Bab Dua Puluh Tujuh: Bai Qi, Sang Pembunuh Dewa
"Ya Tuhan! Apakah itu jenderal peringkat kedua dalam sejarah Negeri Naga yang telah kita teliti selama sepuluh tahun dan hanya ada dalam legenda?"
Tuan Wang berteriak gemetar karena sangat bersemangat. Suaranya terdengar agak parau dan melengking.
"Sepertinya benar, tetapi kita hanya mengetahui namanya dari catatan kuno yang tersisa, sedangkan riwayat hidupnya sama sekali tidak kita ketahui."
"Apakah Su Li bisa berhasil?"
"Tuan Wang, bagaimana jika dia berhasil?" tanya seorang peneliti di sampingnya dengan suara pelan.
Semua orang menoleh menatap Tuan Wang.
Tuan Wang menarik napas dalam-dalam, nadanya bercampur dengan keyakinan, "Jika dia berhasil, Su Li pasti akan melewati tingkat kedua!"
"Tunggu, Su Li langsung melewati patung pertama, dia beralih ke patung kedua!" teriak seorang peneliti dengan histeris.
"Patung kedua... siapakah itu?"
...
Su Li berdiri di depan patung kedua dan mendongak untuk melihatnya.
Tinggi patungnya mencapai sepuluh meter, wajahnya tampak tegas, kedua tangannya menggenggam sebilah golok besar, dan di bawah kakinya terhampar tumpukan tulang belulang.
Hal yang lebih mengejutkan Su Li adalah patung ini memancarkan aura yang sangat luar biasa. Ratusan kerangka di belakangnya tampak tunduk dan meronta. Aura berwarna darah meluap di sekelilingnya, dan bau anyir darah menyelimuti seluruh ruang kebangkitan.
Di depan patung ini terdapat sebaris puisi. Setiap aksaranya memancarkan kabut darah berwarna merah pekat:
*Tempat ini dulunya adalah medan perang, padang pasir membentang luas dan sunyi.*
*Angin dan hujan terus membawa ratapan jiwa yang tenang, seolah berada di kuil kuno para pahlawan yang terbengkalai.*
*Jenderal Zhao masih menyisakan dendam seribu tahun, mengapa tentara Qin ingin mengulangi kehancuran?*
*Kuil ini dibangun untuk penghormatan, namun tak percaya bahwa kerangka pun bisa memiliki raja.*
Su Li mundur tiga langkah dengan perasaan ngeri.
"Ternyata dia!"
"Dua jenderal besar sepanjang masa, sayang sekali, mereka muncul di medan perang mitologi. Jika mereka muncul di Bintang Biru, aku pasti akan berhasil!"
Su Li menenangkan perasaannya dan mengalihkan pandangan ke patung terakhir. Kali ini, dia benar-benar terpaku.
Patung ini tingginya delapan kaki, kepalanya mengenakan mahkota emas bertatahkan permata dengan pengikat rambut, dan keningnya dihiasi hiasan emas berbentuk dua naga yang memperebutkan mutiara. Wajahnya secantik bulan di musim gugur, rona pipinya seperti bunga di pagi musim semi, pelipisnya terlihat tegas seperti dipahat, alisnya bagaikan goresan tinta, wajahnya seperti kelopak bunga persik, dan matanya selembut gelombang musim gugur; saat marah pun seolah sedang tersenyum, dan saat menatap pun terasa penuh perasaan.
Bahkan Su Li, yang seorang pria, sempat merasa tertegun sesaat. Di sisi wajahnya terdapat topeng hitam yang tampak garang.
"Siapa ini?" Su Li bingung.
Tokoh sejarah terlalu banyak. Dia benar-benar tidak mengenali sosok bijak kuno yang muncul ini.
...
Namun, tak terhitung banyaknya wanita di Bintang Biru kini menatap lurus ke layar tempat Su Li berada.
"Terlalu... terlalu tampan."
"Apakah dalam sejarah benar-benar ada jenderal setampan ini?"
"Tidak tahan lagi, aku ingin dia jadi suamiku."
Banyak wanita menatap layar dengan mata berbinar penuh kekaguman.
"Pilih dia!!! Segera pilih dia!!"
"Pilih dia saja!!!"
...
Beberapa sarjana dan profesor tua pun merasa bingung. Patung ketiga tidak memberikan petunjuk apa pun, selain wajah yang sangat cantik dan setengah topeng hitam itu.
"Bagaimana cara memilihnya?"
...
"Aku tahu siapa dia."
Suara Li Bai terdengar di telinga Su Li.
Su Li terkejut, "Senior tahu? Siapakah dia?"
Li Bai terdiam sejenak, "Gao Changgong."
Su Li tampak bingung. Dia belum pernah mendengar nama itu.
"Zaman tempatnya hidup terlalu lampau, sehingga nama aslinya tidak tercatat dalam sejarah."
"Namun, gelar kehormatannya pasti kau ketahui."
Su Li bertanya, "Gelar apa?"
"Lanling Wang (Raja Lanling)."
Su Li terdiam. Setelah sekian lama, dia membungkuk kepada Lanling Wang, "Senior, mohon maaf. Jika berada di luar, aku pasti akan memilih Anda. Namun sekarang ini adalah Perang Dewa yang menyangkut nasib Negeri Naga, aku tidak bisa memilih Anda."
Su Li dengan tegas melangkah menuju patung kedua.
...
