Bab 43 Mengandung Racun dan Tidak Bisa Dimakan
Liang Lianhua berjalan bersamanya dan berhenti di depan sepetak sayur liar pegunungan, lalu berkata, "Kita gali di sini saja, dekat dengan mereka, jadi kalau ada apa-apa gampang memanggil."
Liang Huan melirik ke posisi yang dipilih oleh Liang Lianhua, mengangguk tanpa membantah.
Melihat Liang Huan setuju, Liang Lianhua menarik tangannya dari lengan Liang Huan dan mulai mengeluarkan alat-alat dari keranjangnya.
Melihat hal tersebut, Liang Huan bergeser dua langkah ke samping, memastikan mereka tidak saling mengganggu, lalu meletakkan keranjang punggungnya dan mengeluarkan cangkul kecil untuk mulai menggali sayur liar.
Sayur liar pegunungan di area ini tumbuh sangat lebat, tetapi karena musimnya sudah lewat, sebagian besar sudah tua dan tidak bisa dimakan lagi, jadi mereka berdua harus memilih-milih saat menggali.
Cara menggali Liang Huan berbeda dengan Liang Lianhua. Dia tidak hanya menghindari yang sudah tua, tetapi daun yang kuning, yang digigit hama, yang tidak enak, semuanya tidak ia ambil.
Tidak lama kemudian, Liang Lianhua telah menggali setengah keranjang kecil, lalu menoleh ke arah Liang Huan dan melihat keranjang punggung kecil gadis itu hanya berisi beberapa helai yang tampak lumayan bagus.
Liang Lianhua menunduk melihat keranjangnya sendiri, lalu mencuri pandang ke arah keranjang Liang Huan. Setelah ragu sejenak, ia pun membuka suara, "Adik Huan, semua yang di sebelahmu itu tidak kamu ambil?"
Mendengar suaranya, Liang Huan menoleh ke arahnya. Ia melihat Liang Lianhua menatapnya dengan ekspresi serba salah, melirik sekilas ke samping, lalu tersenyum menjawab, "Semua itu sudah terlalu tua, dipetik pulang pun tidak bisa dimakan."
Mendengar itu, Liang Lianhua menunjuk ke salah satu sayur liar di dekat Liang Huan dan bertanya, "Kalau yang itu?"
Liang Huan langsung menggali sayur yang ditunjuk itu dan berkata, "Kamu maksud ini?"
"Daunnya terlalu kuning. Kalau dibawa pulang dan dibuang bagian yang rusak, sisanya tinggal sedikit sekali."
Setelah berkata demikian, ia melirik keranjang Liang Lianhua dan berkata, "Kak Lianhua, ada satu hal yang tidak tahu pantas atau tidak kukatakan."
Meskipun tampak lembut dan rapuh, karakter Liang Lianhua tidaklah lemah ataupun dibuat-buat. "Tidak apa-apa, katakan saja."
Mendengar ucapan itu, Liang Huan tidak sungkan-sungkan lagi. "Aku tahu sekarang sudah mau musim dingin, dan kamu ingin menggali lebih banyak sayur liar untuk dikeringkan dan dimakan, tetapi sebagian besar yang kamu gali itu sudah tidak layak makan."
"Daripada bersusah payah membawanya pulang, lebih baik memilihnya langsung di sini. Nanti sesampainya di rumah pun jadi lebih praktis."
"Lagipula, di sini ada hamparan yang begitu luas. Sekalipun kamu memilih-milih saat menggali, kamu tetap akan dapat banyak."
Mendengar kata-kata itu, Liang Lianhua tertegun sejenak, lalu wajahnya mulai memerah dan matanya dipenuhi rasa sungkan.
"Ma-, maafkan aku. Aku tidak memikirkan sampai sejauh itu, dan ku-, kukira kamu..."
Sambil tersenyum, Liang Huan menggodanya, "Kukira aku terlalu pemilih dan banyak mengeluh, begitu?"
Meskipun tidak mengerti arti istilah pemilih dan banyak mengeluh, Liang Lianhua tahu gadis itu sedang menertawakannya, membuat wajahnya semakin merah.
Mengetahui bahwa orang ini mudah malu, Liang Huan tidak menggodanya lagi. "Tenang saja, aku tidak mempermasalahkan hal ini."
"Tadi awalnya aku tidak memberitahumu karena kukira kamu mau membawanya pulang untuk makanan kelinci, jadi aku tidak mengingatkanmu."
Di rumah kepala desa, selain ladang yang luas, hewan peliharaannya juga banyak, jadi Liang Huan sama sekali tidak berpikiran ke arah sana. Baru setelah Liang Lianhua bersuara mengingatkannya, Liang Huan sadar bahwa sayur itu juga akan dibawa pulang untuk dimakan manusia.
Liang Lianhua berkata, "Ti-, tidak apa-apa."
"Aku akan dengar kata-katamu, aku akan menggali ulang." Sambil berbicara, ia menuangkan seluruh sayur liar di keranjangnya ke tanah, hanya menyisakan beberapa yang bagus saja.
Setelah mereka berdua menggali beberapa saat, Liang Huan menemukan sesuatu yang bagus. Ia menoleh dan memanggil Liang Lianhua, "Kak Lianhua, berhenti menggali sebentar. Aku akan mengajakmu memetik sesuatu yang bagus."
Bingung sejenak, Liang Lianhua mengangkat kepala dan menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya. "Barang bagus apa?"
Liang Huan menjawab, "Nanti kalau sudah sampai, kamu juga tahu." Setelah berkata demikian, ia mengambil peralatannya dan berjalan menuju pohon di depan.
