Bab 57 Bagaimana kalau menjadi dokter hewan saja
Begitu Liang Ji'an mendengar bahwa Liang Huan belum makan, dia tidak berani mengobrol dengannya lagi dan segera mendesaknya untuk pergi makan.
Liang Huan tidak sungkan-sungkan. Dia tersenyum meminta maaf kepada mereka, lalu melangkah menuju dapur.
Setelah dia pergi, Liang Jixiang dengan penasaran memandang Song Tingyue dan bertanya, "Saudara Song, ke mana perginya Adik Liang Huan? Kenapa wajahnya sangat pucat?"
Ketika mereka datang tadi, mereka sempat bertanya pada Song Tingyue, tetapi saat itu mereka hanya bertanya sekilas dan tidak mendalaminya.
Song Tingyue menjawab, "Katanya dia pergi keluar bersama Tabib Ma. Kalian lanjutkan saja pekerjaan kalian, aku akan pergi melihatnya."
Melihat ekspresi cemas di wajah Song Tingyue, baik Liang Jixiang maupun Liang Ji'an sama sekali tidak merasa terganggu. Mereka langsung menyahut, "Cepatlah pergi melihatnya."
Song Tingyue lantas meletakkan barang di tangannya, menyeret kakinya yang terluka, dan masuk ke dapur dengan langkah tergesa-gesa namun lambat.
Begitu tiba di dapur, Liang Huan sudah mengeluarkan daging ayam yang dihangatkan untuknya di dalam panci dan mulai memakannya. Mendengar suara langkah kaki, dia mendongak dan meliriknya sekilas.
Melihat Liang Huan memegang bakpao di satu tangan dan daging ayam di tangan lainnya, makan dengan lahap sampai wajahnya tampak berantakan, Song Tingyue bertanya dengan nada penuh rasa iba, "Apakah nyawanya tidak berhasil diselamatkan?"
Sebab dalam ingatannya, hanya jika pasien tidak berhasil diselamatkan, seseorang akan tampak begitu kacau dan kelelahan.
Liang Huan menelan makanannya terlebih dahulu sebelum menjawab, "Berhasil diselamatkan."
"Kalau berhasil diselamatkan, kenapa mereka memperlakukanmu seperti ini, bahkan tidak membiarkanmu makan sepiring nasi pun sebelum menyuruhmu pulang?"
Jika awalnya Song Tingyue merasa iba, maka saat ini Song Tingyue merasa marah.
Liang Huan tidak mengerti mengapa Song Tingyue marah hanya karena urusan makanan. Dengan polosnya dia menjawab, "Mereka memberiku uang imbalan."
Melihat Liang Huan benar-benar tampak tidak tahu apa-apa, Song Tingyue menjelaskan dengan perasaan tak berdaya, "Kamu telah menyelamatkan nyawa mereka, sudah sewajarnya mereka memberimu uang imbalan."
"Tetapi sekarang sudah lewat tengah hari, dan mereka bahkan tidak memberimu jamuan makan yang layak. Itu hanya menunjukkan bahwa keluarga tuan rumah tersebut entah pelit atau memiliki perangai yang buruk."
Liang Huan tertegun sejenak. Sejujurnya, dia memang merasa Tuan Zhang bersikap mencurigakan padanya, tetapi dia tidak menyangka masalahnya bahkan sampai menyangkut urusan makanan.
"Mungkin mereka terlalu sibuk sampai lupa?" Liang Huan bertanya balik secara setengah menebak.
Song Tingyue menggelengkan kepalanya dengan tegas, "Tidak mungkin."
"Saat kamu pergi tadi, aku sudah bertanya pada Liang Dong. Katanya Tuan Zhang adalah orang terkaya di kota kita, dan rumahnya memiliki banyak pelayan serta pengurus. Tidak mungkin mereka bisa melupakan hal sesederhana itu, kecuali mereka sengaja melakukannya."
"Aku dengar kamu dijodohkan dalam pernikahan hantu dengan putra sulung Tuan Zhang. Masalah itu belum beres ya?"
