Bab 45 Jiwanya Beresonansi Dengannya
Sebelumnya, Yan Xiaoxi sama sekali tidak mengerti kalimat itu... Sebenarnya itu belum selesai ditulis, tetapi sudah bisa dianggap cukup untuk diserahkan.
Begitu ia melihat tulisan Chen Xiaoxin yang belum selesai, pada saat itu juga ia baru menyadari bahwa dirinya... benar-benar telah membuat kesalahan yang sangat besar! Tulisan sebelumnya... ternyata hanyalah sebagian kecil saja, lebih tepatnya sepertiga dari keseluruhan isi, dan apa yang ada di tangannya sekarang adalah kelanjutan dari cerita tersebut.
"Melihat secercah harapan dari dalam keputusasaan, lalu merasakan kembali keputusasaan dari harapan itu... Cerita... cerita macam apa sebenarnya ini?" Yan Xiaoxi membaca bagian lanjutan itu dengan cepat, lalu menghubungkannya dengan apa yang telah ia baca sebelumnya. Sebuah kisah tentang perjuangan manusia biasa melawan takdir terus bermunculan di dalam benaknya... Namun, cerita itu belum juga berakhir!
Penulisnya malah meletakkan pena dan pergi makan siang... meninggalkan misteri terbesar dari cerita ini: apakah sang tokoh utama akhirnya mati, atau justru terlahir kembali?
"Xiaoxi!"
"Melamun apa lagi? Ayo kita pergi makan!" Ketua kelas Gu Luo berdiri di dekat pintu sambil memanggilnya.
Panggilan dari teman seperjuangan untuk makan itu menariknya kembali ke kenyataan dari rasa terkejut dan penasaran. Yan Xiaoxi menarik napas dalam-dalam, meletakkan tulisan yang belum selesai itu, lalu meninggalkan kelas dengan perasaan yang berat, sementara benaknya terus memikirkan bagaimana akhir dari cerita tersebut...
Di saat yang sama,
Chen Xiaoxin sedang makan di kantin. Karena akhir-akhir ini pihak sekolah memperketat pengawasan terhadap layanan pesan-antar makanan luar, ia terpaksa harus makan di sini. Orang-orang yang makan bersamanya adalah para murid buangan dari kelas dua... Dulu, Chen Xiaoxin bersama mereka dijuluki sebagai Empat Raja Surgawi, tetapi sekarang ia telah mengkhianati organisasi... dan Empat Raja Surgawi itu pun menyusut menjadi Tiga Sekawan.
"Chenpi!"
"Kulihat-lihat kau ngobrol akrab banget ya sama Yan Xiaoxi, apa jangan-jangan kau naksir dia?" Li Shengfeng, si anak orang kaya, menatapnya penuh arti sambil bertanya dengan nada usil, "Bukannya apa-apa ya... Yan Xiaoxi itu memang sangat cantik. Rasanya di SMA nomor dua ini... hampir tidak ada siswi yang bisa menandinginya."
"Jangan ngawur."
Chen Xiaoxin memutar bola matanya dan membalas dengan ketus, "Aku ini sibuk... mana punya waktu untuk pacaran. Lagipula... cinta monyet itu mengganggu konsentrasi belajar."
"Cih cih cih."
"Semenjak jadi murid berprestasi, si Chenpi kita ini omongannya jadi mirip pejabat birokrat!" Salah satu siswa menatap Chen Xiaoxin sambil tersenyum lebar, lalu berkata, "Kukatakan ya Chenpi... apakah kau sengaja menunjukkan kemampuanmu yang sebenarnya karena ingin menarik perhatian Yan Xiaoxi?"
"Eh?"
"Ada kemungkinan juga itu!"
Li Shengfeng mengangguk-angguk setuju, menatap sahabat karibnya itu, lalu berkata dengan serius, "Rupanya kau licik juga ya."
Chen Xiaoxin menghela napas, lalu menjawab dengan pasrah, "Sudahlah, kalian cukup sampai di situ saja. Kalau mau mencari hiburan jangan bawa-bawa aku. Hubunganku dengan Yan Xiaoxi... murni hanya sebatas teman sekelas saja. Lagipula... meskipun dia memang cantik, tapi kepribadiannya itu... Ah sudahlah, sudahlah, tidak usah dibahas!"
