Bab Tujuh: Manusia sungguh merepotkan!
"Hah," Zhang Minglei akhirnya bisa bernapas lega, beban di hatinya terangkat. "Baik, sepakat! Aku akan berusaha menyaring hal-hal yang tidak masuk akal untukmu terlebih dahulu. Jika ada yang kontroversial, kita akan mendiskusikannya bersama."
Dewi Lu Yao mengangguk. "Aku mengerti. Mengapa makanan belum juga disajikan?"
Zhang Minglei menepuk dahinya, lalu segera meraih ponselnya untuk memindai kode QR dan memesan makanan. Tak lama kemudian, berbagai jenis es buah dan pai buah tersaji di atas meja.
Dewi Lu Yao merasa puas. Ia sudah sering mendengar bahwa dunia manusia begitu ramai dan penuh dengan makanan lezat. Kini, setelah melihatnya sendiri, ternyata rumor itu benar adanya.
"Satu hal lagi," ujar Zhang Minglei mencoba bicara saat melihat suasana hatinya sedang baik. "Kau harus segera beradaptasi dengan budaya di sini."
"Sekarang kau adalah seorang artis bernama Lu Yao. Jadi, jangan terus-menerus memanggil dirimu 'Sang Dewi' atau sejenisnya. Gunakanlah kata 'Aku', atau paling tidak 'Saya'."
"Selain itu, jangan sembarangan memerintah orang lain untuk menuruti keinginanmu, misalnya melarang orang merokok di depanmu. Oh, satu lagi, jangan mudah main tangan atau memukul orang, dan jangan langsung mengungkapkan ketidaksukaanmu secara terang-terangan..."
Lu Yao mengerutkan kening, mengangkat kelopak matanya, dan menatap Zhang Minglei dengan sangat tidak puas.
Zhang Minglei tertawa canggung, lalu mengucapkan kalimat terakhirnya, "Dan juga... jangan makan terlalu banyak, nanti kau bisa gemuk."
"Bagaimana jika aku memang ingin memakannya? Beraninya kau mengatur pola makanku!"
Zhang Minglei merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, menunduk meminta maaf. "Ya, ya, saya salah. Silakan makan, makanlah sebanyak yang kau mau."
Dalam hati, ia menghela napas. Biarlah seperti ini dulu. Ibarat menyantap tahu panas, ia tidak boleh terburu-buru. Bagaimanapun, ia harus menenangkan Dewi ini terlebih dahulu.
Sebelum berpisah, Zhang Minglei berpesan kepada Lu Yao, "Mulai sekarang, apa pun yang terjadi atau kesulitan apa pun yang kau hadapi, pastikan untuk memberitahuku terlebih dahulu."
Kemudian, ia juga berpesan kepada Lin Xiaoting yang datang menjemput Lu Yao, "Kau lihat sendiri tadi, Lu Yao terlalu mendalami perannya sampai belum bisa keluar dari karakter. Beberapa hari ini, mohon bersabar dan jaga dia. Kalau dia sudah sukses nanti, kau juga akan ikut kecipratan untung, bukan?"
Lin Xiaoting menyanggupi dengan antusias. Setelah kembali, ia bahkan tidak meminta uang ongkos taksi kepada Lu Yao, padahal biasanya mereka selalu membagi biaya perjalanan.
Dewi Lu Yao berdiri di ambang pintu, mengamati lingkungan tempat tinggalnya yang asing dengan kening berkerut.
Rumahnya sangat kecil dan panas!
Ruang tamunya hanya cukup untuk satu meja makan kecil. Di sebelah kiri terdapat dapur, di sebelah kanan kamar mandi, dan di tengah terdapat dua kamar tidur yang masing-masing akan ditempati oleh Lu Yao dan Lin Xiaoting.
Lin Xiaoting menunjuk kamar di sebelah kanan. "Lu Yao, ini kamarmu."
Dewi Lu Yao membuka pintu dan melihat ke dalam. Fasilitas kamarnya sangat sederhana: sebuah tempat tidur tunggal, lemari pakaian kecil, dan meja rias. Di atas meja rias itu hanya ada sebuah kipas angin kecil. Selain itu, ruangan tersebut kosong melompong.
"Eh, bukankah ini ponselmu?" Lin Xiaoting langsung melihat ponsel yang tergeletak di atas meja rias. "Kenapa kau ceroboh sekali? Berani-beraninya pergi tanpa membawa ponsel, apalagi sampai pergi selama itu."
Dewi Lu Yao mengambil ponsel itu, membolak-baliknya dengan rasa penasaran. Ia melihat hampir semua manusia memegang benda persegi kecil yang bisa menyala dan mengeluarkan suara ini.
Lin Xiaoting bertanya, "Apa yang kau lihat? Nyalakan ponselnya!"
Dewi Lu Yao tampak bingung. "Menyalakan?"
Lin Xiaoting memutar bola matanya. Ia berpikir, ini bukan sekadar mendalami peran, tapi sudah benar-benar terputus dari dunia nyata!
