Bab 37: Menusuk Tepat di Titik yang Paling Menyakitkan
Halaman (1/3)
Ruang rapat Departemen Perencanaan Grup Ming
Pukul sepuluh pagi, rapat yang dipimpin Su Qian berlangsung lancar. Sebagai mitra kerja sama untuk produk baru, Ming Chengze juga diundang untuk menghadirinya.
“Sabtu ini kita akan mengadakan pelelangan karya Tuan Ming Chengze. Video promosi pelelangan tersebut akan kami unggah melalui akun resmi Grup Ming.”
Su Qian berdiri di sisi kanan depan layar proyektor, sehingga semua orang yang duduk mengelilingi meja rapat berbentuk oval dapat melihat isi tayangan itu.
Tak lama kemudian, asisten Su Qian menyalakan video presentasi. Sebuah video yang menampilkan Ming Chengze bersama lukisan-lukisannya pun muncul di hadapan semua orang.
Isi video itu sangat berkaitan dengan kegiatan amal. Dari gayanya saja, jelas terlihat bahwa video tersebut merupakan iklan layanan masyarakat yang dibuat oleh sutradara profesional.
Setelah video selesai diputar, Pei Ming, yang duduk di posisi pertama sebelah kiri, menatap Su Qian dan berkata, “Video ini dibuat dengan sangat baik. Tuan Fu benar, penilaian Nona Su memang luar biasa.”
“Andaikan saya tidak punya kemampuan, saya juga tidak akan berani mengundang Tuan Pei untuk menghadiri rapat hari ini.”
Fu Baiqing duduk berseberangan secara diagonal dengan Pei Ming. Di sebelahnya duduk pula manajer umum Departemen Penjualan Grup Ming.
Su Qian dapat mendengar bahwa Pei Ming telah menyetujui rencananya. Ia tersenyum lebar dan berkata, “Mendapat pengakuan dari Tuan Pei dan Tuan Fu tentu berarti usaha kami di Departemen Dua tidak sia-sia.”
“Tapi saya sendiri tidak benar-benar terkenal. Apakah pelelangan ini bisa berhasil?” Ming Chengze cukup menyadari kemampuannya sendiri. Pada saat genting seperti ini, ia mulai ingin mundur.
Jika pelelangan itu berlangsung sepi, ia pasti akan menjadi bahan tertawaan teman-temannya.
“Nona Su berencana menyiarkannya secara langsung. Apa kau sebegitu tidak percaya pada lukisanmu sendiri?” Fu Baiqing menggoda Ming Chengze. Sebagai sepupu Ming Chengze, sikapnya terhadap pemuda itu sangat santai.
“Sedikit gugup,” jawab Ming Chengze dengan jujur.
“Karena Tuan Pei sudah memilih rencana ini, dia tentu tidak akan membiarkan pelelanganmu berlangsung tanpa peminat.” Setelah berkata demikian, Fu Baiqing tersenyum penuh makna.
“Pelelangan amal memungkinkan para pelaku bisnis memberikan sumbangan sekaligus meningkatkan citra mereka di mata masyarakat. Terlebih lagi, sekarang Grup Pei dan Grup Ming bekerja sama,” lanjut manajer umum Departemen Penjualan, mengikuti perkataan Fu Baiqing.
Su Qian tersenyum lalu duduk di kursinya. Ia menatap Ming Chengze dengan lembut dan berkata, “Nantinya, bukan hanya lukisan Tuan Muda Ming yang terjual. Dana yang terkumpul juga dapat disalurkan ke daerah-daerah pegunungan miskin, digunakan untuk menanam hutan pelindung di wilayah barat laut, dan sebagainya. Para pengusaha pun akan membangun citra positif mereka. Sekali jalan, tiga manfaat diperoleh.”
Mendengar penjelasan mereka, Ming Chengze mengangguk mantap. “Baiklah. Sabtu ini saya akan hadir tepat waktu di pelelangan karya saya.”
Pei Ming menoleh kepada Ming Chengze yang duduk di sampingnya. “Chengze, untuk kerja sama selanjutnya, kau akan tetap berkoordinasi dengan orang-orang Nona Su. Kau hanya perlu bekerja sama dengannya dengan baik.”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
“Baik, Kakak Ipar.”
Ming Chengze sengaja memanggil Pei Ming dengan sebutan Kakak Ipar. Di wilayah keluarga Ming, ia masih tahu cara bermain siasat.
“Ini kantor. Perhatikan ucapanmu.”
Pei Ming merendahkan suaranya, berpura-pura sedang menegur Ming Chengze agar memahami ucapan yang pantas disampaikan sesuai situasi.
Ming Chengze pun berpura-pura menerima teguran itu. Ia segera tersenyum canggung dan berkata, “Maaf, maaf… Tuan Pei, saya sudah terbiasa memanggil Anda begitu.”
Di depan semua orang, Ming Chengze benar-benar menunjukkan rasa hormat yang cukup kepada Pei Ming di wilayah keluarga Ming. Hal itu juga membuat semua orang semakin yakin bahwa kini Pei Minglah yang memegang kendali dalam keluarga Ming.
Fu Baiqing memperhatikan semuanya. Ia tidak menyangka bahwa sebagai putra keluarga Ming, Ming Chengze ternyata cukup patuh terhadap didikan Pei Ming.
