Komputer game pertama di dunia, "Legenda," kini resmi diluncurkan!
Pabrik Babi, Gedung Perkantoran.
Para karyawan bekerja lembur, sibuk mempersiapkan peluncuran game baru. Game yang dimaksud adalah “Gerbang Legenda”, yang saat ini menjadi game paling populer dengan jumlah pemesanan terbanyak!
Tentu saja, seperti halnya game lain di dunia ini, game tersebut sepenuhnya merupakan permainan simulasi VR.
Manajer proyek, Pak Liu, duduk santai di belakang meja kerjanya sambil menikmati secangkir teh. Game VR terbaru mereka akan segera dirilis.
Iklan yang menampilkan bintang muda yang mereka kontrak berjalan sangat baik, dan hasil pemesanan pun memuaskan. Sekarang, mereka hanya tinggal menunggu hasil panen.
Di saat itu juga, pintu kantor diketuk. Manajer pemasaran masuk membawa setumpuk berkas.
Sambil ragu ia bertanya, “Pak Liu, ada satu game dari perusahaan kecil yang diiklankan oleh Zhang Jiafei. Game itu rilis bersamaan dengan kita. Iklannya bilang... ini game komputer. Perlu kita perhatikan?”
“Game komputer? Apa itu?” Pak Liu mengernyitkan dahi, merenung sebentar lalu menggeleng santai, melambaikan tangan, “Game komputer? Saya bahkan belum pernah dengar. Zhang Jiafei...? Bukankah ia sudah bukan bintang besar lagi? Perusahaan kecil berani-beraninya rilis bersamaan dengan kita... Hmph, kalau dia mau jadi tumbal, biarkan saja. Tak perlu dipedulikan, kau boleh pergi.”
Bawahan itu pun meletakkan berkas lalu berbalik keluar.
...
25 Juli.
Game VR terbaru dari Pabrik Babi, “Gerbang Legenda”, resmi dirilis. Dalam hitungan detik, jumlah pemain mencapai sepuluh ribu orang, dan langsung menjadi perbincangan di seluruh internet!
Kata kunci game itu pun langsung menempati posisi teratas di trending sosial media.
Namun di waktu yang sama ketika “Gerbang Legenda” diluncurkan, sebuah perusahaan kecil yang nyaris tak dikenal, “Perusahaan Keajaiban”, juga merilis game mereka berjudul “Legenda”.
Tapi dibandingkan “Gerbang Legenda”, game “Legenda” ini sangatlah “diam-diam”.
Tak hanya nyaris tak ada kehebohan di dunia maya, bahkan akun media sosial game atau influencer game indie pun tidak ada yang membahasnya.
SMA No. 1 Qingcheng.
Di sebuah kelas.
Sinar senja merambat masuk lewat jendela, menyorot papan tulis dan mewarnai sebagian besar permukaannya dengan rona keemasan.
Bel pulang sekolah berdentang, para murid bersorak, bangkit berdesakan, menggendong tas keluar dari kelas.
Beberapa siswa lelaki berjalan bersama, sambil bercanda di lorong.
“Besok akhir pekan, ayo main game bareng, bro! Minggu ini keluargaku baru beli perangkat VR baru, sudah nggak sabar pengen nyobain.”
“Game lama-lama itu lama-lama ngebosenin juga. Katanya Pabrik Babi hari ini rilis ‘Gerbang Legenda’. Gimana kalau kita main itu bareng?”
“Setuju! Eh, Wang Ming, kita main bareng ya! Bareng main ‘Gerbang Legenda’!”
Wang Ming berjalan paling belakang, mengenakan jaket jins pudar, dengan poni agak panjang yang menutupi dahinya.
Menanggapi ajakan teman-temannya, ia hanya tersenyum kikuk, menggeleng pelan, “Nggak usah, aku... kurang suka main game.”
Setelah berkata begitu, ia melambaikan tangan pada teman-temannya dan mempercepat langkah meninggalkan mereka.
Saat ia hampir menjauh, samar-samar ia mendengar suara teman di belakang menertawakannya.
“Heh, ngapain ngajak Wang Ming? Keluarganya nggak punya uang, beli perangkat VR aja nggak mampu, gimana mau main game?”
“Masa sih, harga perangkat VR satu aja paling sepuluh jutaan, sekarang keluarga mana sih yang nggak sanggup keluarin segitu?”
Kepala Wang Ming menunduk makin dalam, poni menutupi hampir seluruh kacamatanya, matanya memancarkan rasa minder dan tak berdaya.
SMA ini adalah sekolah unggulan di Qingcheng. Murid-murid yang bisa sekolah di sini, kalaupun bukan dari keluarga kaya, setidaknya dari keluarga menengah.
Namun Wang Ming berbeda, ia datang dari desa, orang tuanya petani.
Memang, di dunia ini, jadi petani bisa hidup cukup, setidaknya tak kekurangan makan dan pakaian, dan ia pun biasanya punya uang jajan.
Tapi menikmati hiburan mahal seperti game VR, itu jelas di luar jangkauan!
Hanya untuk sekadar main game, harus beli perangkat VR seharga belasan juta, memikirkannya saja Wang Ming sudah merasa itu terlalu mewah.
Ia kembali ke kontrakannya, menaruh tas, duduk di depan meja. Ia menatap komputer tuanya yang agak usang, lalu menghela napas kecil.
