Diam-diam
Seiring dengan hilangnya kesadaran, selain sensasi hangat yang sayup-sayup terasa, tidak ada lagi yang bisa dirasakan.
"Tidak apa-apa, kamu pasti akan baik-baik saja, aku akan membawamu ke rumah sakit..."
Bersamaan dengan ucapan Sheng Xilou yang terdengar cemas dan panik, kepala Sang Yu terkulai lemas bagai layang-layang yang putus benangnya, lalu jatuh bersandar di lengan pria itu.
Pada saat itu, sang sopir sangat sigap dan langsung membubarkan kerumunan orang yang sedang menonton. Untungnya, hampir seluruh karyawan kantor sudah pulang pada jam tersebut.
Sopir itu melangkah dengan hati-hati mendekati Sheng Xilou, belum pernah ia melihat atasannya begitu diliputi kepanikan.
"Tuan Sheng, mobilnya ada di sebelah sana. Anda bisa langsung membawa Nona ini ke mobil, saya akan mengantar kalian ke rumah sakit. Nyawa seseorang jauh lebih penting..."
"Baik..."
Grup Sheng terletak di kawasan pusat bisnis. Saat itu adalah jam sibuk malam hari, arus kendaraan mengalir tiada henti, membentang panjang bagaikan naga yang tak berujung.
Meski begitu, ketika Sheng Xilou tiba di Rumah Sakit Umum Kota, hari sudah lewat setengah jam kemudian.
Gadis di dalam dekapannya masih tampak sangat lemah, seolah bisa terbang terbawa angin kapan saja. Wajah dan bibirnya masih sepucat kertas, sementara butir-butir keringat membasahi keningnya.
Pintu masuk rumah sakit selalu ramai oleh orang yang berlalu-lalang, terutama ketika mereka melihat seorang pria berwajah rupawan menggendong seorang gadis dengan ekspresi penuh kecemasan dan kepanikan di wajahnya.
Pemandangan itu tentu menarik banyak perhatian.
Sang Yu didorong masuk ke ruang gawat darurat. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan oleh dokter, ekspresi sang dokter berubah dari muram menjadi cerah.
Ia mengalihkan pandangannya ke arah pria di sebelah ranjang, seolah memahami sesuatu, lalu sedikit mengangkat sudut bibirnya.
"Zaman sekarang, sudah jarang ada pacar yang begitu mengkhawatirkan kekasihnya..."
Dokter tersebut merapikan stetoskopnya dan berujar dengan nada penuh nasihat.
Ekspresi Sheng Xilou sama sekali tidak menjadi lebih santai setelah mendengar perkataan dokter itu.
Ia kemudian bertanya kepada dokter, "Dia... *ehem*... pacar saya baik-baik saja, kan...?"
Dokter itu menggelengkan kepala. "Tidak ada masalah serius, ini hanya nyeri haid biasa. Tapi tetap saja tidak boleh dianggap sepele..."
Dokter dengan sabar menjelaskan kepadanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan siklus menstruasi wanita, terutama mengenai tindakan pencegahan yang harus diperhatikan.
Sheng Xilou mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi catatan, dan mencatatnya satu per satu.
"Pertama, pastikan waktu tidur yang cukup, hindari begadang dan kelelahan berlebihan."
"Kedua, pola makan yang wajar, hindari makanan yang terlalu pedas, mentah, dingin, serta makanan bersifat merangsang lainnya, begitu juga dengan konsumsi alkohol dan merokok yang berlebihan."
"Ketiga, perhatikan juga pengaturan emosi, hindari ketegangan dan kecemasan yang berlebihan."
"......"
"Nah, itulah hal-hal yang saya sebutkan tadi. Selama masa haid, kondisi fisik wanita sangat rentan dalam berbagai hal..."
Sheng Xilou mengangguk satu persatu. "Baiklah, saya mengerti. Terima kasih, Dok. Kapan pacar saya akan sadar...?"
