Bab Tujuh Belas: Apa Itu Berpacaran
Halaman (1/3)
Reaksi pertama Dewi Luyau adalah mencengkeram lengan anak laki-laki itu dan membantingnya melewati bahu.
Sayangnya, ia terlalu melebih-lebihkan kekuatan tubuh fananya. Lengannya memang berhasil dicengkeram, tetapi ketika diangkat, anak laki-laki itu sama sekali tidak bergeming!
Dewi Luyau segera mengubah jemarinya menjadi cakar, lalu menggores lengan anak laki-laki itu sekuat tenaga. Anak itu menjerit kaget dan buru-buru melepaskannya, kemudian menatap tak percaya bekas cakaran merah menyala di lengannya.
“Luyau!” Mata anak laki-laki itu memerah. “Apa kau benar-benar begitu membenciku?”
Dewi Luyau mundur selangkah. Barulah ia dapat melihat sosok anak laki-laki itu dengan jelas. Ia mengenakan kaus putih polos, celana olahraga hitam, dan sepatu kanvas putih. Penampilannya bersih, segar, serta penuh semangat. Dibandingkan Siau Lusing, ia tampak jauh lebih mudah didekati.
Ia dan anak itu saling berpandangan. Mata anak laki-laki itu tidak seindah mata Siau Lusing. Mungkin karena baru saja menangis, lingkar matanya agak merah dan bagian di sekelilingnya sedikit sembap, sehingga matanya tampak tidak terlalu besar.
Namun, raut wajahnya tegap dan proporsional. Meski tidak semenarik Siau Lusing, di antara orang biasa ia tetap tergolong cukup tampan.
“Siapa kau?” Mata Dewi Luyau dipenuhi kebingungan dan ketidaksenangan.
Anak laki-laki itu membelalakkan mata dan membuka mulut lebar-lebar, tampak sangat terkejut. “Luyau, kau sungguh mau memperlakukanku seperti ini? Sebenarnya aku harus berbuat apa agar kau mau memaafkanku?”
Ketika Dewi Luyau menanyakan siapa dirinya, emosinya menjadi sangat meluap-luap. “Sudah kubilang, aku terpaksa! Kau tahu sehebat apa latar belakang Hu Lili? Kalau kita menyinggung perasaannya, kita semua akan tamat! Bisakah kau sedikit lebih masuk akal, Luyau? Aku melakukan semua ini demi masa depan kita!”
Alis Dewi Luyau terangkat. Api kemarahan yang tak jelas asalnya perlahan mulai menyala di dalam hatinya.
Ia sangat tidak terbiasa, bahkan amat muak, dengan cara manusia fana yang seolah tidak mendengar pertanyaan orang lain!
Memangnya sulit menjawab pertanyaan?
Dulu Zhang Minglei bersikap seperti itu, Siau Lusing juga begitu, dan sekarang, bahkan orang yang ditemuinya secara kebetulan di jalan pun sama saja!
“Aku tidak ingin membuang waktu berbicara denganmu. Menjauhlah dariku!”
Anak laki-laki itu semakin bersemangat. Ia melangkah maju dan mengulurkan tangan hendak meraih bahu Dewi Luyau. Mana mungkin Dewi Luyau membiarkannya berhasil? Ia bergeser ringan dan menghindar.
Anak itu meraih tempat kosong. Wajahnya memperlihatkan kemarahan sekaligus keterkejutan. “Luyau, kau sudah bertekad untuk putus denganku, ya?”
“Hm!” Dewi Luyau mendengus dingin sambil meliriknya dengan jijik.
Anak laki-laki itu mengepalkan tinjunya. Ia tampak sangat sedih dan geram. “Baik, kau memaksaku, ya? Kalau begitu, aku justru tidak akan membiarkanmu mendapatkan keinginanmu! Kuberikan kau waktu satu bulan untuk menenangkan diri. Tapi jangan lupa, aku menyimpan beberapa gigabita foto telanjangmu secara diam-diam!”
Dewi Luyau baru saja hendak bertanya apa yang dimaksud dengan foto telanjang ketika mobil Siau Lusing berhenti di sampingnya dengan suara decitan tajam. Keduanya sama-sama terkejut.
Halaman (1/3)
Demi menghindari kesalahpahaman dan masalah yang tidak perlu, Siau Lusing meminta Luyau menunggunya di tempat itu setiap pulang kerja.
Dari kejauhan, ia melihat seorang pemuda menyentuh-nyentuh Luyau. Keduanya tampak sangat akrab. Entah mengapa, rasa jengkel mendadak muncul di dalam hatinya.
“Naik!”
Dengan wajah muram, Siau Lusing mengucapkan satu kata itu, lalu menutup jendela mobil tanpa memberi kesempatan untuk membantah.
Dewi Luyau juga tidak ingin terus terlibat dengan anak laki-laki tak dikenal itu. Ia segera masuk ke mobil, meninggalkan si pemuda yang masih berdiri di tempat dengan wajah penuh kebingungan, menatap kosong mobil tersebut hingga perlahan menghilang di tengah arus kendaraan.
“Siapa pemuda itu?”