Bukan hanya sikap Ming Chengze terhadap Pei Ming barusan. Selama ini, Ming Chengze juga selalu mengikuti perkataan Pei Ming untuk meningkatkan popularitasnya. Bahkan kini, penjualan karya-karyanya pun dilakukan sesuai pengaturan Pei Ming.
Bukankah menurut rumor, Ming Chengze selalu sangat berkepribadian, tidak suka dikekang, dan merupakan putra yang bahkan tidak mampu dikendalikan Ming Hui?
Area kerja Departemen Perencanaan
Karena proyek besar ini tidak berhasil didapatkan oleh Departemen Perencanaan Satu, proyek-proyek kecil terkait pembaruan produk lain di perusahaan secara alami dibagikan kepada departemen tersebut.
Di meja kerjanya, Ming Weiyi sedang mencetak rincian produk. Namun, kertas di mesin pencetak tiba-tiba habis. Ia menoleh ke dua mesin pencetak lainnya, tetapi persediaan kertas di bawahnya juga tinggal sedikit.
Dengan demikian, orang terpilih yang harus pergi ke ruang penyimpanan Departemen Perencanaan untuk mengangkut kertas pencetak hari ini adalah dirinya.
Ruang rapat Departemen Perencanaan
Rapat telah berlangsung lebih dari satu jam. Ming Chengze benar-benar mulai mengantuk. Dengan alasan hendak ke toilet, ia meninggalkan ruang rapat.
Ini adalah pertama kalinya Ming Chengze datang ke Departemen Perencanaan Grup Ming. Ia cukup penasaran dengan tata letak lantai tersebut. Yang paling penting, ia sedang berpikir apakah mungkin ia akan berpapasan dengan Ming Weiyi di sini.
“Mau apa kau datang ke sini?”
Sebelum Ming Chengze sempat berjalan lebih jauh, suara yang sudah dikenalnya sehari-hari terdengar dari belakang.
Karena tidak ada siapa pun di sekitar mereka, Ming Chengze berbalik dengan wajah terkejut. Namun, ia merendahkan suaranya. “Astaga! Aku cuma berjalan-jalan sembarangan, tapi ternyata benar-benar bertemu denganmu!”
Ming Weiyi segera menarik Ming Chengze ke pintu darurat. Saat jam kerja, tidak akan ada orang yang datang ke tempat ini.
“Kau belum menjawab pertanyaanku. Untuk apa kau datang ke perusahaan?” tanya Ming Weiyi dengan suara lirih.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Meskipun tidak ada siapa pun, Ming Weiyi tetap bergerak diam-diam seperti pencuri.
“Hari ini orang-orang Departemen Dua Perencanaan mengadakan rapat perkembangan proyek. Sebagai mitra kerja sama, aku diundang oleh Direktur Su.”
“Oh, akhirnya Tuan Muda Ming bersedia juga menginjakkan kaki di Grup Ming?” Setelah mengetahui bahwa Ming Chengze datang untuk urusan resmi, Ming Weiyi tetap tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menggodanya.
“Sabtu ini adalah pelelangan karya-karyaku. Aku dengar rencanamu sudah ditolak mentah-mentah oleh Pei Ming, tetapi kau tetap akan datang ke lokasi, bukan?”
Ming Weiyi menunjuk Ming Chengze dengan wajah penuh kejengkelan. “Kau benar-benar tahu cara menusuk tepat di bagian yang paling menyakitkan.”
“Setiap kali mengingat Pei Ming menolakmu tanpa ragu, aku ingin sekali tertawa. Ternyata kemampuanmu memang tidak seberapa.” Sambil berkata demikian, Ming Chengze benar-benar tertawa.
Ming Weiyi tidak banyak bicara. Ia mengangkat tangan lalu mencubit lengan Ming Chengze. “Kau ingin mati, ya? Ming Chengze!”
“Hei… serius, kau pernah memakinya diam-diam atau tidak?” Ming Chengze sungguh ingin mengorek kejadian lucu itu.
“Aku punya hak apa untuk memakinya? Aku sendiri yang kalah dalam kemampuan. Selain menerimanya, apa lagi yang bisa kulakukan?”
“Selain karena kemampuanmu memang tidak sebanding, kurasa Pei Ming sengaja ingin memberitahumu bahwa tanggung jawabmu di Grup Ming masih panjang dan berat.”
“Kau bahkan bisa melihat sampai sejauh itu? Kurasa kau tidak sebodoh yang kukira.” Ming Weiyi tersenyum. Tatapan matanya kepada Ming Chengze mengandung sedikit pengakuan.
“Sabtu ini kau harus datang ke pelelanganku. Bagaimanapun, sebagai orang Departemen Perencanaan, kau pasti akan ditugaskan mengangkat kursi dan mengelap meja, bukan?”
Nada bicara Ming Chengze begitu menyebalkan hingga Ming Weiyi tidak tahan untuk memutar bola mata.
“Cepat pergi. Aku harus kembali bekerja.”
Setelah berkata demikian, Ming Weiyi lebih dulu mengintip keadaan di luar pintu darurat. Tak lama kemudian, ia menyelinap diam-diam menuju ruang penyimpanan.
Halaman (3/3)