"Jangan begitu dong..."
"Kenapa malah berhenti di saat yang paling krusial!"
"Bagaimana kepribadiannya? Apa kau pernah jadi korban pukulannya?" Li Shengfeng bertanya dengan mata melotot licik.
"......"
"Kenapa?"
"Kalian ini mau mengoreknya sampai tuntas? Mau membongkar kuburan leluhurku juga?" Chen Xiaoxin tentu tidak tertipu dengan trik murahan itu, lalu ia berkata santai, "Sudah kubilang... aku dan dia hanya teman sekelas. Sekalipun kita mundur selangkah... bukankah kalian rasa ketua kelas delapan itu anak yang cukup baik?"
Li Shengfeng memutar bola matanya ke arah Chen Xiaoxin, lalu berkata asal, "Baik? Baik apanya! Ketua kelas delapan itu anak liar yang tidak biasa. Jangan lihat penampilannya yang kelihatan lembut dan anggun di hari biasa, aslinya... dia sering pergi ke tempat karaoke bersama anak-anak dari sekolah olahraga saat akhir pekan. Aku sudah sering memergokinya. Aku ingat sekali waktu itu... dia dan seorang anak sekolah olahraga berdua di dalam toilet..."
"Sudah, sudah."
"Cukup sampai di situ saja, jangan diteruskan!" Chen Xiaoxin buru-buru memotong ucapannya, lalu menasihati kawan-kawannya dengan sungguh-sungguh, "Berita seperti ini jangan sampai menyebar keluar... pengaruhnya tidak baik buat orang lain. Meskipun kita semua ini bukan orang baik, tapi masalah ini cukup serius. Kalau sampai terjadi hal fatal yang merenggut nyawa... kalian tentu bisa membayangkan sendiri akibatnya."
Kawan-kawannya itu mengangguk paham. Meskipun nilai akademis mereka kurang baik, mereka cukup bijak dan tahu bahwa masalah ini memiliki dampak yang cukup serius, sehingga mereka bergegas berjanji untuk tidak membocorkannya...
"Oh ya..."
"Siapa itu yang dari kelas sepuluh... akhir-akhir ini gayanya agak menyebalkan ya!" Li Shengfeng menyuap nasinya, lalu berkata dengan nada datar.
Kelas dua dan kelas sepuluh memang sudah lama tidak akur. Semuanya bermula saat mereka berada di kelas sebelas, di mana para cowok dari kedua kelas saling berebut lapangan basket dan berjanji untuk berkelahi... Tentu saja situasi seperti itu biasanya tidak pernah benar-benar berujung pada perkelahian fisik, sebab orang-orang yang dipanggil oleh kedua belah pihak ternyata saling mengenal. Lama-kelamaan acara itu malah berubah menjadi ajang temu kangen, dan akhirnya mereka berdamai begitu saja.
"Sudahlah..."
"Waktu kita tidak tinggal beberapa bulan lagi, kalian jangan cari masalah lagi." Chen Xiaoxin menggelengkan kepalanya, lalu berkata dengan sungguh-sungguh, "Pertama-tama, aku tegaskan aku bukan orang suci... alasan aku melarang kalian mencari gara-gara bukan karena apa, hanya merasa hal itu tidak perlu dilakukan. Terlebih lagi, semester akhir kelas tiga ini adalah masa pengetatan disiplin. Ditambah lagi posisi kita dari awal memang tidak berada di pihak yang benar, kalau sampai salah langkah, urusannya bisa berujung pada pemecatan."
Li Shengfeng menatapnya lekat-lekat. Memandang sahabat terdekatnya selama masa SMA ini, ia tiba-tiba merasa ada secercah perasaan asing, lalu ia bertanya sambil tersenyum pahit, "Chenpi... apa kau sudah mulai meremehkan kami?"
"Sialan..."
"Kau ini ya..."