Di usianya, siapa sih yang tak suka main game?
Namun sekarang, semua game butuh perangkat VR, tanpa VR, tak ada game yang bisa dimainkan.
Andai saja ia bisa menukar komputer ini dengan perangkat VR, alangkah bahagianya, ia pasti bisa main “Gerbang Legenda”, dan tak akan jadi bahan olok-olok teman-temannya.
Wang Ming menggeleng, menyingkirkan angan-angan tak realistis itu.
Ia menyalakan komputer, bersiap seperti biasa menonton film untuk menghabiskan waktu sebelum istirahat.
Akhir pekan, bagi siswa lain, adalah waktu bahagia main game semalam suntuk.
Tapi bagi Wang Ming, itu adalah waktu yang sunyi dan suram.
Ia membuka komputer, berselancar di internet mencari film menarik.
Tiba-tiba, sebuah iklan pop-up muncul di layar.
“Game komputer pertama di dunia, ‘Legenda’, resmi diluncurkan! Versi baru yang belum pernah kau mainkan! Semua perlengkapan didapatkan dari usaha sendiri, transaksi bebas! Kalau kau saudara sejati, datanglah ke ‘Legenda’ dan lawan aku!”
Dalam video itu, tampil Zhang Jiafei mengenakan baju besi warna-warni yang unik, mengangkat pedang besar pembantai naga, membaca naskah dengan logat Hong Kong yang kental.
Melihat iklan itu, Wang Ming tak bisa menahan senyum.
Ia memang suka menonton film lawas Hong Kong-Taiwan, jadi sangat familiar dengan Zhang Jiafei, aktor yang sangat berbakat, dan Wang Ming sangat mengaguminya.
Hanya saja... sekarang, sang aktor juga mulai menerima iklan lucu seperti ini.
Saat Wang Ming hendak menutup iklan sambil tersenyum, mendadak ia mengernyit, mengingat kata-kata iklan tadi, lalu menajamkan pandangan, memperhatikan iklan itu lebih seksama.
Di bagian atas iklan tertulis jelas:
“Game ‘Legenda’ tak perlu perangkat VR, cukup komputer, langsung bisa main!”
“Game daring komputer pertama di dunia, sistem voucher, seratus ribu rupiah bisa main dua ratus lima puluh jam!”
“Login pertama gratis setengah jam!”
Mata Wang Ming membelalak, napasnya memburu!
Game daring komputer?
Game yang bisa dimainkan di komputer!
Dan, hanya dengan voucher, seratus ribu rupiah sudah bisa main dua ratus lima puluh jam, artinya hanya sekitar empat ratus perak per jam!
Jauh lebih murah dibanding main di kafe game VR!
Lebih penting lagi, uang jajannya cukup untuk itu, bahkan lebih dari cukup!
Sesuatu yang dulu tak pernah ia bayangkan!
Di kafe game VR, satu jam main saja sudah delapan puluh ribu, bahkan seratus ribu!
Wang Ming menelan ludah, buru-buru menggerakkan mouse, mengklik iklan itu!
Masuk ke situs resmi!
Ia membaca detail pengenalan dan latar belakang game itu.
“Latar belakang: Pernah ada beragam makhluk hidup di benua misterius Marfa ini.
Kekuatan manusia sangat lemah, mereka terpaksa membentuk berbagai organisasi agar mampu melawan binatang dan monster yang memiliki kekuatan supranatural...”
“Deskripsi game: Game ini memiliki empat profesi: prajurit, penyihir, pendeta, dan pembunuh. Semua peristiwa, perolehan pengalaman, kegiatan berburu dan menambang berlangsung secara daring di jaringan komputer.
Di dunia ‘Legenda’, ada konsep siang malam, perdagangan, barang, dan lain-lain. Pemain bisa memperoleh uang melalui menambang, berburu, lalu menggunakannya untuk berdagang.”
Semakin membaca, jantung Wang Ming berdegup makin kencang, sorot matanya semakin bersinar!
Luar biasa!
Game ini bahkan lebih menarik dibanding semua game VR yang pernah diceritakan teman-temannya!
Dunia yang begitu luas, latar cerita yang menakjubkan, elemen game yang begitu kaya dan beragam!
Inilah game yang sesungguhnya!
Tanpa ragu, Wang Ming langsung mengklik tombol unduh, dan menggunakan uang jajannya membeli satu voucher!
Untuk pengalaman gratis setengah jam, menurutnya itu jelas tak cukup!
Sambil menunggu unduhan selesai, ia memesan makanan, lalu berselancar di forum resmi situs game.
Saat itu, postingan di forum memang belum banyak, namun isinya penuh pujian!
“Gila, game ini keren banget!”
“Kirain cuma tipu-tipu, ternyata beneran bisa main game di komputer! Gokil beneran!”
“Nggak nyangka bisa main game sebagus ini di komputer!”
“Game ini luar biasa! Semua game VR kalah, aku nobatkan ini jadi masterpiece!”
...
Wang Ming membaca komentar-komentar itu sambil tersenyum, makin dibaca makin tak sabar, makin ingin segera mencoba.
Dan pada saat itu.
“Ding!”
Suara notifikasi yang jernih terdengar dari komputer.
Game selesai diunduh!