Bab 32: Aku Akan Membantu Membalas Dendammu
“Ya!” ujar Chu Mengran sambil mengusap air matanya dan menganggukkan kepala. “Oh iya, Bu, tolong jangan beri tahu Ayah soal ini. Ibu angkat bilang dalam beberapa waktu ke depan, dia akan mengajak kalian bertemu.”
“Istri Tuan Xiao itu memang tak sabaran sekali. Kalau punya waktu, lebih baik dia mengurus putra kesayangannya sendiri!”
“Ibu, jangan bicara begitu.”
“Baiklah, baru begini saja kau sudah membelanya?” Sun Qianru tak tahan mengangkat tangan dan mencolek kening putrinya. “Kamu ini!”
“Ibuuu~” Chu Mengran akhirnya tertawa sambil menahan tangis.
Sementara itu, Tang Xiu mampir ke pusat perbelanjaan. Saat pulang ke rumah, hari sudah malam. Ia memijat bahunya sendiri sambil melepas sepatu hak tinggi sepuluh sentimeter.
Begitu memasuki ruang tamu, ia melihat Gu Nianyu sedang mengelap lemari. Gadis itu berbalik, sedikit mengangguk, dan menyapa, “Selamat malam, Nyonya.” Lalu kembali sibuk membersihkan barang-barang.
Melihat langit sudah mulai gelap, Tang Xiu menatap Gu Nianyu dan diam-diam muncul niat buruk dalam benaknya.
“Gu Nianyu, hentikan dulu bersih-bersihnya, kemarilah.”
Gu Nianyu menurut, meletakkan kain lap di tangan. “Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?”
“Aku lapar, tolong belikan sesuatu untuk dimakan.”
Gu Nianyu melirik jam dinding, waktu sudah lewat pukul sepuluh. “Nyonya... sudah malam begini, bagaimana kalau saya buatkan sesuatu untuk Anda?”
“Kau tak mengerti ucapanku? Aku bilang, belikan di luar!” Tang Xiu mengambil segepok uang dari dompet dan melemparkannya ke lantai.
Gu Nianyu tak bisa berbuat apa-apa selain berjongkok dan memunguti uang yang tercecer. “Baik, saya mengerti.”
Keluar dari supermarket, Gu Nianyu harus melewati sebuah gang yang cukup panjang. Biasanya ia menghindari jalan itu, tapi gang memang lebih cepat daripada jalan besar. Demi tak dimarahi Tang Xiu lagi, Gu Nianyu memberanikan diri berlari kecil masuk ke sana.
Lampu jalan kuning berkedip-kedip, sesekali terdengar gonggongan anjing dari gang lain. Baru kali ini Gu Nianyu merasa perjalanan ini begitu panjang. Satu tangan menggenggam kantong belanja, tangan lain erat memegang ponsel, matanya waspada menatap sekeliling.
Untungnya, ujung gang sudah terlihat. Gu Nianyu mempercepat langkah menuju cahaya di ujung jalan.
“Fiuh~” Gu Nianyu menarik napas lega, akhirnya keluar dari gang yang gelap itu.
Di tepi jalan besar sudah ada lampu, sesekali mobil lewat. Gu Nianyu baru hendak mematikan senter ponsel, tiba-tiba terdengar suara mesin motor dari belakang.
“Brrmm... brrmm…” Suara itu membuat Gu Nianyu terpaksa menoleh.
Begitu berbalik, ia melihat motor itu melaju ke arahnya. Dalam sekejap, kedua tangannya kosong, dan ia pun terhempas ke tanah.
Perampokan?
Itulah yang pertama terlintas di benaknya.
Namun, setelah berhasil merebut barang di tangannya, motor itu tak langsung pergi. Pria di boncengan, mengenakan helm, turun sambil membawa tongkat kayu besar.
Gu Nianyu baru sadar, sepertinya ini bukan sekadar perampokan.
Ia segera bangkit dan berlari ke arah sebaliknya sambil berteriak, “Tolong! Tolong!”
Namun pria berhelm itu langsung mengejar dan hanya dalam beberapa langkah sudah berhasil menarik baju Gu Nianyu dari belakang, membuatnya terjatuh ke tanah.
“Tolong!!”
Pria itu menendang punggung Gu Nianyu. Ia meringkuk di tanah, kedua tangan melindungi kepala. Pukulan tongkat terus menghantam punggungnya.
Gu Nianyu menggigit bibir agar tak mengeluarkan suara.
Setelah beberapa saat, pria itu melihat korbannya tak bergerak, lalu melarikan diri dengan tongkat di tangan.
“Uhuk... uhuk...” Gu Nianyu mendengar suara mesin motor yang perlahan menjauh, lalu ia berusaha berdiri dari tanah.
Punggungnya terasa nyeri hampir seperti terbelah. Ia memegangi kepala, berjalan terpincang ke tengah jalan, sambil terus menggumam, “Tolong... tolong...”