057 Apa? Menikah?
Ibu dan anak itu melangkah masuk ke dalam vila, sementara di ruang makan, persiapan makan malam sedang berlangsung.
"Kakak sulung sudah kembali, silakan duduk terlebih dahulu."
Kepala pelayan kemudian pergi ke dapur untuk menyiapkan satu set mangkuk dan sumpit tambahan.
Di meja makan, suasana terasa hening seperti biasa, hanya diisi oleh suara lembut benturan mangkuk dan sumpit.
Berbeda dengan Sheng Xilou yang sedang menikmati makanannya dengan tenang, Cen Yahian tampak agak aneh, meskipun tidak seorang pun berani mempertanyakan keanehan itu.
Usai makan malam, seluruh anggota keluarga duduk di ruang makan, masing-masing sibuk dengan urusan mereka sendiri.
Setelah berjalan-jalan sejenak di luar seusai makan, Nyonya Besar merasa agak mengantuk dan memutuskan kembali ke kamar untuk beristirahat.
Sheng Jiajia dan Sheng Jiacheng masih duduk di sudut sofa, asyik bermain gim video tanpa berani menyalakan peladen suara.
Pasangan Sheng Liqing juga telah kembali ke kamar mereka. Sementara itu, Sheng Xilou duduk dengan tegap di sofa, menatap lurus ke arah layar televisi yang sedang menayangkan siaran berita.
*Berdengung...*
Ponsel Sheng Xilou yang diletakkan di atas meja kopi tiba-tiba bergetar, menandakan ada seseorang yang menghubunginya untuk urusan mendesak.
Ia mengambil ponselnya dan melihat nama Luo Zongwen tertera di layar. Menelpon pada jam seperti ini jelas bukan pertanda baik.
Melangkah melewati ruang keluarga, ia menuju ke area luar yang lebih sepi.
"Halo... ada apa?"
"..."
"Oh? Begitu cepat bertindak, sedikit lebih lambat dari perkiraanku."
Sheng Xilou menjawab panggilan tersebut. Entah apa yang dikatakan oleh orang di sebrang sana, pria itu tersenyum dingin.
"..."
"Tunggu dan lihat saja dulu, aku ingin tahu trik apa lagi yang bisa mereka mainkan... Lanjutkan pengamatan, dan segera laporkan jika ada pergerakan."
"..."
Panggilan itu berakhir. Pria tersebut menyimpan ponselnya, lalu mendongak menatap langit malam yang kelam. Cakrawala yang terbentang luas itu tampak kosong tanpa sebutir bintang pun, dan bahkan sang rembulan seakan turut mengambil cuti malam ini.
"Pohon ingin tenang namun angin tak pernah berhenti berhembus..."
Sheng Xilou berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah. Kakak beradik Sheng Jiacheng pura-pura melanjutkan permainan gim mereka, sementara telinga mereka dipasang tajam-tajam untuk mendengarkan gerak-gerik kakak sulung mereka.
Sayangnya, sang kakak terlalu berhati-hati; suaranya terlalu pelan, ditambah kedap suara dari kaca jendela yang begitu baik membuat mereka tidak bisa mendengar apa pun.
Sesaat kemudian, Sheng Xilou melintasi ruang keluarga dan langsung naik ke lantai atas.
Kakak beradik itu menghembuskan napas lega, mengira mereka hampir ketahuan oleh sang kakak.
Kamar Sheng Xilou berada di ujung koridor, dan ia berjalan menuju ke sana.
Namun, saat melewati kamar orang tuanya, seberkas cahaya kuning hangat terpancar dari celah pintu, disusul oleh suara percakapan.
"Liqing, menurutmu apa sebenarnya yang dipikirkan oleh A-Lou?"
"Anak sulung itu, isi pikirannya tidak pernah diperlihatkan ke luar, dan dia juga tidak pernah dengan mudah terbuka kepada orang lain," ujar Sheng Liqing sambil merangkul pundak istrinya. "Huh, akhirnya kita bisa melihat ada seorang gadis di sisinya, tetapi dia sendiri malah tidak mengakuinya."
"Benar juga. Aku bahkan menemui gadis itu hari ini. Dia gadis yang baik, hanya saja sepertinya dia memang tidak memiliki perasaan semacam itu terhadap A-Lou..."
