Bab 41 Bunuh di Tempat Tanpa Ampun
"Bocah nakal, apa yang sedang kau lakukan? Datang menghadiri Upacara Pengukuhan Yang Agung saja sudah keterlaluan, kenapa kau malah mengenakan pakaian seperti ini? Ini..."
Murong Lan melangkah maju, menarik lengan Chen Feng, dan merasa sangat cemas untuknya.
Mumpung Yang Agung belum tiba, masih sempat untuk mengganti pakaian.
Jika Yang Agung sampai datang, berdandan seperti ini sama saja dengan mencari mati!
"Sial... kenapa... kenapa dia datang menghadiri Upacara Pengukuhan Yang Agung? Jangan-jangan pernikahannya benar-benar diadakan di sini juga? Bukankah... bukankah ini mencari mati? Atau apakah Chen Feng berani menantang wibawa Yang Agung?"
Pria bertubuh jangkung itu menatap Chen Feng yang datang perlahan, otaknya berputar dengan cepat, sama sekali tidak bisa menebak niat Chen Feng.
Orang-orang datang kemari untuk menjilat Yang Agung, tetapi dia malah mengenakan pakaian pengantin untuk merebut sorotan Yang Agung. Bukankah itu mencari mati?
Namun, memikirkan kekuatan Chen Feng, pria bertubuh jangkung itu merasa sedikit penasaran. Ia justru senang melihat Chen Feng berulah seperti ini. Bukankah sangat menarik untuk menguji seberapa kuat Yang Agung sebenarnya?
Tepat pada saat itu, Dewa Perang Qinglong mendekati pria bertubuh jangkung itu dan bertanya dengan suara pelan, "Senior, bukankah kau bilang bisa membereskan Chen Feng dalam beberapa hari? Kenapa dia masih hidup?"
Pria bertubuh jangkung itu meliriknya sekilas. "Kau ini ingin aku pergi mencari mati, ya? Mana mungkin aku bisa mengatasi pendekar sehebat ini?"
Dewa Perang Qinglong tertegun, menggaruk kepalanya sambil bergumam pada diri sendiri, "Astaga, sehebat itukah? Bahkan... bahkan Empat Monster Jiangnan pun tidak bisa mengatasinya?"
Mengingat pemimpin Empat Monster Jiangnan sendiri yang berkata demikian, Dewa Perang Qinglong tidak meragukannya lagi; ia yakin Chen Feng pasti sangat kuat.
"Ketua, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Xuanwu mendekati Qinglong dan bertanya dengan suara pelan.
"Jangan panik. Dia mengenakan pakaian pengantin untuk menghadiri Upacara Pengukuhan Yang Agung. Tanpa perlu kita turun tangan pun, Yang Agung akan menghabisinya!"
Dewa Perang Qinglong mengusap dagunya dan berkata sambil tersenyum licik.
"Masuk akal juga, hehe!"
Dewa Perang Xuanwu mengangguk, rupa senyum penuh tipu muslihat terukir di wajahnya.
Sementara itu, ayah dan anak dari Keluarga Cheng berdiri di samping dengan tubuh gemetar, tidak berani mengeluarkan suara sepatah pun.
Bahkan menatap Chen Feng sekilas pun mereka tidak berani.
Insiden Keluarga Cheng sebelumnya telah membuat ayah dan anak itu sangat mewaspadai Chen Feng, hingga ketakutan itu telah merasuk ke dalam tulang sumsum mereka.
Gubernur Wang Tianhu melangkah maju sambil tersenyum ramah, lalu menangkupkan tangan kepada Chen Feng dan berkata, "Tuan Chen telah tiba, silakan masuk!"
"Terima kasih atas kebaikan Gubernur, mari masuk bersama!" Chen Feng mengangguk dan berjalan memasuki aula utama bersama sang gubernur.
Para bangsawan lainnya hanya menangkupkan tangan sekadar formalitas dan tidak melangkah maju untuk menyapa.
Ketika Chen Feng berjalan ke tengah aula, Sembilan menyapa, "Selamat datang, Tuan Chen!"
Usai berkata demikian.