Saat dia dan Song Tingyue membuat kesepakatan, dia hanya mengatakan bahwa dirinya membutuhkan seorang suami yang tinggal di rumah keluarga istri, tanpa menceritakan urusannya dengan putra sulung Tuan Zhang. Rupanya bocah Liang Dong itu lagi yang telah membocorkan rahasianya.
Melihat Song Tingyue sudah mengetahuinya, Liang Huan tidak lagi menutup-nutupinya. "Tunggu aku menghabiskan suapan ini, baru aku ceritakan padamu."
Melihat Liang Huan memang kelaparan, Song Tingyue tidak mendesaknya. "Makanlah pelan-pelan, tidak usah terburu-buru."
"Aku mau keluar dulu untuk menemui Jixiang dan yang lainnya."
Liang Huan berkata, "Baiklah, nanti malam aku ceritakan. Kerjakan dulu pekerjaanmu."
"Hmm," balas Song Tingyue.
Begitu Song Tingyue melangkah keluar, Liang Ji'an tidak bisa menahan rasa penasarannya dan langsung bertanya, "Ada apa dengan Adik Liang Huan?"
Song Tingyue menjawab, "Kelaparan. Setelah makan nanti, warna wajahnya juga akan membaik."
Takut Song Tingyue merasa khawatir, Liang Jixiang buru-buru menghiburnya, "Keluar bersama Tabib Ma memang seperti itu. Segala macam situasi bisa ditemui, kadang-kadang seharian penuh tidak sempat makan, kecuali jika kebetulan bertemu keluarga yang sedang mengadakan hajatan dan menyediakan makanan."
"Tapi, bagaimana bisa Adik Liang Huan pergi bersama Tabib Ma?"
Song Tingyue menjelaskan, "Dia sekarang telah berguru pada Tabib Ma, jadi tentu saja dia harus mengikuti ke mana pun Tabib Ma pergi."
Hal ini cepat atau lambat pasti akan diketahui orang, jadi Liang Huan tidak meminta mereka merahasiakannya. Jika ada yang bertanya, katakan saja yang sebenarnya.
Mendengar hal itu, Liang Jixiang dan Liang Ji'an sama-sama terkejut. "Berguru pada Tabib Ma?"
"Hmm," angguk Song Tingyue.
Liang Ji'an tidak dapat menahan diri lagi dan berseru dengan suara lantang, "Bukankah Tabib Ma tidak pernah menerima murid?"
Dulu kakeknya juga ingin kakak sulungnya berguru pada Tabib Ma, tetapi Tabib Ma beralasan bahwa kemampuan medisnya masih dangkal dan menolak permintaan tersebut. Tak disangka, sekarang Tabib Ma justru tiba-tiba menerima Liang Huan sebagai muridnya.
Dengan wajah tanpa dosa, Song Tingyue berkata, "Kalau soal itu, aku tidak tahu bagaimana cerita sebenarnya."
Tepat pada saat itu, Liang Huan tiba-tiba keluar dari dalam rumah. Begitu melihatnya, Liang Ji'an langsung mengejar dan bertanya, "Adik Liang Huan, bagaimana caranya kamu bisa membuat Tabib Ma bersetuju menerima mu sebagai murid?"
Setelah mendengarnya, Liang Huan berpikir sejenak dengan serius, lalu menjawab, "Mungkin karena aku sangat sial!"
Liang Ji'an tertegun. "Bagaimana bisa begitu?"
Melihat ekspresi wajah pemuda itu, Liang Huan tersenyum malu-malu. "Karena setiap kali dia datang untuk mengobati anggota keluargaku, aku tidak pernah punya uang untuk membayarnya."
"Tabib Ma pasti merasa dirugikan, jadi dia menerimaku agar aku bisa bekerja kasar untuknya."
Alasan itu sudah didiskusikannya terlebih dahulu dengan Tabib Ma, dan mereka sepakat untuk memberikan jawaban yang sama kepada siapa pun yang bertanya.
Jika orang lain yang mengatakannya, Liang Ji'an mungkin tidak akan percaya. Tetapi begitu disebutkan bahwa itu ulah Tabib Ma, cerita tersebut langsung terasa delapan puluh persen dapat dipercaya.
