Bab Ketujuh Puluh Lima: Anggi
Shen Qi melangkah masuk ke ruang istirahat dan langsung melihat perempuan yang disebut sepupunya itu.
Dibandingkan dengan Zhong Wanrou, sepupu ini bahkan memiliki penampilan yang lebih memukau. Tak heran dua satpam di luar sana terus melirik ke arahnya.
Ia benar-benar tipe wanita yang sulit ditolak oleh pria manapun!
"Aku sudah menunggumu cukup lama. Apa setiap hari kau datang kerja selambat ini?" ujar Anggi dengan tatapan tajam ke arah Shen Qi.
"Kamu siapa?" dahi Shen Qi berkerut. Ia memang belum pernah bertemu dengan perempuan ini.
"Kamu bahkan tidak tahu siapa aku?" Anggi mendadak kesal. Setelah melirik ke luar, ia perlahan mendekati Shen Qi.
Shen Qi tak bergerak, hanya memandangi Anggi dengan tenang. Ketika Anggi sudah berada di sisinya, kerutan di dahi Shen Qi semakin dalam.
"Namaku Anggi," bisik Anggi pelan di telinga Shen Qi, sambil menghembuskan napas hangat ke telinganya.
Merasakan hembusan napas Anggi dan mendengar namanya, wajah Shen Qi langsung menunjukkan gurat kepahitan.
Memang, Shen Qi belum pernah bertemu dengannya, tapi nama Anggi sangat ia kenal!
Dia bukan orang lain, melainkan tunangan yang telah diatur oleh keluarganya untuk Shen Qi!
Yang tidak disangka Shen Qi, meski ia sudah menolak Anggi, ternyata Anggi justru mengejarnya sampai ke sini!
"Mau apa kamu datang kemari?" Wajah Shen Qi sedikit berubah, hatinya dongkol. Ia datang ke sini memang untuk menghindari Anggi, tapi ternyata tetap saja tidak bisa mengelak.
Meski... harus diakui, Anggi memang sangat cantik.
"Kenapa? Kau terlihat tidak senang bertemu denganku!" Anggi meneliti Shen Qi dari atas ke bawah. "Dengar, yang mengejar aku itu banyak sekali. Kalau kamu tidak mau, aku bisa saja pergi dengan pria lain!"
"Silakan saja, selama kau bahagia," Shen Qi mengangkat bahu, dalam hati justru berharap Anggi benar-benar melakukannya.
"Kamu..." Wajah Anggi langsung berubah, lalu mendengus, "Dengar, mulai sekarang aku akan menempel padamu. Mau kabur? Mau main perempuan di sini? Tidak akan kubiarkan!"
"Kamu sebenarnya mau apa?" tanya Shen Qi tanpa daya.
"Terus terang saja, aku ke sini untuk sekolah. Dan mulai sekarang, aku juga akan tinggal bersamamu. Semua urusanku, kamu yang bertanggung jawab!" Anggi berkata dengan nada manja.
Mendengar satu per satu ucapan Anggi, raut wajah Shen Qi makin suram.
Ternyata kali ini Anggi benar-benar akan tinggal lama di sini. Dan seorang perempuan sendirian di luar kota, Shen Qi mau tak mau harus menjaga.
Apalagi Anggi secantik itu, berjalan di jalanan pun cukup berbahaya. Kalau sampai terjadi sesuatu, Shen Qi juga tidak akan tenang.
Yang membuat Shen Qi kesal, gadis secantik ini pasti banyak yang mau mengejar. Kenapa harus bersikeras mengejar dirinya?
"Kenapa? Mau menolak lagi?" Anggi mengangkat dagu, tak senang.
"Bisa kutolak?" Shen Qi bertanya dengan nada kesal.
"Tentu saja tidak. Lagi pula, ini permintaan kakakmu!" Anggi mendengus, lalu mengeluarkan ponsel. Setelah beberapa kali menekan layar, ia sodorkan ke depan Shen Qi.