Sembilan mendekati Chen Feng dan berbisik, "Tuan Chen, apakah pernikahan Anda benar-benar dilangsungkan di sini?"
Chen Feng tidak menjawab, melainkan menepuk pundak Sembilan. "Sebentar lagi kau akan tahu, jangan terburu-buru!"
Sembilan mengangguk kebingungan, namun tidak berani bertanya lebih jauh.
Ketika melewati wanita yang mengenakan kerudung tersebut, Chen Feng mendekat dan menghirup aroma dalam-dalam. "Wangi, aromanya masih sama, resep lama yang tak pernah berubah!"
"Kau..."
Li Xinyyi menghentakkan kakinya karena kesal, tetapi tidak mengatakan apa-apa.
Tindakan itu sengaja ia tunjukkan kepada orang-orang di tempat kejadian.
Namun di dalam hatinya, ia merasa sangat bersemangat, gembira luar biasa, dan jantungnya berdegup kencang.
Ia merasa malu untuk menyapa Chen Feng secara langsung, justru berharap Chen Feng terus mengggodanya.
Belum pernah ada seorang pun yang berani berbuat lancang kepadanya, yang justru membuat Li Xinyi memiliki ketertarikan khusus pada bajingan kecil seperti Chen Feng ini.
"Aula upacara ini didekorasi dengan cukup baik, pantas diberi hadiah!"
Saat berjalan melewati ketiga Dewa Perang termasuk Dewa Perang Qinglong, Chen Feng melirik mereka beberapa kali dan mengucapkan kalimat penuh makna terselubung.
Setelah itu, Chen Feng melangkah lebar menuju kursi singgasana kayu *nanmu* berlapis emas yang mewah di bagian paling depan.
Itu adalah satu-satunya kursi di dalam aula besar tersebut, sebuah simbol kekuasaan dan status tertinggi.
"Chen Feng, apa yang sedang kau lakukan?"
Tepat saat Chen Feng berjalan menuju kursi singgasana itu, Dewa Perang Qinglong langsung melangkah maju untuk menghalangi. "Chen Feng, apakah kau sudah bosan hidup? Ini adalah kursi khusus milik Yang Agung, beraninya kau duduk di sana?"
Chen Feng tersenyum. "Kursi ini memang disiapkan untukku, kenapa aku tidak berani duduk?"
"Cih, kau benar-benar berani menyamar sebagai Yang Agung, riwayatmu sudah tamat!"
kata Dewa Perang Qinglong.
"Apakah riwayatku tamat atau tidak, kau tidak akan bisa melihatnya. Tapi, riwayatmu yang akan segera tamat itu adalah kenyataan!"
Usai berkata demikian.
Chen Feng melewati Dewa Perang Qinglong dan melangkah mantap menuju kursi singgasana.
"Ketua, kenapa kau masih menghentikannya? Bukankah membiarkannya duduk di sana justru akan membuat kematiannya semakin cepat?"
Dewa Perang Xuanwu kembali mendekati Dewa Perang Qinglong dan bertanya dengan suara pelan.
Dewa Perang Qinglong menggelengkan kepala dengan pasrah dan menjawab, "Sialan, ini adalah kursi Yang Agung, apakah pantas jika aku tidak berpura-pura menghentikannya? Ada banyak orang di sini yang sedang melihat!"
Dewa Perang Xuanwu mengangguk sambil mengangkat jempolnya tanda mengagumi.
"Bocah nakal, berhenti!"
Melihat Chen Feng hendak mencapai kursi tersebut, Zixuan segera melangkah maju dan menarik tangan Chen Feng.
"Apa kau ingin mati? Bercanda pun harus ada batasnya. Berulah seperti ini sama saja dengan bermain api, menggali kuburan sendiri, apa kau paham?"
Zixuan menatap tajam ke arah Chen Feng, selain amarah, tatapannya juga menyiratkan kekhawatiran.
"Bukankah kursi ini memang disiapkan untukku? Sekarang kalian malah tidak membolehkanku duduk, kalian sedang mempermainkanku ya?"
Chen Feng merentangkan tangan dengan memasang ekspresi tak berdaya.
