Jilid Pertama Bab 42: Di Luar Tampak Bagai Profesor Universitas yang Terhormat, Namun di Dalamnya Adalah Seorang Suami yang Suka Melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Lu Yanzhou mengalihkan perhatiannya untuk membalas pesan Shen Yu'an, "Baru saja sampai, kudengar kau sedang sibuk, jadi aku tidak mengganggumu."
Shen Yu'an mengangguk, tetapi ia melihat yang lain, ternyata tidak ada seorang pun yang berbicara dengannya.
Terasa agak aneh.
[Yang Wen mencari Kakak Sulung dan mengatakan ingin bertanggung jawab padanya. Saat itu, Kakak Sulung secara tidak sengaja mengetahui bahwa setelah mereka bersama hanya dalam satu malam, ia ternyata hamil. Mendengar Yang Wen ingin bertanggung jawab, Kakak Sulung yang sedang bingung menceritakan hal ini kepada Yang Wen.]
[Yang Wen tidak menyangka kesempatan datang begitu tiba-tiba, bagaikan orang mengantuk diberi bantal.]
[Ia langsung melamar Kakak Sulung. Kakak Sulung yang saat itu masih muda langsung menyetujui lamaran Yang Wen, lalu kembali ke rumah untuk membicarakan hal ini kepada Ayah dan Ibu. Ayah dan Ibu sangat marah, tetapi setelah tahu Kakak Sulung hamil dan bersikeras hanya mau menikah dengan Yang Wen, mereka terpaksa menyetujui pernikahan tersebut. Tidak hanya itu, mereka bahkan membelikan rumah dan mobil untuk keduanya. Mengetahui Yang Wen tidak memiliki pekerjaan dan khawatir ia tidak mampu menghidupi Kakak Sulung, mereka menggunakan koneksi untuk mencarikan pekerjaan bagi Yang Wen di sebuah sekolah.]
[Sialan, ini benar-benar tipikal pria parasit yang menempel pada keluarga Shen kita untuk menghisap darah.]
Mendengar perkataan adiknya, Shen Nanzhi menundukkan kepala dengan perasaan kecewa.
Sementara itu, Shen Yu'an di samping merasa sangat terkejut.
Ia baru saja mengurus pekerjaan sebentar, bagaimana bisa saat kembali ia malah mendengar suara hati adiknya.
Adiknya sepertinya juga sedang memaki Yang Wen.
Sebenarnya apa saja yang telah ia lewatkan.
Demi agar sahabatnya bisa ikut menikmati drama ini, Lu Yanzhou dengan berbisik menceritakan seluruh awal mula dan akhir kejadian tersebut.
Lu Yanzhou tentu saja mengabaikan fakta bahwa ia bisa mendengar isi hati Shen Nanxi.
Setelah mendengarkan penjelasan Lu Yanzhou, kepalan tangan Shen Yu'an seketika mengeras.
Keparat sialan itu berani-aninya menindas kakaknya.
[Jika bukan karena masyarakat yang menjunjung tinggi hukum, aku benar-benar ingin melenyapkan keparat ini.]
Drama mengejutkan seperti apa yang membuat ipar perempuan begitu marah.
Shen Yu'an menatap adiknya dengan bingung.
[Sialan itu menempel pada keluarga Shen untuk menghisap darah saja sudah cukup, dia ternyata juga melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap Kakak Sulung. Kakak Sulung dua kali berturut-turut hamil dan mengalami keguguran, semuanya karena dipukuli oleh pria keparat ini. Lagipula, setiap kali dia menderita perlakuan buruk di luar, dia akan pulang dan melampiaskan kekerasan pada Kakak Sulung demi menyeimbangkan ketidakpuasan di dalam hatinya.]
[Ini bukan sekadar sakit jiwa, ini adalah penyimpangan psikologis murni. Setiap kali selesai memukuli Kakak Sulung, dia akan berlutut dan memohon pengampunan serta meminta maaf kepada Kakak Sulung. Kakak Sulung yang berhati lembut akhirnya memaafkan pria keparat ini, yang membuat pria itu semakin menjadi-jadi di kemudian hari. Kakak Sulung tidak pernah menceritakannya kepada keluarga karena takut membuat semua orang khawatir, dan lebih takut lagi mempengaruhi Yang Wen.]
[Aku benar-benar curiga apakah otak Kakak Sulung sudah diisi oleh zombi. Kau memikirkan Yang Wen, tetapi Yang Wen sama sekali tidak peduli dengan perasaanmu. Benar kata pepatah, kekerasan dalam rumah tangga hanya ada nol kali dan tak terhingga kali, tidak boleh ditoleransi bahkan untuk satu kali pun.]
[Siapa sangka, seorang profesor universitas yang berpenampilan rapi di luar, ternyata melakukan kekerasan terhadap istrinya sendiri di rumah.]
Shen Nanxi gemetar karena marah hingga bahunya ikut bergetar.
Yang lain juga tidak kalah murka.
Lu Shuchuan dan Lu Yanchuan menatap tajam ke arah Yang Wen. Masa kecil mereka adalah tetangga, dan mereka menganggap Shen Nanzhi seperti kakak perempuan kandung mereka sendiri.
Terutama orang tua dari keluarga Shen dan keluarga Lu, niat untuk menghabisi nyawa seseorang sama sekali tidak bisa disembunyikan.
Yang Wen menatap curiga ke arah tatapan orang-orang di sekitarnya. Padahal ia merasa tidak melakukan apa pun, mengapa ia merasa tatapan semua orang kepadanya berubah, bahkan punggungnya terasa dingin dan merinding.