Dewi Luyau menoleh kepada Siau Lusing. Entah mengapa, ia merasa pria itu sedang susah payah menekan amarahnya. Ia pun berpikir, mungkinkah terjadi sesuatu di kantor hari ini?
“Tidak tahu.”
Siau Lusing tiba-tiba menoleh. Tatapannya setajam pisau, seakan-akan ingin membelah orang di hadapannya menjadi dua. “Kalian tadi berpelukan begitu mesra, tapi kau tidak tahu siapa dia?!”
Dewi Luyau mengangguk dengan wajah polos. “Aku memang tidak tahu siapa dia. Aku sudah bertanya, tetapi dia tidak menjawab!”
Siau Lusing mendengus. Seolah teringat sesuatu, raut wajahnya sedikit membaik. “Apa saja yang dia katakan kepadamu?”
Dewi Luyau berpikir sejenak, lalu mengulangi setiap perkataannya tanpa kurang sedikit pun. “Dia berkata, ‘Luyau, aku salah. Jangan putus denganku, ya?’ Lalu dia juga berkata, ‘Luyau, apa kau benar-benar begitu membenciku?’ Setelah itu dia berkata lagi, ‘Luyau, kau sungguh mau memperlakukanku seperti ini? Sebenarnya aku harus berbuat apa agar kau mau memaafkanku?’...”
“Sudah!” Siau Lusing langsung mengerti. Pemuda itu pasti mantan kekasih Luyau atau semacamnya. Sepertinya telah terjadi sesuatu di antara mereka dan pemuda itu datang untuk meminta balikan.
Ia tidak tertarik pada kisah asmara Luyau, tetapi hal yang perlu dijelaskan tetap harus dijelaskan dengan tegas. Maka, ia berkata dengan suara dingin, “Sebelum kariermu stabil, kau tidak boleh berpacaran!”
Di mata Dewi Luyau tampak kilatan rasa ingin tahu. “Apa itu berpacaran?”
Siau Lusing terdiam.
Dengan sangat heran, ia menoleh dan bergumam pada dirinya sendiri, “Jangan-jangan di dunia para dewa memang tidak ada istilah berpacaran?”
Dewi Luyau berpikir sejenak, lalu menjawab dengan yakin, “Aku belum pernah mendengar istilah itu.”
Rasa ingin tahu Siau Lusing seketika tersulut. “Kalau begitu, apakah para pria dan wanita di dunia para dewa tidak pernah tinggal bersama?”
Dewi Luyau sangat kebingungan. “Tentu saja pernah! Di Istana Miaoyan ada pria dan wanita!”
Halaman (2/3)
“Bukan tinggal bersama dalam arti itu,” kata Siau Lusing sambil tertawa getir. “Maksudku, apakah ada dua orang yang tinggal berdua saja, dalam satu kamar, tidur di satu ranjang?”
Dewi Luyau berkedip. “Ada!”
Siau Lusing merasa adrenalinnya mendadak melonjak.
Namun, Dewi Luyau melanjutkan, “Tuan Abadi Qingyan dan Batu Kecil tinggal di satu kediaman gua. Hanya saja, sepertinya sangat sedikit orang di dunia para dewa yang tidur di ranjang. Mereka biasanya bermeditasi sambil duduk.”
Gosip ini sepertinya bukan seperti yang ia bayangkan!
Siau Lusing berpikir sejenak, lalu bertanya lagi, “Apa hubungan Tuan Abadi Qingyan dan Batu Kecil?”
Dewi Luyau berpikir sejenak. “Seharusnya hubungan mereka ayah dan anak perempuan.”
Jantung Siau Lusing berdebar semakin cepat. Ia segera bertanya, “Kalau begitu, siapa ibu Batu Kecil?”
Dewi Luyau menatapnya dengan wajah terkejut, seakan-akan Siau Lusing baru saja mengajukan pertanyaan yang sangat bodoh. “Batu Kecil tidak punya ibu!”
Percakapan mereka benar-benar tidak berada pada jalur yang sama. Siau Lusing sampai kehabisan kata. “Kalau tidak punya ibu, bagaimana Batu Kecil bisa lahir? Muncul dari celah batu?”
Dewi Luyau juga merasa sangat tidak berdaya. “Benar, dia memang muncul dari celah batu!”
Siau Lusing merasa dirinya hampir dibuat gila oleh Luyau. “Bagaimana mungkin?”
Dewi Luyau semakin merasa bahwa kecerdasan manusia fana sungguh mengkhawatirkan. “Apa yang aneh? Tuan Abadi Qingyan menemukan sebuah batu roh yang telah memiliki kesadaran. Karena merasa berjodoh dengannya, ia membantunya melewati cobaan petir dan berubah menjadi manusia. Saat menjalani cobaan itu, Tuan Abadi Qingyan memberikan setetes darah dari jantungnya. Karena tubuh Batu Kecil memiliki garis keturunan Tuan Abadi Qingyan, tidak ada salahnya jika ia memanggilnya ayah!”
Astaga, Siau Lusing benar-benar menyerah.
Dewi Luyau terus mendesaknya. “Cepat katakan, apa itu berpacaran?”
Siau Lusing sudah kehilangan minat. “Cari saja di internet.”