Ia membantu Lu Yao menyalakan ponselnya, lalu mengajarinya cara mengoperasikannya, mulai dari cara menelepon, menerima panggilan, mematikan ponsel, hingga cara mengisi daya baterai. Semuanya dijelaskan dengan sangat rinci.
Dewi Lu Yao mengangguk puas. "Tidak kusangka kecerdasan manusia begitu luar biasa!"
Lin Xiaoting tak bisa berkata-kata, lalu bertanya iseng, "Kalau begitu, bolehkah saya tahu bagaimana kalian di dunia keabadian saling berkomunikasi?"
Dewi Lu Yao menjawab, "Biasanya menggunakan mantra transmisi suara. Bagi mereka yang kekuatan sihirnya rendah, bisa menggunakan jimat transmisi suara."
"Ha!" Lin Xiaoting tertawa kecil dan menyindir, "Baiklah, Dewi Lu Yao, hari sudah larut, silakan beristirahat."
Lu Yao mengangguk. "Baik." Namun, ia menambahkan, "Sebenarnya, mengingat statusmu, memanggilku Sang Dewi Lu Yao akan jauh lebih pantas."
Lin Xiaoting hanya bisa terdiam.
Sebelum tidur, karena tidak ada yang bisa dilakukan, Dewi Lu Yao memainkan ponselnya di atas tempat tidur. Tiba-tiba layar ponselnya berkedip dan memunculkan tulisan "Ibu".
Seseorang sedang meneleponnya.
Dewi Lu Yao merasa sangat penasaran. Ia menekan tombol jawab, dan suara raungan seorang wanita paruh baya langsung terdengar, "Lu Yao! Ke mana saja kau selama ini? Mengapa tidak mengangkat telepon?!"
Dewi Lu Yao mengerutkan kening dan menjawab dengan dingin, "Ada apa?"
Orang di seberang sana tertegun sejenak, lalu bertanya dengan ragu, "Kau... Lu Yao? Ini Ibu. Tolong berikan teleponnya kepada Lu Yao."
Dewi Lu Yao terdiam sejenak. "Aku sendiri orangnya."
"Apa?!" Orang di seberang sana terkejut, lalu raungannya kembali terdengar, "Apa kau sudah gila? Bagaimana cara bicaramu kepada ibumu! Pakai bahasa yang aneh-aneh lagi!"
"Dengar, kapan kau akan mengirim biaya kuliah adikmu? Bulan depan dia sudah mulai masuk sekolah, sampai kapan kau mau menundanya?!"
Dewi Lu Yao merasa bingung. "Adikku? Adik kandung?"
Orang di seberang sana tertawa getir. "Tentu saja adik kandungmu!"
Dewi Lu Yao bertanya lagi, "Apakah dia anak yang kau lahirkan?"
Orang di seberang sana jelas tertegun. Setelah terdiam sejenak, raungan yang lebih keras meledak, "Tentu saja dia anak yang kulahirkan! Dasar tidak tahu diri, apa yang sedang kau pikirkan?!"
Dewi Lu Yao menjawab dengan santai, "Karena dia lahir darimu, sudah seharusnya kau yang membesarkannya. Mengapa harus meminta biaya kuliah kepadaku?"
Suara di seberang sana menghilang, seolah terdiam karena pertanyaannya. Namun, tak lama kemudian terdengar suara pria paruh baya yang marah, "Lu Yao, kau anak tidak tahu diuntung! Demi menyekolahkanmu, kami hidup hemat. Sekarang setelah kau sukses dan sayapmu sudah kuat, kau tidak mau lagi mengakui keluarga ini, tidak mau lagi mengurus adikmu, begitu?!"
Dewi Lu Yao memijat pelipisnya. Manusia benar-benar merepotkan!
"Berapa yang dibutuhkan?"
Orang di seberang sana terdiam sejenak, lalu berkata, "Biaya kuliah, buku, dan asrama totalnya tiga puluh lima ribu. Tambahkan sedikit untuk uang sakunya, kirimkan saja lima puluh ribu."
Dewi Lu Yao baru saja tiba di dunia manusia dan belum memahami nilai uang lima puluh ribu. Ia menjawab dengan asal, "Baiklah."
Orang di seberang sana terdengar jauh lebih senang. "Kalau begitu, cepat transfer uangnya."
"Bagaimana cara mentransfernya?"
Orang di seberang sana terdengar tidak sabar. "Bukankah kau punya nomor rekening adikmu? Kalau merasa ribet, pakai WeChat atau Alipay saja!"
Tadi Lin Xiaoting hanya mengajarinya fungsi dasar, sementara fitur transfer yang canggih itu belum dipelajari oleh Dewi Lu Yao. Ia pun berkata, "Hari sudah larut, bicarakan lagi besok."
Setelah menutup telepon, Dewi Lu Yao berbaring telentang di tempat tidur, lalu tanpa sadar mulai memikirkan Xiao Luxing.
"Entah bagaimana nasib orang itu sekarang," gumamnya. "Hanya seorang manusia biasa, tapi berani-beraninya mencoba melawanku. Tunggu sampai dia merasakan kekuatan makhluk itu, aku pasti akan membuatnya berlutut memohon ampun padaku!"