Bab 52: Jangan Anggap Dia Seperti Laki-laki Biasa
Tatapan mata Gao Zhexing begitu tajam dan terang, tak berkedip sedikit pun menatapnya, menelisik hingga ke dalam. Chen Xi sangat mengenal pandangan seperti itu darinya—jika membiarkannya masuk, ujung-ujungnya mereka akan berakhir di atas ranjang. Ia tak ingin menyelesaikan masalah dengan cara seperti itu kali ini, jadi ia tetap diam di tempat.
Ketika melihat Chen Xi tak juga bicara, Gao Zhexing kembali berkata, "Konon katanya, perempuan kalau makan kue, suasana hatinya akan membaik."
"Jadi kau tahu suasana hatiku sedang buruk?" Chen Xi tersenyum hambar, getir menggelayut di sudut bibirnya. "Kalau begitu, Tuan Gao, menurutmu kenapa aku bisa bad mood?"
Gao Zhexing menatapnya beberapa saat, wajahnya sedikit mengeras. Ia tiba-tiba berkata, "Masalah di Putuo Teknologi itu benar-benar membuatmu sesak di dada?"
Chen Xi mengangkat suara, "Benar."
Namun kemarahannya saat itu bukan semata-mata karena urusan Putuo Teknologi saja.
Orang seperti Gao Zhexing muncul sesukanya, menghubungi kapan saja ia mau, seolah hubungan ini sepenuhnya berada dalam kendalinya. Hal itu membuat Chen Xi kesal tanpa alasan yang jelas.
Gao Zhexing memandangi wajah keras kepala Chen Xi, perasaan jengkel mengganjal di dadanya.
Ia selama ini melakukan segala sesuatu tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain, dan tak pernah merasa perlu memberikan penjelasan. Tapi kali ini ia sudah menjelaskan, namun Chen Xi tetap tak mau menerima, tetap bersikap keras kepala.
Belum pernah sebelumnya ia harus begitu gigih mengejar seorang perempuan. Ini pertama kalinya, dan ia merasakan sedikit kekalahan, suasana hatinya pun semakin tidak nyaman.
Ia menundukkan kepala, menatapnya dengan dingin, nada suaranya mengandung ketegasan, "Jadi kau ingin jadi pahlawan, bersitegang denganku demi sebuah perusahaan yang hampir bangkrut!"
Ucapan itu membuat Chen Xi tersinggung sekaligus kecewa. "Kalau kau berpikiran seperti itu, tak ada lagi yang perlu kita bicarakan."
Usai berkata demikian, ia tak menunggu Gao Zhexing bicara lagi, langsung menutup pintu.
Tak heran para psikolog menyimpulkan bahwa pria berasal dari Mars, perempuan dari Venus; cara berpikir mereka memang berbeda dunia.
Malam yang tadinya bisa menjadi kesempatan untuk berdamai, berakhir dengan suasana tak menyenangkan. Esok paginya, tanpa berpamitan, Chen Xi langsung terbang kembali ke Pengcheng.
Sebenarnya ia memang sudah memesan tiket pesawat hari Sabtu untuk kembali ke Pengcheng, karena hari Minggu adalah perayaan ulang tahun Chen Songming.
Setelah ia pergi, Ayu datang melapor pada Gao Zhexing bahwa Chen Xi sudah kembali ke tanah air.
Gao Zhexing mendengar itu dengan wajah muram, tanpa sepatah kata pun. Ia lalu pergi ke kantor cabang untuk rapat, sikapnya sangat tegas. Seorang manajer yang data laporannya meleset, bahkan sempat mendapat teguran keras darinya.
Ayu tahu, biasanya meskipun marah, Tuan Gao jarang menegur bawahan di depan umum. Kali ini ia benar-benar lepas kendali, sepertinya memang ada urusan besar antara dia dan Chen Xi.
Sabtu malam, Chen Xi tiba di Bandara Internasional Pengcheng. He Chengcheng datang menjemputnya.
Setelah Chen Xi naik ke dalam mobil, He Chengcheng bertanya, "Bagaimana perjalananmu ke Tokyo? Ada kejutan spesial?"
Chen Xi menatap He Chengcheng dengan serius, "Mulai sekarang, jangan pernah menceritakan urusanku pada Gao Zhexing lagi."
He Chengcheng mengangkat alis, dalam hati bertanya-tanya, padahal pria itu sudah mengejar ke Tokyo, tapi mereka tetap belum berdamai?
Ia menggoda, "Dia membuatmu marah lagi?"
Chen Xi sendiri bingung harus menjelaskan dari mana. Sebenarnya bukan masalah besar, hanya saja ia merasa tak nyaman tanpa sebab. Ia menghela napas, "Aku benar-benar tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi dia."
He Chengcheng akhirnya membagikan sedikit pengalamannya, "Orang seperti dia, bisa mengejarmu sampai ke Tokyo saja sudah merupakan kompromi besar. Jangan samakan dia dengan pria kebanyakan."
Chen Xi mendengus, "Sekalipun statusnya mentereng, dia tetap manusia. Masa aku harus menganggapnya seperti dewa!"
