Bab 6 Harimau Putih
Dunia Dewa, Istana Raja Harimau Putih, di dalam Balai Musyawarah telah gaduh penuh perdebatan yang tak berkesudahan.
Sebab perselisihan tak lain karena Yang Mulia Raja Harimau mengajukan usulan untuk merebut kembali “Pulau Ekor”. Terbagi dua kubu, yang mendukung perang dan yang menentang. Para bangsawan mengajukan keberatan dengan alasan kas negara kosong, garis depan terlalu panjang, dan kekuatan militer yang tidak memadai.
Kubuh pendukung perang yang diwakili oleh Pangeran Ping, dengan data sebagai dasar, memberikan argumen kuat, bahkan berdasarkan penelitian militer telah menyusun rencana yang dapat diandalkan.
Para bangsawan terdiam sejenak, namun hak istimewa mereka adalah bertindak semaunya. Apalagi situasi saat ini akan merugikan kepentingan besar mereka. Tak peduli benar atau tidak, mereka mulai saling memaki dengan tanpa kendali di dalam aula besar.
“Cukup!” terdengar suara tegas dari singgasana, semua orang dengan hormat menundukkan kepala dan menjadi sunyi.
Di singgasana duduk seorang wanita sekitar berusia tiga puluh tahun, dia adalah ibu kandung Xiao Yu sekaligus salah satu Raja Dewa di dunia ini. Ia menyandarkan satu tangan pada sandaran kursi, menatap dingin para bangsawan itu, dalam hati berharap seandainya bisa menyelesaikan semuanya dengan satu tebasan.
Para bangsawan ini, sejak enam bulan lalu membicarakan masalah ini, satu per satu menyimpan niat licik. Setelah disuap, mereka makin menjadi-jadi, bahkan menyebarkan fitnah di kalangan rakyat bahwa Raja Dewa ingin anaknya meraih prestasi dengan mengorbankan rakyat dan harta negara, demi memulai peperangan. Mereka juga membuat sebuah puisi balasan, menyindir kasih ibu yang berujung pada kehancuran anak. Baru saja, ada yang berani membacakan puisi itu, mengangkat isu ini menjadi persoalan negara dan keluarga, berpura-pura bijak dan setia menasihati, membuat Raja Dewa merasa jijik dan muak. Ia menahan amarahnya lama, akhirnya tak mampu lagi menahan kemarahannya.
“Keputusanku sudah bulat!” Raja Dewa tersenyum sambil menyilangkan kaki, “Kalau dua kubu tak bisa sepakat, mari kita putuskan dengan suit jari, satu ronde untuk menentukan pemenang.”
Seketika, di bawah menjadi hening beberapa detik, lalu gaduh. Semua orang meragukan apa yang baru didengar, persoalan besar yang berlarut-larut selama setengah tahun, diputuskan dengan cara main-main seperti itu. Bahkan Pangeran Ping terkejut, tak mengerti apa yang dipikirkan kakaknya.
“Pangeran Ping! Sima! Kalian sebagai perwakilan tidak keberatan?” tanya Raja Dewa dengan wajah penuh harapan.
Mereka saling berpandangan, lalu kembali menatap ke hadapan, tidak percaya, dan tidak berkata apa-apa.
“Mulai!” perintah Raja Dewa.
Dua orang itu berdiri berhadapan di tengah kerumunan. Jika biasanya, mereka tak mungkin menunjukkan sikap ramah seperti ini. Mereka tersenyum getir dalam hati, namun perintah Raja wajib ditaati. Semua orang penasaran apa maksud Raja Dewa. Lalu terdengar hitungan mundur, “3, 2, 1,” keduanya terpaksa bersiap dan mengeluarkan pilihan suit.
“Aah!!!...” teriakan kesakitan diikuti ratapan panjang membuat semua bangsawan menarik napas dingin. Pangeran Ping mengeluarkan batu, sementara Sima yang semula memilih kain, tangan yang keluar berubah menjadi gunting akibat tiga jarinya patah. Darah mengalir deras membuatnya tak berani bergerak, hanya bisa menahan pergelangan tangan dengan tangan yang lain, berdiri dengan susah payah di tempat.
“Ah?! Salah sasaran,” Raja Dewa kaget dan segera memanggil tabib sambil minta maaf, “Beberapa serangga terbang mengelilingi mataku, aku marah dan mencoba menghalau, tapi kurang terampil sehingga terkena Sima.”
“Tidak! Aku yang ceroboh menyenggol kekuatan dewa. Mohon jangan marah atas pelanggaran ini,” ia meringis.
“Aku yang salah, aku yang salah,” kata Raja Dewa.
Tabib segera datang, membalut luka Sima secara sederhana, lalu mengambil jari yang terjatuh, mengajukan izin dan membawanya ke tempat lain untuk penanganan lebih lanjut.
Setelah mengantar mereka keluar, Raja Dewa berbalik bertanya, “Sudah sampai mana? Tak ada hasil yang dicatat, bagaimana kalau kita kirim perwakilan lain untuk mengulanginya?”
Ucapan itu membuat para bangsawan yang telah berkeringat dingin serempak berkata, “Hasil sudah ada, Sima kalah.”
“Oh? Benarkah? Kalian yakin?”
Raja Dewa berpura-pura meragukan, tapi semua tahu maksudnya.
Adegan tadi, para pegawai sipil tak mampu melihat jelas gerakan Raja Dewa, hanya merasakan gelombang kekuatan dewa yang membahana keluar aula. Yang tubuhnya lemah pingsan karena terpukul oleh gelombang itu, yang kuat pun nyaris terjatuh. Para petugas militer yang hadir mengagumi kehebatan Raja Dewa, karena hanya sedikit dari mereka yang benar-benar melihat gerakan itu. Mereka menangkap bagaimana Raja Dewa dengan anggun mengulurkan tangan kanan, dan dalam sekejap tekanan itu memutuskan jari-jari Sima. Yang lebih mengejutkan adalah kekuatan luar biasa Raja Dewa; hanya mematahkan jari tanpa menghancurkan, bahkan tak setetes darah pun mengenai Pangeran Ping.
“Raja Dewa perkasa! Harimau Putih perkasa!” seru para petugas militer memimpin sorak sorai, sementara para bangsawan tunduk bersujud.
“Kalau semua tak keberatan, keputusan ini berlaku,” kata Raja Dewa sambil duduk kembali di singgasana, suasana hatinya sedikit membaik. “Pangeran Ping, semua urusan aku serahkan padamu. Jika tak ada lagi, kalian semua boleh membubarkan diri.”