"Kalau begitu keberuntunganmu benar-benar luar biasa. Dulu kakak sulungku memohon padanya pun tidak diterima."
Begitu kata-kata itu keluar, Liang Jixiang langsung menegur dan memperingatkan Liang Ji'an.
Liang Ji'an melirik kakaknya dengan rasa tidak terima, namun pada akhirnya dia tidak berani berkata apa-apa lagi.
Melihat perawakan Liang Jixiang, Liang Huan tersenyum dan berkata, "Kalau jadi aku, aku juga tidak akan berani menerima Kak Jixiang sebagai murid."
Amarah Liang Ji'an yang baru saja diredam langsung tersulut kembali. "Apa maksudmu? Apakah kamu pikir kakakku tidak sebaik dirimu?"
"Aku sama sekali tidak bermaksud begitu," bantah Liang Huan.
"Coba saja lihat perawakan Kak Jixiang ini. Jika dia menjadi tabib, siapa yang berani membiarkannya mengobati penyakit mereka! Dijamin gadis-gadis muda dan para pengantin baru akan ketakutan sampai menangis."
Para pemuda di keluarga kepala desa tua itu semuanya berbadan tegap seperti anak sapi jua, sama sekali tidak tampak seperti sosok seorang tabib.
Liang Ji'an seketika membayangkan penampilan Tabib Ma yang anggun bagaikan dewa, dan langsung merasa bahwa perkataan Liang Huan ada benarnya juga.
"Aduh, lihatlah kepalaku ini. Kenapa aku tidak memikirkannya? Orang berbadan besar seperti kakakku memang tidak akan ada yang berani mencari jasanya untuk berobat."
Liang Jixiang yang baru saja diremehkan hanya bisa terdiam...
Namun, Liang Ji'an sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya telah menyinggung perasaan sang kakak. Sebaliknya, dia malah bertanya kepada Liang Huan dengan penuh antusias, "Menurutmu, orang yang seperti kakakku ini sebaiknya bekerja sebagai apa?"
"Bagaimana kalau menjadi dokter hewan? Mengobati hewan ternak sepertinya tidak akan ada yang protes, kan?"
Mendengar itu, Liang Huan langsung melirik sekilas ke arah Liang Jixiang, lalu tak kuasa menyetujuinya. "Boleh juga! Dengan postur tubuh sebesar Kak Jixiang ini, pasti cocok."
Begitu kalimat itu selesai diucapkan, lengannya tiba-tiba ditarik oleh Song Tingyue. Liang Huan menoleh dengan wajah penuh kebingungan. "Kenapa kamu menarikku?"
Melihat Liang Huan benar-benar tidak paham, Song Tingyue menjelaskan dengan perasaan pasrah, "Perawakan Jixiang memang kekar, tetapi jika hanya dijadikan dokter hewan, itu terlalu menyia-nyiakan bakatnya. Menurutku, dia lebih cocok pergi ke medan perang untuk bertempur."
"Mendapatkan gelar kebangsawanan mungkin sulit dipastikan, tetapi menjadi perwira tingkat menengah seharusnya tidak ada masalah."
Begitu ucapan itu meluncur, raut wajah Liang Ji'an langsung berubah menjadi muram masam. "Kami berdua sebenarnya ingin pergi, tetapi kakek tidak mengizinkan. Beliau selalu bilang bahwa situasi istana saat ini sekilas terlihat damai, tetapi beberapa tahun lagi pasti akan terjadi kekacauan."
Mendengar kata-kata itu, warna wajah semua orang yang ada di sana langsung berubah. Liang Jixiang merasa kesal karena saudaranya tidak tahu diri, sementara Liang Huan dan Song Tingyue sama sekali tidak menyangka pemuda itu berani mengatakan hal semacam itu secara terang-terangan.
Tepat di tengah suasana yang suram tersebut, Song Tingyue tiba-tiba angkat bicara, "Apa yang dikatakan oleh Kepala Desa Tua ada benarnya. Situasi istana saat ini memang hanya tampak damai di permukaan saja."