He Chengcheng mengganti gigi sambil menunggu lampu merah, melirik Chen Xi, nada suaranya mirip seorang kakak menasihati, "Sahabatku, aku selalu merasa kau terlalu sedikit pengalaman soal cinta. Kalau pernah pacaran lebih dari sekali, kau pasti tahu, urusan perasaan itu ya begitu-begitu saja."
"Jujur saja, mungkin kau tak suka dengarnya—pria seperti Gao Zhexing, pasti bukan tipe yang sabar. Tapi dia punya sumber daya, punya kuasa, mau membantumu, itu sudah cukup berharga untuk kau tahan-tahan sedikit. Memang ada pria yang sabar luar biasa, seperti teman lamamu, Wang Haoran. Tapi sudah bertahun-tahun berlalu, kau pernah menyukainya? Selain itu..."
Chen Xi mengernyit, memotong, "Kenapa jadi bahas Haoran lagi?"
"Itulah makanya kusebut kau kurang pengalaman soal cinta. Refleksimu soal perasaan itu lambat sekali. Wang Haoran sudah bertahun-tahun suka padamu, kau masih saja tidak sadar!"
"Apa sih yang kau bicarakan!"
Sebenarnya He Chengcheng tak berniat membongkar perasaan Wang Haoran yang tak pernah tersampaikan. Tapi demi membuat sahabatnya sadar, ia terpaksa menyebutkan hal itu.
"Aku bilang, Wang Haoran memang suka padamu. Orang luar bisa melihat dengan jelas. Sebenarnya, Wang Haoran itu juga menarik, keluarganya baik, sikapnya sangat baik padamu, tipe pria hangat. Tapi kenapa kau tak pernah menyukainya? Jelas, di lubuk hatimu, kau memang lebih tertarik pada pria seperti Gao Zhexing."
Chen Xi tak setuju, membantah, "Siapa bilang aku suka pria seperti Gao Zhexing? Kau bahkan tak tahu bagaimana kami mulai, kami itu..."
Ia malu melanjutkan, tapi malah membuat He Chengcheng semakin penasaran, "Ayo ceritakan, bagaimana kalian mulai?"
Chen Xi malah berkata, "Lampu sudah hijau, jalan."
He Chengcheng melotot, "Paling sebal aku kalau kau ngomong setengah-setengah begitu."
Chen Xi tak menanggapi.
Setelah mobil melaju beberapa saat, He Chengcheng tak tahan, kembali bertanya dengan nada penasaran, "Jadi awalnya, Gao Zhexing yang memaksamu, ya? Sejak pelayaran itu, dia mulai mengejar?"
Chen Xi menjawab santai, "Sebelum itu, aku sudah pernah bertemu dia."
He Chengcheng makin merasa ada sesuatu yang disembunyikan, langsung mengejar, "Di mana kau pernah bertemu dia sebelumnya?"
Tapi Chen Xi tak mau melanjutkan. Perasaan paling rumit memang sulit diceritakan. Begitu diungkapkan, rasanya sudah berbeda, tercampur banyak hal lain.
Chen Xi menutup mulut, sekeras apa pun He Chengcheng membujuk, tetap tak berhasil membuatnya bicara. He Chengcheng pun gemas sendiri.
Keesokan sore, Chen Xi sudah datang lebih awal ke Zhuo Yue Xuan. Seminggu sebelumnya, ia sudah memesan ruang VIP besar di sana untuk mengadakan pesta ulang tahun Chen Songming, sekaligus perayaan ulang tahun Chen Dongdong yang berdekatan.
Manajer restoran mengantar Chen Xi ke ruang VIP di lantai empat. Melihat balkon itu, Chen Xi tak bisa menahan ingatan ketika ia dan Gao Zhexing berpelukan dan berciuman di sana belum lama ini—betapa bahagia saat itu, kini suasana hatinya justru begitu suram.
Chen Dongdong berlari dari ujung ruangan memanggilnya. Chen Xi mengalihkan pandangan dan mengajaknya menata ruangan.
Selepas pukul enam, para tamu mulai berdatangan. Ruang VIP besar yang dipesan bisa memuat empat meja bundar besar. Selain kerabat dan teman Chen Songming, ada juga teman-teman kecil Chen Dongdong yang diundang, serta He Chengcheng dan Jiang Yiying yang diundang oleh Chen Xi.
Jiang Yiying datang lebih dulu, setelah menyapa Chen Songming dan bercanda dengan Chen Dongdong, ia duduk bersama Chen Xi di sofa, ditemani secangkir teh hangat.
Jiang Yiying sudah tahu apa yang ingin ditanyakan Chen Xi, maka ia lebih dulu bercerita tentang Jiang Yixing, "Kakakku sudah menandatangani perjanjian akuisisi. Dari nada bicaranya, ia cukup puas dengan harga akhir. Yang terpenting, ia juga sudah berdamai dengan dua mitra kerjanya, mereka akan tetap bekerja di Putuo."
Chen Xi pun sedikit lega, "Prosesnya memang penuh liku, untung hasil akhirnya tidak buruk."