Liang Lianhua melihat sekeliling tetapi tidak menemukan benda bagus yang dimaksud Liang Huan. Namun, karena rasa percaya, ia tetap mengikuti langkah gadis itu.
Ia melihat Liang Huan berhenti di depan sebuah pohon besar, matanya berbinar-binar menatap jamur hitam yang tumbuh di atasnya.
Sebaliknya, wajah Liang Lianhua dipenuhi keheranan. "Barang bagus yang kamu maksud bukan benda ini, kan?"
Tanpa berpikir panjang, Liang Huan mengangguk.
Melihat reaksi tersebut, tanpa pikir panjang Liang Lianhua menarik lengan gadis itu untuk pergi. "Kamu sudah gila ya? Benda itu beracun, tidak bisa dimakan."
Namun, tenaga kecilnya itu sama sekali tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Liang Huan.
Uluran tangan Liang Huan seketika menariknya kembali. "Kak Lianhua, percayalah padaku, benda ini benar-benar bisa dimakan."
Mendengar itu, Liang Lianhua langsung panik. "Benda ini sungguh tidak bisa dimakan."
Terakhir kali keluarga Douzi kelaparan, mereka memetik jamur ini. Setelah memakannya, seluruh anggota keluarga kehilangan nyawa."
Mendengar keyakinan dalam nada bicara Liang Lianhua, Liang Huan pun sempat meragukan dirinya sendiri. "Tunggu sebentar." Sambil berkata demikian, ia mengulurkan tangan dan memetik selembar jamur dari pohon.
Ia merobeknya, meremusnya, dan mengamatinya dengan cermat hingga yakin bahwa itu benar-benar jamur kuping yang ia kenal.
"Selain jamur jenis ini, apakah keluarga Douzi juga makan jamur jenis lain?"
Setelah berpikir sejenak, Liang Lianhua menjawab, "Makan, mereka makan beberapa jenis, tetapi jumlahnya sedikit, dan jamur inilah yang paling banyak."
Liang Huan berkata, "Kalau begitu, mereka pasti keracunan karena jamur yang lain, sama sekali bukan karena yang ini."
Setelah menjelaskan demikian, ia tidak berkata apa-apa lagi, melainkan langsung memetik jamur-jamur itu dan memasukkannya ke dalam keranjang punggung.
Liang Lianhua berniat menghentikannya, namun melihat keteguhan di wajah gadis itu, ia takut dirinya sendiri yang keliru. Setelah ragu sejenak, ia bertanya dengan penuh tekad, "Kamu yakin ini benar-benar bisa dimakan?"
Liang Huan menjawab, "Sungguh bisa dimakan, aku sudah pernah memakannya berkali-kali."
"Hanya saja cara pengolahannya perlu diperhatikan, nanti sesampainya di rumah akan kuajari."
Mengingat sepanjang perjalanan gadis itu selalu bersikap tenang dan penuh percaya diri, Liang Lianhua menggertakkan gigi dan berkata, "Baiklah, aku percaya padamu." Sambil berkata begitu, mereka berdua kembali sibuk bekerja.
Ketika hasil petikan mereka sudah cukup banyak, terdengar suara Liang Ji'an memanggil dari kejauhan, "Lianhua, Liang Huan, kemarilah membantu."
Mendengar panggilan itu, mereka berdua tidak berani menunda lagi, segera membereskan barang-barang dan berlari cepat menghampiri anggota keluarga mereka yang lain.
Setibanya di sana, pohon besar itu hampir tumbang, rasanya tinggal kurang satu ayunan kapak lagi.
Liang Jixiang sedang menarik pohon besar itu dengan sekuat tenaga untuk mengendalikan arah tumbangnya.
Tanpa perlu diingatkan oleh siapapun, Liang Huan dan Liang Lianhua langsung meletakkan barang bawaan mereka dan berlari menghampiri Liang Jixiang untuk membantunya menarik tali pengarah.
Melihat semuanya sudah berkumpul, Liang Ji'an meludahi kedua telapak tangannya, berteriak keras, lalu mengayunkan kapaknya menebas pohon tersebut.
Terdengar suara decitan nyaring, dan perlahan-lahan pohon besar itu mulai condong ke bawah.
Ketiga orang itu mengerahkan tenaga bersama-sama, menggertakkan gigi menarik batang pohon ke arah mereka. Begitu melihat pohon itu hampir menimpa tanah, mereka bertiga langsung melepaskan tali di tangan dan melompat lari ke samping.
Begitu keluar dari zona berbahaya, terdengar suara dentuman keras saat pohon besar itu menghantam tanah dengan kuat.
Ketiga orang itu menghela napas lega secara bersamaan. Sambil menatap pohon besar yang tumbang itu, mereka secara kompak mengambil kapak masing-masing dan berjalan menuju bagian dahan yang bercabang.
Untuk membuat perabot dan tempat tidur, yang digunakan hanyalah bagian batang utamanya. Dahan-dahan yang bercabang seperti ini hanya bisa dijadikan kayu bakar.
Namun, di hutan ini ada banyak sekali pohon, bahkan tanpa mengambil dahan ini pun mereka bisa mengumpulkan seikat besar kayu bakar di tempat lain. Oleh karena itu, Liang Huan berniat langsung memotong dan membuang dahan-dahan itu tanpa membawanya pulang.
Keempat orang itu berpencar dan membutuhkan waktu hampir setengah jam untuk memotong seluruh dahan yang bercabang.
Setelah selesai, mereka berempat bekerja sama mendorong batang pohon utama ke pinggir. Liang Ji'an dan Liang Jixiang kemudian bersiap untuk menebang pohon kedua.
Liang Huan mendongak menengok waktu dan melihat hari sudah menjelang siang, ia pun segera mengulurkan tangan untuk menghentikan mereka.