Gu Xi juga merasakan ada yang tidak beres, ia buru-buru menarik lengan Yang Wen dan berbisik mengingatkan, "Kak, masalah ini adalah kesalahan kita, sebaiknya kau meminta maaf pada Kakak."
Mereka sekarang berada di wilayah keluarga orang lain, jadi mereka harus tetap bersikap rendah diri secukupnya.
Semua rahasia diungkapkan secara tiba-tiba oleh adiknya membuat Shen Nanzhi merasa canggung dan bingung harus berbuat apa.
Ia pura-pura membungkuk untuk memungut cangkir guna menyembunyikan rasa canggungnya.
[Cih, kalau permintaan maaf berguna, untuk apa ada kepalan tangan.]
"Kak, biar aku saja." Shen Nanxi melewati kerumunan dan mendatangi sisi Shen Nanzhi. Tampaknya ia membungkuk untuk membantu memungut cangkir, tetapi sebenarnya ia menarik lengan baju Shen Nanzhi ke atas, memperlihatkan bekas luka kebiruan di lengannya.
Di antaranya terdapat banyak bekas luka baru dan lama yang saling tumpuk.
Melihat luka-luka di lengan tersebut, kepalan tangan seluruh anggota keluarga Shen benar-benar mengeras, sementara ekspresi keluarga Lu sama sekali tidak terlihat lebih baik.
Secercah kepanikan melintas di wajah Yang Wen, namun segera ia sembunyikan.
"Kakak Sulung, bekas luka di tanganmu ini kenapa?" Shen Nanxi bertanya pura-pura tidak tahu.
Sebelum Shen Nanzhi sempat menjawab, Yang Wen melangkah maju dan mendorong Shen Nanxi ke samping, lalu dengan cepat menarik pakaian Shen Nanzhi ke bawah untuk menutupi luka-luka yang dangkal maupun dalam tersebut, "Beberapa hari yang lalu istrimu tidak sengaja terjatuh."
"Wah, kenapa kakakku sangat ceroboh sampai terjatuh terus setiap hari? Kuhasa masih ada luka baru juga, bagaimana caramu merawat kakakku." Shen Nanxi menendang betis Yang Wen.
Yang Wen yang sama sekali tidak bersiap-siap terdorong ke depan dan jatuh tersungkur di atas meja kopi, dahinya bahkan membentur sudut meja dan seketika berdarah. "Belum juga bertanya padamu, kenapa kau yang menyela dan menjawab."
Gu Xi buru-buru maju untuk membantu Yang Wen bangkit dari lantai, "Sepupu, kau tidak apa-apa? Kenapa dahimu berdarah."
"Aku tidak apa-apa." Yang Wen menepis tangan Gu Xi, menyentuh dahinya, dan jarinya seketika berlumuran darah. Tatapan yang ia lemparkan kepada Shen Nanxi memancarkan kebencian yang mendalam, "Nona dari keluarga kaya macam apa kau ini, tempramenmu begitu kasar."
Sambil berkata demikian, secara naluriah ia mengangkat kepalan tangannya dan hendak memukul ke arah Shen Nanxi.
Melihat adegan ini, Shen Yu'an dan Lu Yanchuan secara bersamaan maju menerobos ke depan. Shen Yu'an langsung menghantamkan tinjunya ke sisi wajah Yang Wen, "Berani sekali, di rumahku pun kau masih ingin menindas adikku."
Yang Wen terlempar oleh kekuatan hantaman tersebut hingga jatuh tersungkur di sofa.
Lu Yanzhou dengan sigap menarik pergelangan tangan Shen Nanxi dan menariknya ke belakang punggungnya.
Pandangan Shen Nanxi tertuju pada punggung bidang Lu Yanzhou, yang memberikan perasaan aman yang luar biasa.
Shen Nanxi tidak bersembunyi di belakang Lu Yanzhou terlalu lama. Ia menjulurkan kepala kecilnya yang berambut ikal dengan ekspresi usil dan berkata, "Ipar, tidak kusangka kau juga punya kecenderungan melakukan kekerasan. Baru dikritik beberapa patah kata saja sudah langsung naik pitam, aku sangat curiga luka di tubuh kakakku memang perbuatanmu."
Yang Wen baru sadar bahwa ia telah kehilangan kendali, "Aku bersikap kasar karena adik ipar melempar lelucon yang keterlaluan kepadaku."
"Oh, aku tidak sedang bercanda, aku memang sengaja melakukannya." Shen Nanxi memasang ekspresi yang membuat orang lain geram setengah mati.
Satu kalimat itu benar-benar membuat wajah Yang Wen merah padam karena marah.
"Kak, lenganmu ini sebenarnya terjatuh karena tidak sengaja, atau dipukul oleh Yang Wen." Shen Nanxi kembali bertanya dengan nada serius.
[Masalah seperti ini tetap harus diucapkan oleh korban sendiri, orang lain cemas pun tidak ada gunanya. Seandainya mereka berdua memang tipikal yang satu mau memukul dan yang satu rela dipukul, maka posisiku akan serba salah di luar maupun di dalam.]
[Pria pelaku KDRT memiliki gen kekerasan di dalam tulang sumsumnya. Sekalipun sekarang memohon pengampunan, pasti akan ada kejadian berikutnya di kemudian hari. Oleh karena itu, disarankan untuk langsung bercerai saja.]
[Berdasarkan kecantikan wajah kakakku dan status sosialnya yang terhormat, pria baik seperti apa yang tidak bisa ia dapatkan. Aku benar-benar tidak mengerti mengapa ia harus bersikeras menggantungkan diri pada pohon yang batangnya bengkok. Kalaupun harus pohon yang bengkok, setidaknya carilah pohon bengkok yang bentuknya sedikit lebih indah.]