"Biarlah semuanya mengalir secara alami. Urusan perasaan selalu tentang kerelaan dari kedua belah pihak. Memaksa sesuatu yang tidak manis tentu tidak akan enak."
"Memang benar begitu, tapi bagaimana jika nanti A-Lou benar-benar menghabiskan sisa hidupnya seorang diri?" suara Cen Yahian terdengar sedikit muram. "Aku tidak berharap dia merawatku di hari tua, setidaknya dia harus sedikit peduli pada kehidupan asmaranya sendiri."
"..."
Percakapan pasangan suami istri itu perlahan meredup dan tidak terdengar lagi saat ia mendorong pintu kamarnya dan melangkah masuk.
Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang yang lembut dan nyaman, menatap kosong ke langit-langit kamar yang putih bersih. Angin malam yang sejuk bertiup masuk melalui jendela yang terbuka.
Hembusan angin itu merasuk ke dalam kamar, menyusup ke lubuk hatinya, dan perlahan menenangkan pikirannya yang sempat sedikit gelisah.
Ketika Sang Yu tiba di rumah, waktu baru saja melewati pukul delapan malam. Zou Ruiqin dan suaminya sedang duduk menonton televisi di ruang keluarga.
Melihat putrinya pulang, mereka berbicara tanpa menoleh, "Makan malam ada di dapur, sepertinya masih hangat..."
"Baik."
Sang Yu melemparkan tasnya ke atas sofa dan beranjak menuju dapur untuk makan.
Pukul sepuluh malam.
Sang Yu bersiap untuk memainkan sebuah gim tembak-tembakan secara daring. Tepat saat ia sedang membentuk kelompok, sebuah panggilan suara masuk ke ponselnya.
Begitu diamatinya dengan seksama, panggilan itu ternyata berasal dari Sheng Xilou. Niat apa sebenarnya yang membuat pria itu menelepon pada jam selarut ini?
Panggilan suara itu berlangsung sekitar satu menit, seolah-olah si penelepon tidak akan berhenti sampai panggilannya diangkat.
Sang Yu mengirimkan pesan teks singkat ke nomor tersebut.
[Sang Yu: Tuan Sheng, ada apa ya? Saya sudah beristirahat.]
Sekitar setengah menit kemudian, balasan pun tiba.
[Tuan Sheng: Salah tekan, maaf. Tadi saya berniat menelepon seorang teman, tapi jari saya tidak sengaja terpeleset.]
[Sang Yu: Tidak apa-apa kalau begitu. Saya akan melanjutkan istirahat, selamat malam.]
Pihak di sana juga membalas dengan ucapan selamat malam, setelah itu tidak ada lagi pesan yang masuk.
Sang Yu mematikan layar ponselnya. Bel akhir-akhir ini, ia menyadari Sheng Xilou kerap kali muncul secara tiba-tiba dan mencari-cari perhatian entah dengan tujuan apa!
Ia berniat tidur lebih awal malam ini. Siang tadi ia benar-benar merasa terkejut, dan tidur adalah cara terbaik untuk memulihkan diri.
"Xiao Yu, bangun, bangun, Xiao Yu..."
Sang Yu mengucek kedua matanya yang masih mengantuk. Nan Xu berdiri di samping tempat tidurnya sambil memanggil namanya.
Dengan suara berat tertahan, ia menarik selimut untuk menutupi kepalanya. "Ada apa, A-Xu? Bukankah kamu harus syuting luar ruangan, kenapa tiba-tiba datang ke rumahku..."
Sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, selimut di tubuhnya ditarik paksa oleh Nan Xu. "Aduh, kamu masih sempat-sempatnya tidur siang! Hari ini kan hari kebahagiaanmu, penata rias sudah menunggu di luar sejak lama, cepat bangun!"
"Apa? Coba ulangi sekali lagi?"
Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dan mendapati kamarnya telah dihiasi dengan dekorasi yang meriah, penuh dengan aksara kebahagiaan tertempel di mana-mana.
Ditambah lagi dengan balon dan pita warna-warni yang menghiasi berbagai sudut ruangan, Sang Yu merasa kebingungan.
Mendengar itu, Nan Xu mengetuk kepala Sang Yu dengan jarinya. "Apakah tidurmu membuatmu kehilangan akal? Hari ini hari pernikahanmu, jangan bilang kamu mau lari dari tanggung jawab sekarang."
