Bab Sebelas: Sekali Mendayung, Dua Pulau Terlampaui
Di dalam hutan.
Cahaya matahari menembus celah-celah dedaunan, menyinari permukaan tanah. Seekor kera pemalas berbaring dengan santai di atas sebuah batu besar, menikmati kesejukan suasana hutan.
Tidak jauh dari sana, Chi Yue yang telah menentukan target aksinya, mengamati sekeliling dengan waspada. Setelah memastikan arah pelariannya nanti, ia segera mulai bergerak.
Menarik perhatian kera pemalas itu sangatlah mudah. Chi Yue memungut sebuah batu seukuran kepalan tangan dari tanah. Setelah menimbang-nimbangnya sejenak, ia melontarkannya ke arah posisi makhluk tersebut.
Batu itu melesat membentuk busur di udara dan jatuh tepat di samping kera pemalas itu. Meski tidak mengenai sasaran, suara benturan batu tersebut membuat kera itu terlonjak kaget dari batu tempatnya berbaring. Makhluk itu menolehkan kepala berbulunya ke segala arah sambil mengeluarkan raungan yang sangat parau.
Melihat perhatiannya berhasil dialihkan, Chi Yue segera melambaikan tangan dan melakukan gerakan provokasi agar dirinya terlihat jelas di antara pepohonan. Sesuai dugaan, begitu melihat gerakan Chi Yue, bulu di sekujur tubuh kera itu berdiri tegak. Ia melompat turun dari batu dan berlari kencang mengejar Chi Yue, sembari memukul-mukul dadanya sendiri seolah melampiaskan kemarahan.
Melihat musuhnya menerjang ke arahnya, Chi Yue tidak membuang waktu. Ia segera berbalik dan berlari menyusuri jalur yang telah ia rencanakan sebelumnya. Habitat kera pemalas itu berjarak sekitar dua kilometer dari tempat tinggal musang petir berekor tiga.
Satu manusia dan satu kera, saling mengejar di tengah hutan. Chi Yue berlari di depan sembari berusaha mengatur napasnya. Kera pemalas itu memiliki kecepatan yang luar biasa dan sangat mengenal medan hutan. Jika bukan karena jalur yang dipilihnya sendiri, mungkin ia sudah tertangkap sejak tadi.
Beberapa menit kemudian, ia akhirnya mendekati wilayah musang petir berekor tiga. Berkat peningkatan ketajaman penglihatan dari kemampuan "Mata Tajam dan Telinga Peka", Chi Yue sudah bisa melihat musang itu di atas pohon dari jarak jauh. Ia mengertakkan gigi dan berlari sekuat tenaga menuju posisi makhluk tersebut.
Musang petir berekor tiga yang berada di dahan pohon mendengar suara mendekat. Ketiga ekornya terangkat tinggi, memancarkan percikan listrik, bersiap untuk menyerang kapan saja. Chi Yue menyadari hal itu. Sembari melirik kera pemalas yang masih mengejarnya dengan rapat, sebuah rencana terlintas di benaknya.
Setelah menerobos semak belukar terakhir yang paling dekat dengan musang petir, ia segera mengaktifkan keterampilan "Kecepatan Kilat". Kecepatannya melonjak drastis, membuatnya mampu menjauhkan diri dari kera pemalas yang belum sempat bereaksi, lalu ia berbelok arah dan berlari menjauh tanpa menoleh lagi.
Musang petir berekor tiga hanya melihat sebuah bayangan melintas. Sebelum sempat melancarkan serangan, mangsanya sudah menjauh. Namun, ia belum sempat menurunkan kewaspadaannya ketika ada makhluk lain yang memasuki wilayahnya. Dialah kera pemalas yang tadi mengejar Chi Yue.
Hal ini memicu kemarahan musang petir berekor tiga yang memiliki insting teritorial sangat kuat. "Apa kalian pikir wilayahku ini taman belakang rumah kalian?"
Musang itu melompat ke pohon lain untuk mencari sudut serangan terbaik. Ujung ekornya memancarkan kilatan listrik, dan seketika sebuah petir menyambar ke posisi kera pemalas. Kecepatan petir itu sangat tinggi, ditambah lagi dengan serangan mendadak, kera pemalas tidak sempat menghindar dan terkena sengatan listrik telak.
