Karya terbaru Ya Tou, "Keanggunan Tiada Tara Sang Srikandi", mengisahkan seorang CEO cantik yang, dalam suatu perjalanan wisata, terjatuh ke laut dan terseret masuk ke lorong waktu, terlempar ke sebuah dinasti fiktif. Jiwanya merasuki tubuh seorang perempuan yang tengah mengenakan pakaian tahanan, dan terbangun di tengah goncangan kerangkeng besi. Sejak saat itu, bermulalah kehidupannya sebagai pelayan kesayangan di barak militer... Saksikanlah bagaimana seorang perempuan tangguh dari dunia modern memerintah dan menaklukkan jagat raya!
“Selanjutnya, Yan Xiaoxiao!”
“Hadir!” Yan Xiaoxiao begitu gugup hingga kakinya bergetar tanpa henti. Ia merapikan rok yang dikenakannya, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah masuk ke ruang wawancara.
Di hadapannya duduk seorang pria paruh baya, berkacamata bingkai hitam, tanpa ekspresi menatap Yan Xiaoxiao yang berdiri di depannya. Ia membenahi kacamatanya, lalu bertanya, “Kamu masih mahasiswa?”
Yan Xiaoxiao tertawa canggung dan menjawab, “Bukan, saya baru saja lulus dari universitas.”
Pria paruh baya itu memandang Yan Xiaoxiao seolah ingin menelanjangi seluruh dirinya; tatapan matanya menelusuri tubuh Yan Xiaoxiao, membuatnya amat tidak nyaman, seakan tubuhnya ditusuk ribuan jarum.
“Dut...dut...dut!”
Telepon di atas meja memecah suasana tegang itu. Pria paruh baya tersebut mengangkat gagang telepon, awalnya berbicara dengan nada resmi, namun tak lama kemudian sikapnya berubah drastis: wajahnya penuh dengan senyum menjilat, menunduk berkali-kali, mengucapkan “ya, ya, ya” tanpa henti, sangat berbeda dari sebelumnya. Yan Xiaoxiao berdiri di samping, hati dipenuhi rasa kesal; ia berpikir, “Ah, paman ini seharusnya jadi aktor saja, bakatnya pasti bisa meraih Oscar.”
Akhirnya, telepon itu ditutup dan Yan Xiaoxiao bisa bernapas lega. Namun, ketenangan itu segera tergantikan kegelisahan baru. Pria itu kembali berwajah datar, berkata dingin, “Yan Xiaoxiao, kamu diterima. Sekarang, ikuti saya ke lantai 33.”
Diterima? Yan Xiaoxiao tak percaya pada telinganya sendiri, berdiri terpaku di tempat, dalam hati berkata, “Diterima? Wah