Dokter melirik ke arah Sang Yu yang masih terbaring tak sedarkan diri di atas ranjang. "Setelah kantong infus ini habis, kalian sudah bisa membawanya pulang..."
Setelah itu, Sheng Xilou pergi ke loket pembayaran untuk melunasi biaya rumah sakit tanpa berani membuang waktu.
Ia mengangkat pergelangan tangannya, waktu sudah hampir pukul delapan malam. Apakah sebaiknya ia langsung mengantarnya pulang atau...
Tepat ketika ia sedang dilanda kebimbangan, sebuah getaran samar terdengar dari suatu tempat.
Ia mengikuti sumber suara itu dan mendapati tas Sang Yu diletakkan di atas nakas.
"Maaf ya, siapa tahu ada orang yang mencarimu untuk urusan mendesak..."
Sheng Xilou dengan sopan meminta maaf kepada Sang Yu yang masih tidak sadarkan diri.
Ia mengeluarkan ponsel dari dalam tas, layar ponsel menunjukkan panggilan masuk dari kontak bernama "Ibu Tercinta".
Panggilan itu sepertinya berasal dari ibu sang gadis.
Ia menatap antarmuka ponsel itu sebentar, lalu beralih menatap gadis yang masih terlelap, sebelum akhirnya mengusap layar ke samping.
"Halo, selamat malam..."
Keluarga Sang
"Sudah tersambung belum?"
Zou Ruiqin memasang ekspresi cemas, sementara suaminya, Sang Honghua, sedang memegang ponselnya sendiri, terus-menerus menelepon nomor putrinya tanpa kenal lelah, namun panggilan itu selalu tidak diangkat.
Sang Honghua menggelengkan kepala. "Ada apa dengan anak ini hari ini? Ditelepon tidak diangkat, dikirimi pesan juga tidak dibalas. Jangan-jangan terjadi sesuatu di jalan..."
"Hush hush hush, mana ada orang yang mendoakan anak sendiri begitu... Minggir kamu, biar aku coba telepon sekali lagi..."
Zou Ruiqin merebut ponsel itu dan kembali melakukan panggilan. Untungnya, kali ini panggilan tersebut tersambung.
Namun, bukan putrinya yang mengangkat, melainkan suara seorang pria asing.
"Siapa ya? Ini nomor ponsel putriku, aku tidak salah panggil kan..."
Sheng Xilou duduk di tepi ranjang, merapikan selimut Sang Yu, dan menyelipkan beberapa helai rambut yang berantakan ke belakang telinganya.
"Oh, mohon jangan salah paham. Saya atasannya. Tadi saat jam pulang kerja, saya melihatnya pingsan di area parkir terbuka kantor, jadi saya berinisiatif membawanya ke rumah sakit. Kelalaian saya karena terlambat mengabari Anda..."
Mendengar nada bicara yang bernada meminta maaf dari seberang telepon, pasangan Sang Honghua merasa sedikit lega, meski tetap merasa khawatir.
"Kalau begitu, terima kasih banyak ya..."
"Ngomong-ngomong, Paman dan Bibi, kalian tidak perlu khawatir. Begitu cairannya habis, saya akan langsung mengantarnya pulang, tidak akan terlambat sedetik pun."
Seolah tahu apa yang hendak dikatakan oleh pihak di sana, Sheng Xilou langsung memotong tanpa ragu.
"Baguslah kalau begitu, benar-benar terima kasih banyak ya..."
Tepat setelah botol infus terakhir habis, rona wajah Sang Yu mulai pulih sedikit, meski tubuhnya masih terasa lemah.
Ia perlahan membuka kedua matanya, mengamati lingkungan sekitar. Suasana di luar jendela sudah sangat gelap gulita.
Ia menyadari dirinya berada di dalam kamar rumah sakit, dan seorang kenalan sedang duduk di samping ranjang.
"Sebaiknya aku menyapa atau pura-pura pingsan saja ya?"
Pikir Sang Yu dalam hati.