Di layar ponsel, segera muncul seorang wanita berparas memukau.
Wanita itu mengibaskan rambut, lalu berkata, "Shen Qi, dengar baik-baik. Kalau kamu tidak menjaga Anggi dengan baik, awas saja kau!"
Video itu segera selesai. Usai video berakhir, wajah Shen Qi langsung berubah muram.
Perempuan itu bernama Shen Qing, anak angkat keluarga Shen. Tapi ayah-ibu Shen Qi memperlakukannya seperti putri sendiri.
Karena lebih tua tiga tahun dari Shen Qi, sejak kecil Shen Qi hampir selalu diasuh olehnya. Tentu saja, banyak kenakalan masa kecil mereka juga dipelopori oleh Shen Qing, namun setiap kali dihukum, yang selalu kena adalah Shen Qi.
Shen Qing memang selalu menggertak Shen Qi sejak kecil, hingga akhirnya Shen Qi masuk tentara, barulah semua itu berhenti.
Tapi hubungan mereka sangat dekat. Baik Shen Qing maupun Shen Qi, ada perasaan khusus satu sama lain.
Permintaan dan perintah Shen Qing, sejak kecil Shen Qi tak pernah menolak.
Jelas keluarga Shen tahu hal ini, makanya saat Anggi datang ke sini, disertakan pula "senjata rahasia" itu.
"Bagaimana? Masih mau menolakku?" tanya Anggi sambil menggoyang-goyangkan ponsel dengan wajah puas.
"Baiklah, tinggal saja di sini," Shen Qi tersenyum pahit dan menggeleng. "Tapi kutegaskan, kamu tidak boleh ikut campur dalam urusan hidupku maupun apapun yang kulakukan!"
"Tidak masalah!" Anggi mengangguk, lalu mendekatkan wajahnya. "Jangan merasa hebat, aku juga bukan suka padamu. Hasil terbaik justru kalau pertunangan ini dibatalkan, lalu kita jalan masing-masing!"
"Kalau begitu, itu lebih bagus lagi!" Shen Qi mengangguk sambil tersenyum, memang itulah yang ia inginkan.
"Jangan senang dulu!" Anggi mendengus, lalu berkata, "Sekarang aku tinggal di mana?"
"Nanti akan kuurus," Shen Qi menggeleng. "Sekarang ikut aku dulu."
Shen Qi membawa Anggi keluar. Dua satpam yang berjaga di pintu tak bisa menahan diri menatap punggung Anggi dengan terpana.
Shen Qi segera menuju kantor keamanan. Begitu masuk, Anggi langsung duduk di sofa tanpa basa-basi, menuang air untuk dirinya sendiri.
Anggi benar-benar tidak sungkan.
Shen Qi yang melihat itu hanya bisa duduk di kursinya dengan wajah tak berdaya.
Tak lama kemudian, Anggi berkata, "Aku harus segera ke kampus untuk daftar ulang. Sudah selesai urusanmu? Antar aku ke sana."
"Tunggu sebentar, aku pamit dulu," ujar Shen Qi. Ia menelepon Zhong Wanrou, memberitahu bahwa ia harus keluar sebentar, lalu mengajak Anggi pergi.
"Kenapa? Lapor ke siapa tadi?" tanya Anggi dengan senyum nakal.
Shen Qi tidak menjawab, sebab ia tahu, sebelum Anggi datang, pasti semua tentang dirinya sudah diselidiki, termasuk urusan Zhong Wanrou. Tak mungkin bisa disembunyikan.
"Menurutmu pantas, punya tunangan tapi malah dekat dengan perempuan lain?" tanya Anggi dengan nada tajam, "Atau kamu merasa aku kalah saing dengannya?"
"Kita sudah sepakat. Urusan pribadi dan kehidupanku, kamu tak boleh ikut campur," jawab Shen Qi datar.
"Baik! Aku tidak akan ikut campur!" kata Anggi, meski di dalam hati ia sangat tidak senang.