Jeritan kesakitan terdengar. Bulu kera pemalas yang tadinya berwarna abu-abu keputihan seketika menghitam dan mengeluarkan bau hangus yang menyengat. Jika makhluk biasa yang terkena serangan itu, mungkin nyawanya sudah melayang. Namun, kera pemalas adalah monster luar biasa dengan level hanya satu tingkat di bawah musang petir, sehingga ia tidak tewas seketika.
Menahan rasa sakit di tubuhnya, kera pemalas mendongak dan beradu pandang dengan musang petir. Saat melihat percikan listrik di ekor musang itu, ia langsung sadar bahwa makhluk itulah penyerangnya.
"Hosh... hosh!" Kera pemalas meraung marah. Ia berlari cepat ke bawah pohon tempat musang petir berada, lalu mengayunkan tangannya dengan keras ke arah batang pohon tersebut.
"Brak!"
Sebuah dentuman keras terdengar. Akibat serangan kera itu, pohon sebesar pelukan orang dewasa tersebut retak dan tampak goyah. Di kejauhan, Chi Yue memanjat pohon untuk bersembunyi sembari mengamati pertarungan kedua monster itu. Melihat kera pemalas mampu meretakkan pohon dengan satu pukulan, ia terkejut, "Kekuatan yang luar biasa!"
Monster tipe normal memang memiliki kekuatan fisik yang sangat mengerikan. Karena tempatnya berpijak diserang, musang petir terpaksa berpindah ke pohon lain untuk menjaga ketinggian agar tidak terkena serangan jarak dekat. Namun, kera pemalas adalah ahli memanjat. Saat musang itu berpindah, ia segera melompat ke pohon yang sama dan terus mengejar.
Meski musang petir lincah dan gesit saat melompat antar pohon, tubuh kera pemalas yang besar memungkinkannya menempuh jarak jauh dalam satu lompatan. Jarak di antara keduanya segera menyusut.
Di tengah pengejaran, kera pemalas memanfaatkan kesempatan saat melompat tinggi melewati beberapa pohon. Sebelum musang petir sempat mendarat, kera itu sudah berada di depannya dan mencengkeram musang itu dengan tangan besarnya. Otot-ototnya menegang, mengerahkan kekuatan yang cukup untuk meremukkan musang petir tersebut.
Demi menyelamatkan diri, musang petir secara naluriah melepaskan listrik dari ekornya hingga menyelimuti keduanya.
"Saatnya!" melihat pemandangan itu, Chi Yue tahu ini adalah kesempatan emas untuk memenangkan dua mangsa sekaligus. Jika ia membiarkan mereka saling membunuh, ia tidak akan mendapatkan hadiah apa pun. Memikirkan hal itu, ia segera turun dari pohon dan bergerak cepat menuju lokasi mereka.
Sesaat kemudian, ia tiba di bawah pohon tempat pertarungan terakhir terjadi. Di tanah, tergeletak dua sosok yang hangus terbakar; kera pemalas dan musang petir berekor tiga. Melihat kondisi musang petir, jelas bahwa meskipun ia monster berelemen listrik, ia tidak kebal terhadap sengatan listriknya sendiri.
"Semoga saja belum mati!" gumam Chi Yue sambil berdoa dalam hati. Setelah mendekat, ia melihat keduanya masih bernapas meski sangat lemah. Chi Yue menghela napas lega. "Masih ada napas, baguslah. Biar aku kirim kalian ke alam baka agar terbebas dari penderitaan."
Ia mengeluarkan tongkat kayu dan segera mengakhiri hidup keduanya.
[Berhasil membunuh monster kera pemalas level 3, pengalaman +30.]
[Berhasil membunuh monster musang petir berekor tiga level 4, pengalaman +40.]
Dengan tambahan 70 poin pengalaman, Chi Yue akhirnya bisa bersantai. Meski ia tidak mengeluarkan banyak tenaga dalam pertarungan ini, ketegangan mentalnya sangat tinggi. Beruntung tidak ada hal tak terduga yang terjadi, dan hasilnya cukup sempurna.
Setelah dipastikan tewas, dua gumpalan cahaya muncul di atas jasad mereka, satu berwarna biru dan satu kuning, bersinar berdampingan.
"Kali ini barang yang dijatuhkan memiliki atribut!" Chi Yue merasa gembira. Dibandingkan dengan keterampilan, atribut yang bisa dibawa ke dunia nyata jauh lebih berharga bagi Chi Yue di tahap ini.
Dengan penuh harap, Chi Yue segera mendekati gumpalan cahaya itu untuk memeriksa hasil tangkapannya.