032 Bumerang
Sang Yu membuang busa sabun dari mulutnya dan terburu-buru membasuh wajah.
Sembari duduk di meja belajar untuk bersiap menggunakan produk perawatan kulit, ia bertanya, "Memang ada, tapi dari mana kau tahu?"
Nan Xu memasang ekspresi seolah dia tahu segalanya. "Jangan tanya aku dulu, coba buka Weibo sekarang. Suasananya sedang sangat ramai."
Sebuah firasat buruk muncul di benak Sang Yu. Instingnya mengatakan agar ia tidak membukanya, karena itu bisa mengancam nyawanya.
Ia keluar dari aplikasi pesan singkat dan membuka Weibo. Sekilas tidak ada yang berbeda, linimasanya masih dipenuhi berita umum. Namun, perhatiannya segera tertuju pada beberapa tagar yang sedang tren.
#AnakAnjingGanasAtauAnakAnjingManja#
#KakDaYongMemangBerani#
#MuYuMuYu#
Dengan tangan gemetar, Sang Yu mengeklik tagar teratas. Sebuah artikel terpampang jelas di sana, dan gaya tulisannya terasa sangat familier. Setelah membacanya, keringat dingin mulai bercucuran di punggungnya.
"Gawat, apa-apaan ini..."
Ia kemudian membuka beberapa tagar lainnya, dan tak disangka, semuanya membahas artikel yang sama. Sang Yu masih tidak habis pikir, bagaimana mungkin hal ini bisa masuk ke daftar tren? Ia sudah menghapus unggahan Weibo sebelumnya; mungkinkah ada seseorang yang usil mengambil tangkapan layar dan sengaja ingin menjatuhkannya?
Sang Yu membeku, tidak bereaksi sama sekali hingga Nan Xu memanggilnya beberapa kali.
"Teman, hei, kau masih di sana? Apa rencanamu setelah ini?"
"Apa lagi yang bisa kulakukan? Pilihannya cuma menutup akun cadangan ini atau bersikap tidak tahu apa-apa. Tapi rasanya, pilihan mana pun akan berujung pada kehancuran," jawab Sang Yu lemas.
"Sudahlah, bicaranya nanti saja. Sudah hampir waktunya, aku harus berangkat kerja. Kurasa hanya dengan bekerja hatiku yang dingin ini bisa kembali hangat..."
Saat baru keluar dari stasiun kereta bawah tanah, ia mampir ke kedai kopi di bawah gedung kantornya untuk membeli secangkir kopi hitam panas, lalu berdiri di antrean belakang untuk menunggu lift. Segalanya tampak normal, membuat Sang Yu sedikit lega.
Sepertinya tidak ada yang peduli dengan tren di Weibo itu, lagipula hanya segelintir orang yang tahu akun cadangannya. Nan Xu tahu pun karena kebetulan saja.
Aroma musim dingin semakin terasa, pendingin ruangan di departemennya mulai bekerja sepanjang hari. Sang Yu merasa sedikit mengantuk, lalu menyesap kopi hitamnya.
Saat jam makan siang, rekan-rekan kerjanya berbondong-bondong pergi ke kantin perusahaan. Ketika Sang Yu sampai di sana, tempat itu sudah sangat padat. Saat ia sedang bingung hendak makan apa, suasana kantin mendadak hening selama beberapa detik. Tak lama kemudian, ia membawa nampannya dan duduk di sudut dekat jendela, satu-satunya tempat yang kosong.
Setengah jam kemudian, ia membawa nampannya ke tempat pengembalian alat makan, lalu bersiap naik lift untuk kembali ke kantor. Di jam istirahat, lorong terasa sangat sepi, hanya menyisakan suara derap sepatu botnya.
Ia menekan tombol lantai atas dan mengeluarkan ponsel untuk mengecek tren di Weibo. Tiba-tiba, terdengar langkah kaki yang mantap dan tegas dari belakangnya. Sang Yu mengira itu rekan kerja yang juga ingin naik lift, jadi ia tidak terlalu memedulikannya.
Saat pintu lift terbuka dengan bunyi "ting", ia segera melangkah masuk. Setelah menekan tombol lantainya, ia kembali menatap ponsel. Orang di belakangnya pun ikut masuk. Namun, setelah sekian lama, orang itu tidak menekan tombol lantai mana pun.
Tanpa menoleh, Sang Yu bertanya, "Lantai berapa..."
"Lantai dua puluh lima, terima kasih..."
*Hiss*, mengapa suara ini terdengar familier? Di mana ia pernah mendengarnya? Pikirannya mendadak kacau, dan tiba-tiba sebuah wajah melintas di benaknya.
"Tidak mungkin," batinnya. "Bagaimana mungkin dia ada di sini? Bukankah seharusnya dia berada di ruang direktur utama sekarang?"
