Bab 5: Dunia Para Dewa Dibuka
Kepercayaan diri dan keyakinan tinggi Tan Cu terhadap kemampuannya, hancur berkeping-keping seiring hantaman Pedang Unggul ke lantai.
“Tan kecil, kau masih punya satu kesempatan lagi. Kali ini kau yang menyerang, sementara Tang Jian bertahan,” ucap Lin Yuru, tak lupa akan tujuan kedatangannya.
Ucapan itu langsung membuat Tang Jian tegang.
“Tidak perlu lanjut lagi, kalian pulang saja. Mungkin memang aku tak layak menjadi pemain profesional,” ujar Tan Cu, hatinya sudah patah semangat.
“Tapi…” Lin Yuru masih berusaha membujuk. Ia sudah berkali-kali menonton rekaman video itu, kemampuan mengoperasikan komputer si penjaga warnet yang secepat kilat begitu berkesan di benaknya. Orang seperti ini, sepuluh tahun pun sulit ditemukan!
“Terima kasih sudah jauh-jauh datang mencariku, tapi aku tak punya waktu melayani kalian lagi. Masih banyak urusan di warnet,” Tan Cu menoleh ke pintu, sudah ada beberapa pelanggan lama yang masuk.
“Tan kecil, pikirkan lagi,” Lin Yuru berkata dengan nada pasrah. Ia bahkan merasa seperti sedang merendahkan diri.
“Hari ini hari terakhir warnet buka, jam dua belas malam nanti internet akan diputus. Sebelum jam dua belas, semuanya gratis,” kata Tan Cu menyambut para pelanggan di pintu.
“Yeay, masih ada enam jam gratis, cepat rebut komputer!” seru para pelanggan yang langsung berbondong-bondong masuk.
Tan Cu berdiri di balik meja kasir, satu per satu membantu pelanggan lama membuka kartu mereka.
Di tengah kesibukannya, ia menoleh ke pintu, hanya melihat bayangan sepasang pria dan wanita yang perlahan menjauh…
Mimpi menjadi pemain profesional, biarlah berakhir malam ini.
***
Besok adalah pembukaan resmi “Dunia Dewa”, sebuah permainan virtual realitas penuh yang sangat realistis, dengan tingkat kemiripan dunia nyata lebih dari 95 persen, sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya!
Terlebih, pihak resmi sudah mengumumkan bahwa mata uang di dunia nyata dapat langsung ditukar dengan mata uang di dalam permainan, membuat popularitasnya meroket!
Yang paling menarik, permainan ini dibuka secara serentak di seluruh dunia, tapi para pemain dari setiap negara ditempatkan di benua yang berbeda. Selama pemain menemukan gerbang teleportasi antar benua, mereka bisa bermain dan berinteraksi dengan pemain luar negeri…
Para pemain pun dibuat gila!
Karena permainan ini sepenuhnya meninggalkan penggunaan mouse dan keyboard, mengandalkan operasi tiga dimensi di ruang virtual, selain membutuhkan koneksi internet, pemain juga harus membeli alat penghubung khusus “Dunia Dewa”.
Alat penghubung ini berupa helm dan sebuah kursi kendali yang mirip kursi pijat.
Harganya pun sangat mahal. Sejak pertama diluncurkan, harga helm dan kursi kendali tidak pernah turun. Hampir setahun berlalu, harganya masih bertahan di angka delapan ribu per unit, tapi tetap saja laris manis.
Setiap hari, antrian panjang mengular di depan ruang penjualan resmi helm dan kursi kendali “Dunia Dewa”...
Setengah bulan lalu, setelah seluruh komputer warnet diangkut oleh organisasi sosial setempat, Tan Cu pun mengunci pintu warnetnya.
Begitu keluar dari pintu, ia bahkan tak tahu harus berbuat apa.
Selepas lulus SMP, ia meninggalkan kampung halamannya yang miskin, datang ke kota untuk bekerja. Pemilik warnet yang baik hati menampungnya, hingga akhirnya ia sudah tinggal di warnet itu selama empat tahun!
Dalam empat tahun, ia belajar memperbaiki komputer, mengasah kemampuan bermain game, tapi di luar itu ia tak menguasai apa-apa.
Melihat lalu-lalang kendaraan di jalanan, Tan Cu hanya bisa terdiam…
Pulang kampung?
Tidak akan pernah! Setelah merasakan gemerlap kota, kampung kecilnya tak lagi mampu menampung impiannya.
Ia segera membawa tas kecilnya, lalu menyewa kamar di sebuah losmen tak jauh dari warnet.