Sang Yu begitu terkejut hingga ia melompat dari tempat tidurnya, hampir terjatuh ke lantai.
"Ah, jangan mempermainkanku! Aku ingat... aku ingat aku hanya ingin tidur lebih awal sekali saja... lalu, lalu..."
Nan Xu tidak ingin membuang waktu lagi. Ia menarik paksa Sang Yu dari ranjang dan mendudukkannya di depan meja rias.
"Bagus, sekarang kamu duduk manis di sini dan dilarang bergerak sembarangan!"
Setelah berkata demikian, Nan Xu meneriakkan sesuatu ke arah pintu luar, "Nona Penata Rias, silakan masuk, pengantin wanita sudah siap!"
Tak lama kemudian, seorang wanita berpenampilan modis dan seksi melangkah masuk sambil menarik koper berukuran ekstra besar. Ia berambut ikal panjang dan mengenakan riasan wajah yang natural.
"Pengantin wanita akhirnya siap. Hidangan pesta pernikahan belum sempat kucicipi, tapi air minumku sudah habis seharian..."
Tidak, ini tidak benar. Ia pasti sedang bermimpi saat ini. Ya, ini pasti mimpi, tetapi mengapa terasa begitu nyata?
Omong-omong, siapa sebenarnya pengantin pria itu? Ia tiba-tiba merasa sangat penasaran.
"Baiklah, Pengantin, tolong jangan bergerak, nanti garis mata Anda bisa melenceng..."
Sang Yu duduk dengan patuh di kursi, membiarkan sang penata rias merias wajahnya, sementara Nan Xu berdiri di samping sambil mengamati.
Melirik sekilas, Nan Xu hari ini juga tampak sangat cantik dalam balutan gaun panjang berwarna merah muda tanpa tali sepanjang mata kaki.
"Dasar kulit pengantin wanita ini adalah yang terbaik yang pernah kutemui dalam beberapa tahun terakhir. Putih, halus, dan pori-porinya nyaris tidak terlihat."
Sang Yu merasa sedikit melayang karena pujian itu, namun ia segera menenangkan diri dan mencoba tetap bersikap anggun.
Setelah dirias selama lebih dari satu jam, Sang Yu didesak untuk mengenakan gaun pengantinnya—sebuah gaun bergaya putri duyung berwarna putih keperakan dengan potongan bahu terbuka dan ekor panjang, serta detail berlubang di bagian dada yang ditaburi butiran berlian kecil berkilauan.
"Ahhhhh, Sista, ini benar-benar luar biasa! Biar aku ambil foto dulu untuk kenang-kenangan."
Nan Xu menjerit kegirangan bagaikan seekor tikus tanah, buru-buru mengeluarkan ponselnya dan menjepretkan kamera beberapa kali.
"Sudah selesai belum, Sista?"
Nan Xu memberikan gestur setuju, lalu menyimpan ponselnya dan mengitari Sang Yu sambil menatap dengan kekaguman yang sulit disembunyikan.
"Xiao Yu, memang harus kamu orangnya. Gaun pengantin ini sangat cocok untukmu, pas di badan dan menonjolkan bentuk tubuhmu dengan sempurna. Aku benar-benar mengagumi selera estetikamu, Sista."
Sang Yu tersenyum masam. "Cocok memang cocok, tapi kalau dipakai terlalu lama rasanya agak sulit bernapas. Inilah harga yang harus dibayar demi sebuah keindahan."
Sebab itu, Sang Yu duduk sejenak di tepi ranjang untuk mengatur napas. Ia tadinya ingin minum seteguk air, namun dicegah oleh Nan Xu karena jika ia minum, kemungkinan besar perut buncitnya akan terlihat di balik gaun.
Ia hanya bisa duduk terpaku di atas ranjang, menunggu rangkaian acara berikutnya.
Waktu menunjukkan lewat pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. Saat Sang Yu sedang memainkan ponselnya, kamarnya telah dipadati oleh para kerabat.
Pada saat yang sama, suara letupan kembang api terdengar bertubi-tubi dari luar.
Apakah pengantin pria sudah datang untuk menjemputnya? Oh, akhirnya ia bisa melihat siapa pengantin prianya. Ia sungguh ingin tahu siapa sebenarnya pria itu.