"Ada apa dengan Su Li? Patung pertama jelas adalah Lu Bu yang legendaris, itu adalah jenderal papan atas dalam sejarah, mengapa dia malah memilih yang kedua!"
"Su Li bodoh, apa sebenarnya yang kedua itu?"
"Habislah, jangan-jangan Su Li tidak mengenalinya? Apakah dia mencoba bertaruh segalanya?"
...
"Junior Su Li, mohon agar Wu'an Jun Bai Qi dari Dinasti Qin membuka gerbang dialog!"
BOOM!
Aura darah mulai membubung. Seluruh ruang kebangkitan tertutup oleh tulang belulang. Sungai darah mengalir deras di langit dan bumi. Pandangan Su Li perlahan memudar, dan tubuhnya perlahan menghilang.
...
"Wu'an Jun Bai Qi? Cepat catat!"
Para sarjana di Bintang Biru segera mengeluarkan buku catatan untuk mendata. Di atas nama Bai Qi, sudah ada Kaisar Pertama Qin dan Wu Sheng Guan Yu dari zaman Tiga Kerajaan. Kini, bertambah satu lagi: Wu'an Jun dari Qin — Bai Qi.
...
Di layar lain, Liu Qianqian yang selamat sedang berdiri di dalam istana, berpakaian seperti pelayan istana, memandang ke depan. Bibirnya terkatup rapat, tatapannya tenang.
Tirai mutiara tersingkap tertiup angin. Jubah naga berwarna merah menyala berkibar tertiup angin. Liu Qianqian menahan gemetar di hatinya dan bersujud, "Junior memberi hormat kepada Kaisar Dinasti Wu Zhou — Wu Zhao!"
...
Wang Ren, dengan lengannya yang cacat, berdiri di medan perang. Di depannya berdiri seorang jenderal gemuk bertubuh bulat, setinggi tujuh kaki, memegang kapak besar.
"Junior memberi hormat kepada Jenderal Cheng Yaojin dari Dinasti Tang!"
...
Hal yang membuat para sarjana Negeri Naga sangat gembira adalah, selama orang Negeri Naga yang selamat di tingkat pertama memiliki pengetahuan tentang salah satu dari tiga roh pelindung yang dipilih, atau berasal dari dinasti yang tidak terpaut jauh, mereka dapat berhasil mengenali roh tersebut. Hal ini membuat para sarjana yang tadinya putus asa menjadi bersuka cita.
"Dengan begini, kerugian Negeri Naga di tingkat kedua mungkin bisa diminimalkan!"
...
Medan perang berdarah. Langit dan bumi tampak kelabu.
Sesosok tubuh berdiri tegak di luar kota yang luas, tatapannya tenang memandang ke kejauhan. Di sekelilingnya, para prajurit berbaju zirah hitam memegang tombak dan mengepung pria itu di tengah. Ratusan prajurit Qin menatap pria di depan mereka dengan wajah pucat ketakutan.
Pria itu berdiri diam, pandangannya tetap tertuju ke arah ibu kota. Matanya menyimpan kebingungan yang mendalam.
"Mengapa Raja Zhao Xiang dari Qin mendengarkan saran orang sepertimu?" Bai Qi mengalihkan pandangan ke arah seorang pejabat sipil di balik barisan prajurit.
Fan Ju tampak tenang, mengangkat surat perintah kekaisaran, dan berteriak lantang, "Wu'an Jun, Baginda memerintahkanmu untuk menahan Tuan Xinling dari Negara Wei, namun kau terus menunda, menyebabkan sebagian besar wilayah kota Qin jatuh ke tangan musuh. Hari ini, Baginda memerintahkanmu untuk bunuh diri!"
"Hahaha, aku sudah lama menyarankan Baginda untuk menyerang dengan strategi, tetapi Baginda terus menunda. Baru setelah Tuan Xinling mengepung kita, aku diperintahkan untuk bertindak. Seperti orang sakit yang terbaring di tempat tidur, bagaimana bisa pergi berperang? Kau pejabat licik!"
"Silakan, Wu'an Jun." Fan Ju menurunkan surat perintah itu. "Sebagai Wu'an Jun yang telah membantai empat ratus ribu orang, sekarang ini dianggap sebagai pertanggungjawaban Qin terhadap Negara Zhao, dan terhadap rakyat dunia."
"Semoga Wu'an Jun bisa pergi dengan terhormat!"
Bai Qi menunduk menatap belati yang dilemparkan ke kakinya, lalu menunjukkan senyum getir.
"Inikah takdirku? Takdirku..."
Dia membungkuk mengambil belati itu dan mengarahkannya ke lehernya sendiri. Tatapan matanya yang merah darah tertuju pada para prajurit di sekelilingnya.
"Kalian semua adalah orang-orang yang kubawa sendiri."
Melihat hal itu, para prajurit segera menjatuhkan tombak mereka. Wajah Fan Ju berubah drastis, dia berteriak marah, "Angkat senjata kalian! Apakah kalian ingin membangkang perintah?"
Dia tahu betapa mengerikannya Bai Qi. "Pembantai yang kejam" sudah tidak cukup untuk mendeskripsikannya. "Penyembelih manusia" adalah sebutan yang paling tepat untuknya.
"Hehe..."
Bai Qi menatap Fan Ju yang seperti badut, tiba-tiba merasa lega. Dia menggoreskan belati di tangannya ke lehernya.
Langit dan bumi tiba-tiba membeku. Su Li perlahan muncul. Matanya menyempit, dan dia berteriak dengan cemas, "Senior, hentikan!"