Sang Yu menyimpan ponselnya dan melirik ke arah orang yang berdiri di belakangnya. Habislah sudah. Mengapa ia harus satu lift dengan sang bos besar, dan sialnya, harus terlihat dalam keadaan yang berantakan seperti ini?
"Selamat siang, Pak Sheng..." Sang Yu terpaksa menyapa, berharap lift segera sampai.
"Ting."
Lift sampai di lantainya. Saat hendak melangkah keluar, suara rendah yang seksi dan sedikit bernada menggoda terdengar dari belakang.
"Nona Sang, ada sesuatu yang ingin kutanyakan. Mari mampir ke ruanganku untuk minum teh sebentar..."
Satu kaki Sang Yu sudah berada di luar lift, namun mendengar ajakan itu, punggungnya terasa dingin seolah ada predator besar yang sedang mengincarnya.
"Hehehe, katakan saja langsung, Pak. Saya baru ingat ada data yang belum selesai dikerjakan, saya harus segera kembali..." Ia berharap bosnya mengerti kode tersebut.
Sayangnya, sang bos pura-pura tidak mengerti dan tetap bersikeras mengundangnya. "Bagaimana? Tidak mau? Atau perlukah aku menelepon manajer departemen kalian sekarang untuk memastikannya?"
Sheng Xilou berpura-pura hendak mengeluarkan ponsel. Sang Yu hanya bisa meratap dalam hati, cobaan apa lagi ini?
"Tidak, tidak, jangan. Tiba-tiba saya ingat, ternyata saya salah ingat tadi..."
"Buk!" Pintu ruang kerja direktur utama tertutup pelan di belakangnya. Sang Yu merasa seperti domba yang siap disembelih, gemetar menunggu santapan terakhir.
Sang Yu berdiri tak jauh dari meja kerja. Sheng Xilou duduk di dekat hiasan batu di samping meja teh. Di atas meja sudah tersedia dua cangkir teh.
Ia mencoba memberanikan diri untuk bertanya, "Pak Sheng, ini..."
Pria itu hanya memberi isyarat agar ia mendekat. Sang Yu melangkah dengan berat hati, merasa duduk di atas duri.
"Cobalah teh Tieguanyin ini. Teh baru tahun ini, rasanya lumayan."
Sang Yu ingin sekali membalikkan meja itu, tapi ia tetap mempertahankan senyum di wajahnya. Ia menyesap tehnya. Aroma teh menguar, dengan helai daun yang mengapung di permukaan air keemasan. Rasanya pekat, meninggalkan jejak manis yang tahan lama, dengan aroma anggrek yang khas. Pantas saja teh ini dijuluki sebagai teh yang "tujuh kali seduh masih tetap wangi."
Namun, sekarang bukan saatnya menikmati teh, karena tatapan pria di depannya masih tertuju padanya.
"Ya, sangat enak. Berkat undangan Pak Sheng, saya bisa mencicipi teh Tieguanyin yang langka ini."
Ya, komentar itu cukup sopan, seharusnya tidak ada celah.
"Ya, menurutku juga sangat langka. Tapi ada satu hal yang membuatku penasaran dan perlu dijelaskan oleh Nona Sang."
Sang Yu memutar bola matanya dalam hati. *Apa ada hal yang tidak kau ketahui? Kau sedang bercanda, ya!*
"Eh? Pak Sheng pasti sedang bercanda, bukan?"
Sheng Xilou menggeleng. "Sama sekali tidak."
"......"
Sheng Xilou tidak bertele-tele lagi. "Kurasa kau sudah melihat tren di Weibo pagi ini, kan?"
Mendengar kata "tren", Sang Yu langsung paham. Potongan-potongan kejadian yang tidak berhubungan kini menjadi masuk akal.
"Apa maksud Bapak? Saya tidak mengerti..." Ia kembali berpura-pura tidak tahu. "Tren apa? Saya tidak tahu apa-apa..."
"Heh..."
"Prak!"
Saat Sang Yu mengira semuanya sudah selesai, ia melihat beberapa lembar kertas disodorkan dari seberang meja. Isinya adalah tangkapan layar tren Weibo beserta detailnya. Akun cadangannya terpampang jelas dengan huruf tebal, lengkap dengan unggahan pribadinya, termasuk swafoto yang ia unggah karena keisengannya sendiri.
Ini benar-benar bukti yang memojokkannya. "Ini... Pak Sheng, Anda..."
"Berani-beraninya kau menjodohkan bosmu sendiri. Sebenarnya dari mana kau mendapatkan keberanian sebesar itu, hm?"
Mendengar itu, Sang Yu menunduk lebih dalam lagi, hampir ingin menggali lubang untuk mengubur dirinya sendiri.