Jiang Yiying menepuk tangan Chen Xi, "Kudengar dari Julie, Tuan Gao akhirnya mau mengalah. Semoga masalah ini tidak menjadi duri di antara kalian."
Chen Xi tersenyum, meski hatinya terasa getir.
Setelah itu, tamu-tamu lain berdatangan, Chen Xi sibuk menyambut mereka dan tak lagi berbicara tentang urusan itu dengan Jiang Yiying.
Wang Haoran datang bersama kedua orang tuanya. Setelah bersalaman dengan para orang tua, ia menghampiri Chen Xi, "Xi Xi, mobilmu sudah lama tidak diservis, akhir-akhir ini sibuk, ya?"
"Ada sedikit kesibukan, baru saja pulang dari perjalanan bisnis di Tokyo."
Sejak He Chengcheng kemarin mengatakan bahwa Wang Haoran selalu menaruh hati padanya, Chen Xi jadi teringat kebaikan Wang Haoran selama ini. Tapi ia tetap tak bisa membalas perasaan itu. Kini saat bertemu lagi, ia merasa canggung, tak bisa berbincang santai seperti biasanya.
Untunglah He Chengcheng segera menyelematkan situasi, "Haoran, mobilku kalau jalan di atas 80 suka goyang, kenapa ya?"
Wang Haoran menjawab, "Mungkin batang penghubungnya berkarat, kapan-kapan bawa saja ke bengkel, biar kulihat."
"Baiklah. Temanku juga mau modifikasi mobil, nanti dia kuserahkan padamu."
"Tentu saja."
Sebenarnya Wang Haoran ingin bicara banyak dengan Chen Xi, namun obrolannya dipotong He Chengcheng. Chen Xi pun kembali sibuk menyambut tamu lain, hingga pesta ulang tahun usai, Wang Haoran tak sempat mengungkapkan isi hati.
Ulang tahun ke-50 Chen Songming—dengan putri yang sukses dan putra yang penurut—ia begitu bahagia hingga banyak minum. Meski daya tahannya kuat, tetap saja tak kebal alkohol. Ketika rekan-rekan datang menambah minum, Chen Xi khawatir ayahnya kebanyakan, jadi ia menggantikan dua gelas kecil arak.
Waktu pulang, karena sudah minum, Chen Xi tak bisa menyetir sendiri. Wang Haoran yang tak minum menawarkan diri mengantar pulang. Melihat tatapan hangat Wang Haoran, Chen Xi tak ingin memberi harapan, tapi ia setuju, berniat menjelaskan semuanya di jalan.
Tapi begitu masuk mobil, seorang calon klien menelepon Chen Xi, menanyakan detail tentang perawatan kecantikan di Jepang.
Perjalanan dari Zhuo Yue Xuan ke Shuangcheng International hanya setengah jam, tapi karena pertanyaan klien cukup rinci, Chen Xi menghabiskan hampir seluruh waktu di mobil untuk menelepon, hingga mereka tiba di parkiran bawah tanah.
Sebenarnya ia ingin bicara empat mata dengan Wang Haoran, tapi karena telepon itu, ia kehilangan momen. Ia turun dari mobil.
Wang Haoran juga turun, memanggilnya, "Xi Xi."
Beberapa hari lalu, seorang teman Wang Haoran memberitahunya bahwa ia pernah mendengar kabar dari seorang kenalan, bahwa Chen Xi menjadi simpanan seorang pengusaha kaya. Wang Haoran tak percaya, ia pikir itu fitnah. Tapi teringat kejadian dengan Bos Lei waktu itu, ia takut Chen Xi benar-benar dirugikan.
Setelah semalaman gelisah, akhirnya ia memberanikan diri bicara, "Xi Xi, kau perempuan, menjalankan perusahaan itu tak mudah. Kalau ada yang berani macam-macam padamu, bilang saja padaku, aku akan melindungimu."
Chen Xi heran, tak paham kenapa Wang Haoran tiba-tiba bicara begitu. Tapi melihat tatapan penuh perasaan itu, ia tahu Wang Haoran hampir mengungkapkan semuanya. Mungkin ini saat terbaik untuk memperjelas.
"Haoran, sebenarnya aku..."
Belum sempat ia selesai bicara, suara seseorang memanggil dari belakang, "Chen Xi."
Chen Xi menoleh, melihat Gao Zhexing baru saja turun dari mobil yang baru masuk ke parkiran, berjalan ke arahnya.
Wang Haoran menatap pria yang datang itu, lalu melirik mobilnya, merasa familiar. Ia tiba-tiba teringat kejadian dua bulan lalu di apotek Jalan Nanhu, wajahnya langsung berubah tegang.
Tatapan Gao Zhexing beralih dari Chen Xi ke Wang Haoran. Ia pernah melihat pria itu dua kali. Sama-sama pria, ia tahu persis perasaan pria itu terhadap Chen Xi.
Dua lelaki itu berdiri saling berhadapan, pandangan mata mereka berseteru, masing-masing tak mau mengalah.