak pohon di pembatas jalan hijau.
Ia mengalami sedikit gagar otak, tetapi tetap harus ada seseorang yang menemaninya.
Oleh karena itu, ia terpaksa dipanggil datang.
Setelah itu, ia pergi ke ruang kerja dokter untuk menanyakan kondisi Sheng Xilou secara lebih rinci.
Belasan menit kemudian, Sang Yu kembali ke ruang rawat inap.
Pria yang tadinya pingsan itu kini bersandar di kepala ranjang, menatap kosong ke luar jendela.
"Direktur Sheng? Direktur Sheng? Anda tidak apa-apa?"
Sang Yu melambaikan tangannya di depan mata Sheng Xilou, berusaha menarik perhatiannya.
"Istriku, kamu akhirnya datang. Aku tadi hampir tidak bisa melihatmu lagi..."
Kenapa jalan cerita tidak sesuai dugaan, bisa-bisanya seperti ini?
"Dokter, Dokter..."
Beberapa menit kemudian, dokter bergegas datang ke bangsal, dan mendapati pasien yang tadinya tidak sadarkan diri kini memasang ekspresi tampak teraniaya.