Chen Xiaoxin bahkan dibuat tertawa oleh ucapan itu. Ia menepuk pundak Li Shengfeng, lalu berkata dengan wajah serius tanpa beban, "Tenang saja... Ayah mana mungkin meremehkan anaknya sendiri."
Detik berikutnya...
Chen Xiaoxin langsung dikeroyok oleh mereka bertiga.
...
...
"Kenapa kau lama sekali baru datang?"
Yan Xiaoxi sudah selesai makan lebih awal dan menunggunya. Melihat Chen Xiaoxin baru kembali ke kelas pada jam sekian, ia bertanya dengan perasaan campur aduk antara cemas, kesal, dan geram, "Aku sudah menunggumu setengah mati!"
"Hah?"
"Nungguin aku buat apa?" Chen Xiaoxin menatapnya dengan ekspresi bingung, di antara kedua alisnya terukir rasa penasaran yang mendalam.
Yan Xiaoxi menggigit bibir bawahnya, lalu menjawab dengan terbata-bata, "Aku... aku ingin tahu akhir cerita dari tulisanmu itu. Sebenarnya pada akhirnya tokoh utama yang ada di dalam tulisanmu itu hidup atau mati... Cepatlah, cepat lanjutkan menulisnya!"
"Oh..."
"Kukira kau mau menyatakan cinta padaku, hampir saja aku jantungan." Chen Xiaoxin tersenyum tipis, lalu dengan tenang mengeluarkan selembar kertas itu. Tepat saat ia mengangkat penanya untuk bersiap menulis, tiba-tiba... lengannya merasakan nyeri yang menyengat. Rupanya Yan Xiaoxi sedang mencubitnya dengan tatapan penuh amarah seolah ingin menelannya hidup-hidup.
"Menyatakan cinta gelo!"
Yan Xiaoxi berkata dengan nada kesal setengah mati, "Percaya tidak kalau kuhajar kepalamu sampai jebol?"
Setelah berkata demikian,
ia melepaskan cengkeramannya dari lengan pemuda itu, lalu mengangkat kepalan tangan kecilnya yang mungil dan menggemaskan seolah sedang memperingatkan... kepalan tangan ini sangat berbahaya!
Setelah itu, Chen Xiaoxin menjadi jauh lebih penurut dan tidak lagi bersikap usil. Ia menggenggam penanya dan mulai menulis kembali di atas kertas dengan kecepatan yang sama, dalam kondisi yang sama, serta aliran inspirasi yang mengalir deras bagaikan air bah yang tak mampu lagi bendung.
Yan Xiaoxi duduk tepat di sampingnya, mengamati dengan cermat setiap kalimat yang ia tulis. Ekspresi wajahnya terus berubah seiring dengan alur kata-kata yang tergores di atas kertas, hingga akhirnya... jawaban yang selama ini ia nantikan pun muncul juga!
Yan Xiaoxi terus menebak-nebak apakah akhir cerita itu akan berakhir dengan kehidupan atau kematian, tetapi jawaban yang diberikan oleh Chen Xiaoxin ternyata tidak mengarah pada kehidupan maupun kematian. Tokoh utama itu telah melalui berbagai macam cobaan berat dan terus bangkit setiap kali terjatuh, namun pada akhirnya... ia hanya duduk terdiam di sudut ruangan, seolah-olah ia telah tiada, tetapi sekaligus seolah-olah ia masih hidup.
"Apa maksudnya ini?"
Yan Xiaoxi mendongak untuk menatapnya, matanya dipenuhi dengan kebingungan yang tak bertepi. Ia benar-benar tidak mengerti mengapa akhir cerita seperti ini yang dipilih.
"Aku sama sekali tidak pernah memikirkan seperti apa bentuk akhir dari cerita ini..." jawab Chen Xiaoxin dengan jujur, "Karena akhir cerita yang sesungguhnya berada di dalam diri kita masing-masing. Seribu orang akan mendefinisikan seribu macam akhir cerita yang berbeda."
Dalam sekejap,
Yan Xiaoxi merasakan jiwanya beresonansi secara mendalam dengan kalimat tersebut...