Belum sempat ia menentukan pilihan, bayangan seseorang perlahan menutupi pandangannya dari atas. Itu adalah Sheng Xilou.
Jadi, pria yang membawanya ke rumah sakit sore tadi adalah dia? Astaga, kenapa bisa kebetulan begini?
Sheng Xilou baru saja membalas sebuah pesan WeChat. Ia sedikit mendongkak dan melihat bulu mata gadis itu yang bergetar.
"Kamu sudah bangun? Perutmu masih sakit?"
Sang Yu merasa malas untuk berpura-pura lagi, lalu tersenyum kaku.
"Sudah jauh lebih baik. Terima kasih banyak, Tuan Sheng, karena sudah membawaku ke rumah sakit. Aku sangat berterima kasih..."
"Hmm... Lagipula kita kan... suami istri."
Sambil berucap demikian, pria itu tiba-tiba mendekatkan wajahnya. Telinganya terasa geli oleh embusan napas hangat, dan kata "suami istri" itu terdengar begitu mesra serta sarat makna.
"......"
Bum! Otak Sang Yu mendadak berhenti berpikir.
"Sudahlah, aku tidak ingin menggodamu lagi. Waktu sudah semakin malam, aku akan mengantarmu pulang."
"Tidak usah..."
Kata-kata selanjutnya belum sempat terlontar, sudah dibuat membeku di tempat oleh ucapan Sheng Xilou berikutnya.
"Oh ya, saat kamu pingsan tadi, Paman dan Bibi meneleponmu. Aku sudah menjelaskan semuanya kepada mereka..."
"....."
Ah... bunuh saja aku sekarang...
Sheng Xilou tadinya berniat memapah Sang Yu, tetapi ditolak oleh gadis itu.
Dengan alasan bahwa ia hanya mengalami nyeri haid biasa, jadi tidak perlu bersikap terlalu berlebihan.
Sementara itu, sang sopir sudah tidak terlihat lagi. Sore tadi, saat Sheng Xilou membawa Sang Yu ke rumah sakit, ia sudah menyuruh sopirnya itu pulang lebih dulu.
Alamat rumah Sang Yu sudah diketahui oleh Sheng Xilou sebelumnya, jadi ia langsung memasukkannya ke dalam navigasi peta.
Kira-kira setengah jam kemudian, Sang Yu melihat pohon pagoda tua di gerbang kompleks perumahannya, bergoyang tertiup kencang oleh angin musim dingin.
Di tengah perjalanan, ia hampir tertidur pulas karena buaian udara hangat dari penghangat di dalam mobil.
"Tuan Sheng, Anda cukup turunkan saya di sini saja. Saya bisa jalan kaki sampai ke dalam, jaraknya sudah tidak jauh lagi..."
Sang Yu mendahului Sheng Xilou berbicara, lalu melepas sabuk pengamannya, mengambil tasnya, dan mendorong pintu mobil untuk keluar. Serangkaian tindakan itu dilakukannya dalam satu gerakan lancar.
"......"
Tanpa memberi kesempatan sedikit pun kepada Sheng Xilou untuk membalas, ia melambaikan tangan ke dalam mobil dari balik kaca jendela. "Tuan Sheng, hati-hati di jalan..."
Baru saja ia berbalik, ia langsung melihat dua sosok cemas berdiri di gerbang kompleks. Mereka adalah pasangan Sang Honghua.
Astaga... Kenapa bisa kebetulan begini lagi...? Mau berkata apa lagi coba?
Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari tiga langkah dalam dua gerakan menuju ke arah kedua orang tuanya, berusaha sebaik mungkin untuk menghalangi pandangan mereka.
"Ayah, Ibu, ayo pulang. Waktu sudah malam begini, di luar dingin sekali, kalian ini sebenarnya mau apa berdiri di sini..."
Namun, pasangan Sang Honghua seolah tidak mendengar ucapannya, mereka langsung melewati putrinya dan berjalan menuju mobil Sheng Xilou.