Beberapa hari kemudian, berkat bantuan rekan-rekan sesama penjaga warnet, ia berhasil menyewa sebuah kamar kecil di kota.
Disebut kamar kecil pun memang benar, letaknya di lantai dasar sebuah rumah susun, dulunya ruang penyimpanan. Setelah pemilik membangun kamar mandi di dalamnya, kamar itu pun disewakan dengan harga murah.
Luas kamar tak sampai sepuluh meter persegi, di dalamnya hanya ada ranjang tunggal dan meja kecil. Perabotan rumah tangga hanyalah televisi warna model lama.
Dengan kondisi sesederhana itu, sewa per bulannya sangat murah, hanya dua ratus tiga puluh yuan.
Bagi Tan Cu yang belum menemukan sumber penghasilan baru, tempat ini bagaikan surga.
Dengan gembira ia membayar sewa tiga bulan sekaligus dan uang jaminan tiga ratus yuan, lalu resmi menempati kamar kecil itu.
Setelah urusan tempat tinggal selesai, langkah berikutnya adalah mencari pekerjaan.
Beberapa hari mencari kerja, Tan Cu sudah merasakan tekanan hidup.
Dengan ijazahnya, ia hanya bisa bekerja di restoran sebagai pelayan atau pencuci piring, gaji tertinggi pun tak sampai delapan ratus yuan sebulan!
Sudah capek luar biasa, penghasilannya bahkan tak sampai setengah dari waktu ia menjaga warnet, apalagi dibandingkan pendapatan dari jasa joki dan duel dalam game.
Maka pekerjaan di bidang jasa langsung ia coret dari daftar.
Beberapa hari berkeliling kota tanpa tujuan, Tan Cu tetap saja tak menemukan pekerjaan yang cocok.
Siang itu, matahari begitu terik, suhu mencapai empat puluh dua derajat.
Dengan menahan panas, Tan Cu mengunjungi beberapa toko servis elektronik, berharap bisa mendapatkan pekerjaan dari keahliannya memperbaiki komputer. Namun, satu per satu ia ditolak, hingga akhirnya ia berencana pulang.
Saat berjalan, di seberang jalan tampak layar LED sebuah gedung bisnis menayangkan iklan yang menarik perhatiannya…
Dunia Dewa dibuka, impian miliaran manusia!
Gagal meraih sukses di dunia nyata?
Selamat datang di Dunia Dewa…
Masih pusing mencari kerja?
Dunia Dewa penuh dengan emas…
Selama kau berani bermimpi, segalanya mungkin di Dunia Dewa!
Setelah rangkaian kata itu berlalu, layar berubah…
Di tengah gemuruh perang, seorang jenderal bertubuh kekar berpakaian zirah besi dengan tombak panjang, mengendarai kuda perang, memimpin tak terhitung banyaknya pasukan menuju ke depan!
Di kejauhan, titik-titik hitam berlari mendekat dengan cepat…
Itu adalah gerombolan zombie dan kerangka, di antara mereka juga terdapat legiun monster berwujud orc!
Dua pasukan saling menerjang, sebentar saja sudah beradu dan bercampur…
Senjata terangkat tinggi, darah berhamburan.
Kepala manusia dan monster beterbangan, anggota tubuh terpotong berserakan, suasana penuh pembantaian!
Saat Tan Cu menonton dengan semangat membara, layar kembali berubah, muncul gambar seorang gadis cantik berkostum klasik di layar besar.
Lalu, lagu tema Dunia Dewa yang indah mulai mengalun, diiringi suara merdu sang gadis klasik…
Sosok gadis klasik sempurna itu sangat dikenali Tan Cu, meskipun ia jarang keluar dari warnet.
Ia adalah ratu film dan sinetron, Zhang Daishan, yang kini sedang naik daun di dunia maya dan hiburan!
Wah, agen Dunia Dewa benar-benar total, sampai mengundang bintang papan atas sebagai duta, pasti biayanya sangat besar!
Tan Cu termenung, merasa agak sedih…
Selama beberapa tahun menjadi penjaga warnet dan joki game, semua uang yang didapatnya selalu dikirim ke kampung, karena kebutuhan makan dan tempat tinggalnya sudah ditanggung.
Kini, dengan tabungan hanya beberapa ribu yuan yang harus cukup sampai mendapat pekerjaan baru, jelas ia tak mampu membeli helm mahal untuk bermain game.
Tan Cu menggelengkan kepala, lalu berjalan pulang ke kamar sewaannya.
Jalanan terlalu panas, jika terus memaksa mencari kerja di tengah terik, belum dapat pekerjaan, badannya bisa tumbang duluan!