Kenapa tidak ada seorang pun yang percaya bahwa dirinya adalah Yang Agung?
Plak!
Zixuan menampar wajah Chen Feng. "Apa kau sudah puas berulah? Kalau di rumah mau berulah, kami bisa melayanimu bermain sandiwara, tapi sekarang ini tempat seperti apa?"
"Kukatakan padamu, bocah nakal, jika kau berani berulah lagi, percaya atau tidak aku akan mengebirimu?"
Usai berkata demikian.
Zixuan menarik Chen Feng mendekati Murong Lan. "Bawa dia turun untuk mengganti pakaiannya!"
Murong Lan mengangguk lalu menarik tangan Chen Feng berjalan ke luar.
"Kakak Perguruan Ketiga, aku tidak perlu menggantinya!"
Chen Feng melepaskan pegangan Murong Lan dan berkata dengan penuh keyakinan.
"Apa? Kakak Perguruan Ketiga? Ternyata mereka memiliki hubungan seperti itu? Kalau begitu, apakah Dewa Perang Zifeng juga saudari seperguruan Chen Feng?"
Dewa Perang Qinglong bergumam dalam hati begitu mendengar panggilan Chen Feng.
"Bocah nakal, jangan membuat keributan lagi, ya? Ganti saja pakaianmu!"
Murong Lan kembali menarik tangan Chen Feng.
"Tidak perlu, aku memang Yang Agung, untuk apa aku harus menggantinya?"
Chen Feng berseru lantang sambil kembali menghempaskan tangan Murong Lan.
Li Xinyi yang berdiri di barisan belakang menutup mulutnya sambil menahan tawa. "Mereka bahkan tidak tahu siapa identitas aslinya. Seru sekali, seru sekali, hehe!"
Sambil berbicara, ia tanpa sadar bertepuk tangan, membuat pandangan semua orang seketika tertuju kepadanya.
Li Xinyi buru-buru menghentikan tepuk tangannya dan menutup rapat mulutnya tanpa bersuara.
Begitu tatapan orang-orang beralih kembali, Cheng Chusheng yang berdiri di dekat Li Xinyi mendekat dan bertanya dengan suara pelan, "Nona muda, untuk apa kau mengenakan kerudung seperti itu? Putri dari keluarga mana kau di Xinhai?"
Li Xinyi bergeser beberapa langkah menjauh dan mengabaikannya.
"Anak ini, aku ini setidaknya adalah orang yang lebih tua, kenapa ditanya malah tidak menjawab?"
"Jangan-jangan keluargamu tidak pernah mengajarimu cara menghormati orang lain?"
Cheng Chusheng merasa sedikit tidak senang dan berniat memberi pelajaran kepada Li Xinyi.
Li Xinyi hanya melototinya tanpa membuka suara.
"Masih berani melototiku? Kau benar-benar tidak tahu sopan santun, ya?"
Cheng Chusheng menegurnya dengan nada menggurui.
Li Xinyi tidak dapat menahan diri lagi, lalu berkata dengan penuh penekanan di setiap suku kata, "Beraninya kau menceramahiku? Apakah kau ingin seluruh keluargamu dihukum mati?"
"Hahaha... Anak kecil, ucapanmu ini terlalu angkuh, bukan? Menghukum mati seluruh keluargaku? Kira-kira kau ini menganggap dirimu sebagai seorang putri atau bangsawan?"
Cheng Chusheng tertawa terbahak-bahak tanpa memperdulikan situasi di sekitarnya.
"Tertawalah, tertawalah sepuas hatimu. Kuharap nanti kau masih bisa tertawa!"
Tepat setelah Li Xinyi selesai berbicara, Chen Feng mengabaikan segala bujukan dan langsung menduduki kursi singgasana itu.
Pada saat itu, Dewa Perang Qinglong segera melompat maju dan menunjuk ke arah Chen Feng dengan penuh amarah. "Lancang sekali orang berandalan ini, berani-aninya duduk di kursi Yang Agung. Melakukan pelanggaran besar, kejahatan yang layak dihukum mati!"
"Pengawal, tangkap bajingan pembangkang ini! Jika ada yang berani melawan, bunuh di tempat!"